Tuesday, February 5, 2008

Gadis Jepang & Soto Banjar


Unik memang judul blog tersebut. Karena secara geografis keberadaan masing-masing obyek judul saya tersebut sangat jauh. Inspirasi judul tersebut datang ketika penyakit insomnia saya lagi beraksi. Tentunya bukan tanpa alasan atau judul imajinatif, melainkan life track record baru yang saya dapatkan. Hal itu saya dapatkan ketika saya mengikuti hari pertama agenda language course saya di salah satu PTS di Yogya.


Ketika sedang menunggu kelas dimulai di depan ruangan yang akan saya tempati, tiba-tiba seorang perempuan Jepang datang dan duduk di bangku dimana saya sedang duduk, artinya kami duduk berdekatan. Dan ternyata kami mempunyai level atau ruangan yang sama hasil placement test yang telah kami lakukan beberapa hari yang lalu (pada posting blog sebelumnya). Merupakan sebuah tantangan dan mengasyikkan mungkin jika saya menyapa dia. Yang mana bagi sebagian orang merupakan suatu hal yang akan sangat memacu adrenaline mereka untuk menyapa lebih dulu..hehe..Untungnya I like the this challenge, why I don’t try.


Setelah menyapa dan saling berkenalan, saya tahu namanya, kemudian dia minta saya menebak darimana dia berasal, dari logat dan parasnya tentu dengan mudah mengetahuinya, yaitu dia berasal dari Jepang. Namun ketika saya mengatakan saya berasal dari Pulau Kalimantan, sontak dia langsung terkejut, karena ternyata dia sudah pernah berwisata ke sana, bahkan sudah hampir ke semua propinsi atau kota di Pulau Kalimantan, di antaranya Banjarmasin, Pontianak, Balikpapan, dan Samarinda.


Akhirnya konversasi kami hanya membahas agenda wisatanya sewaktu di Pulau Kalimantan. Kemudian saya bertanya apakah dia juga pergi ke “Pasar Terapung” di Banjarmasin, dan ternyata dia pun juga ke sana. Yang mana mungkin kebanyakan orang sudah tahu walau hanya sedikit mengenai keadaan pasar tersebut. Sering dijadikan RCTI sebagai pengisi jeda antara satu program ke program berikutnya. Tentunya untuk menampilkan jargon “oke” mereka (RCTI oke..hehe..).


Pasar Terapung ialah sebuah pasar dimana para pelaku perdagangan (penjual-pembeli) berada di perahu di atas sungai. Bayangkan..betapa sibuk dan aktifnya mereka di atas perahu hanya untuk melakukan perdagangan, sementara masyarakat urban sangat menikmati berbelanja di supermarket ataupun mall yang bersih dan menyenangkan, dan dihibur dengan alunan musik klasik. Tapi itulah seni dan merupakan satu produk kebudayaan masyarakat di sana yang sampai saat ini masih terpelihara keberadaanya. Adapun waktu operasi pasar tersebut hanya pada waktu subuh hingga pagi menjelang siang.

Satu hal yang membuat saya tertawa melihatnya ketika dia mengingat wisata kulinernya di Banjarmasin. Terlihat dari cara berbicara dan mengekpresikannya ketika mengingat masakan khas Kalimantan Selatan, yaitu Soto Banjar. Seandainya saja nenek moyangnya dulu juga mencicipi Soto Banjar, pasti tidak akan ada yang namanya penjajahan di Indonesia oleh Jepang. Yang ada hanya acara Pak Bondan dari Jepang dalam acara Wisata Kuliner dan disiarkan di stasiun tv kerjasama pemerintah RI dan Jepang pada masa itu, kan asyik tuh nyam-nyam..hehe…Let's we cook and consume it together..


Peace, Love, & Respect for you Noe, It’s just a little bit joke of me..hehe..Semoga semakin lancar Bahasa Indonesianya…

Monday, January 28, 2008

“That is interesting for me..So please tell me about Kotabaru”


Pernyataan dan kalimat perintah tersebut merupakan salah satu dari banyak kalimat yang keluar dari mulut dosen yang mewawancarai saya dalam sebuah wawancara placement test yang saya ikuti. Sebenarnya apa yang susahnya untuk mendeskripsikan kota kecil dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Tapi kenyataannya,hal yang cukup susah bagi saya untuk melakukannya. Disamping dikarenakan memang mulut yang sudah sangat jarang untuk berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut, ditambah dengan kebingungan saya untuk mendapatkan topik ataupun tema tertentu yang bisa membuat dosen tersebut semakin tertarik akan Kotabaru.

Tentunya bukan sebuah jawaban yang menarik jika saya harus mendeskripsikan tentang letak geografisnya, bahwa kabupaten Kotabaru terpisah dengan pulau Kalimantan, sementara di dinding dekat beliau ada sebuah peta besar Indonesia dimana sudah jelas terlihat (mencolok) disitu letak terpisahnya Kabupaten Kotabaru. Atau lebih spesifik lagi dengan jawaban geografi matematika tentang lintang dan bujur geografinya, sedangkan saya juga tidak tahu akan hal itu.

Tentunya hal yang menarik untuk menjelaskan tentang sumber daya alam, wisata alam, infrastruktur , serta masyarakatnya, sehingga menimbulkan hasrat bagi beliau untuk berwisata ke Kotabaru. Tapi apakah harus mendeskripsikan tentang kekayaan Kotabaru akan SDA khususnya batubara dan hutannya, sementara batubara dan hutannya sudah semakin habis oleh banyaknya ekploitasi illegal. Tentang hasil laut yang melimpah sementara nelayan Kotabaru sudah kesusahan dalam mencari nafkah di sana. Tentang wisata alam khususnya pantai dan lautnya sementara pantai dan laut tidak terurus dan penuh akan sampah , baik sampah rumah tangga maupun sampah industry. Atau tentang infrastrukturnya, sementara jalan dan jembatan banyak yang rusak, sehingga apabila melakukan perjalanan dengan angkutan darat dari Banjarmasin ke Kotabaru mengutip dari perkataan salah satu guru senior saya “capeknya tidak akan hilang hanya dalam dua hari setelah perjalanan tersebut”..Hmm..Kesimpulannya, deskripsi-deskripsi tersebut hanya akan saya paparkan jika kami berada dalam sebuah wawancara tahun 90-an ke bawah. Akhirnya, saya lebih mendeskripsikan tentang perbedaan pendidikan di Yogyakarta dengan Kotabaru (itupun juga perttanyaan beliau). Bukan mencari siapa yang unggul memang, tapi itulah adanya.

“So, Does it mean Kotabaru is lack of human resources?” Beliau melanjutkan pertanyaanya.

Saya rasa tidak begitu. Ini hanya masalah komitmen, kesungguhan, dan respons system pemerintahan dalam membangun SDM masyarakat, tentunya dominan berbicara masalah pendidikan. Sepengetahuan saya human capital dari masyarakat Kotabaru tidak kalah bersaing dengan human capital dengan daerah lain, toh sudah ada buktinya.


Tetapi berbicara masalah komitmen dan kesungguhan, mungkin tidak berbeda dengan daerah lain untuk alokasi anggaran pendidikan masih jauh dari 20% dari APBD, sehingga sekolah-sekolah masih sulit untuk menambah fasilitas-fasilitas penunjang untuk proses belajar mengajar. Tidak heran siswa-siswi Kotabaru masih sangat banyak yang gagap teknologi khususnya internet. Kecuali jika mereka secara swadaya dan swadana untuk merental atau mengikuti kursus yang sampai saat ini masih sangat mahal di Kotabaru. Bagi saya pribadi merupakan pencapaian yang patut diacungi jempol bagi pejabat yang bersangkutan jika di Kotabaru ada Internet Centre yang dikhususkan bagi siswa-siswi secara gratis dengan system dan aturan tertentu.

Kemudian jika berbicara masalah respons system pemerintah Kotabaru terhadap dunia pendidikan jika diukur dengan skala 10, sepertinya masih sekitar kurang lebih 6. Minimnya respons (muluk jika berbicara masalah reward) pemerintah terhadap SDM-SDM yang berkompeten dengan bidangnya masing-masing akan mengakibatkan SDM-SDM keluar secara geografis dari Kotabaru. Bukan berbicara masalah materialitas (walaupun tidak bisa dielakkan), tetapi tentunya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula idealisme dan visi yang dicita-citakan olehnya untuk kemajuan Kotabaru. Sehingga sudah barang tentu system pemerintahan harus bersifat responsif akan hal itu.


But, somehow, I do love my hometown...
Wanna know more about my hometown: http://www.kotabarukab.go.id

Tuesday, January 8, 2008

Visit Indonesia 2008

"Visit Indonesia 2008"

Kalimat itu pertama kali saya baca di sekitaran bundaran HI Jakarta pada waktu agenda jalan-jalan saya ke Jakarta dan sekitarnya. Kalimat itu terpampang begitu mencolok, so besar kemungkinan setiap orang melihatnya jika melintas di daerah tersebut. Sebagai warga negara Indonesia, saya bangga pemerintah mempunyai program dan target kesana.

Tidak berapa lama, di siaran televisi saya kembali melihat kalimat tersebut, yaitu dengan objek promosi propinsi Sumatra Utara kalau tidak keliru. Kemudian ditambah acara live music dari Sungai Musi tentunya promosi pariwisata Sumatera Selatan dong. Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, propinsi Kalimantan Selatan bagaimana ya? Udah siap apa belum? Kemudian bagaimana ya dengan propinsi-propinsi lain yang sampai saat ini dilanda musibah berat?

Untuk men-
support program tersebut katanya pemerintah sudah membuat website dengan dana 17,5 milyar yang bersumber dari APBN. Bener tuh? Uang semua? dua pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang sering dipakai orang (khususnya para remaja) ketika mereka merasa takjub dengan jumlah nominal uang tertentu. Begitu beragam komentar internet users terhadap hal tersebut, baik terhadap konten websitenya sendiri maupun dana pembuatan website tersebut. Ada yang biasa saja, salut terhadap pemerintah dengan programnya, ataupun salut terhadap besarnya dana yang terabsorpsi untuk pembuatan web tersebut (untuk tidak mengatakan perasaan aneh dan curiga mereka terhadap dana tersebut).

Tapi saya pribadi merasa pesimis terhadap kemampuan kita (Indonesia) dalam menjamu turis-turis asing. Hal tersebut saya rasakan ketika saya membeli tiket dan menikmati fasilitas-fasilitas pada beberapa spot tujuan wisata di Jakarta kemarin ataupun di kota-kota lain. Dimana saya tidak merasakan keramahan dan perlakuan yang setidaknya tidak membuat saya mengernyitkan dahi atas pelayanan dari petugas penjual tiket ataupun petugas teknisnya. Atau apakah hal itu akan berubah 180 derajat jika yang mereka hadapi ialah memang wisatawan asing yang dalam kantong atau dompet mereka full of dollars and credit cards, entahlah..hehe...

But hopefully it will be success, dengan target 7 juta wisatawan asing. By the way sudah 2008, tapi sampai saat ini masih belum banyak menemukan target-target hidup di masa yang akan datang, setidaknya membuat hidup lebih indah dengan tantangan-tantangannya..hehe.. Setelah melewati 2007 yang begitu melelahkan. Tenaga dan pikiran benar-benar tercurah di tahun tersebut. There were a lot of problems and things that made me should be a patient man. Yah namanya juga hidup, artinya tuhan masih memperhatikan kita..hehe..Bye..

Friday, December 21, 2007

Bioskop Sekolah

Dalam beberapa hari ini, masih dalam suasana santai liburan, waktu buat dekat dengan kasur dan televisi sungguh banyak tentunya. Even i am not person who loves sleeping, but i have been enjoying it. hehe..

Berbicara mengenai televisi, ada yang begitu menarik perhatian saya. Beberapa hari ini aktor Denias yaitu Albert Fakdawer begitu sering muncul. Kemunculannya ialah dalam iklan pemerintah mengenai Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN). NISN ialah adalah kode pengenal siswa yang bersifat unik dan membedakan satu siswa dengan siswa lainnya. Sedangkan NPSN ialah kode pengenal sekolah yang bersifat unik dan membedakan satu sekolah dengan sekolah lainnya. Baik NISN maupun NPSN masing-masing memiliki prosedur yang telah ditetapkan pemerintah, jadi tidak bisa asal buat kode seperti buat nama email atau friendster..hehe..

Film "Denias" yang diangkat dari kisah nyata, membuat saya sering tertawa menontonnya, karena memang banyak adegan -adegan yang lucu di dalamnya. Film ini juga edukatif, inspiratif, dan motivatif. Banyak pelajaran yang bisa diambil, misalnya nasionalisme, kerja keras, dan pantang menyerah, tentunya masih banyak lagi.. Tidak salah jika film ini banyak mendapat penghargaan.

Disamping itu, film "Nagabonar Jadi Dua" juga patut diacungi jempol. Film yang disutradarai dan diperankan oleh aktor senior Dedi Mizwar ini juga berbicara masalah nasionalisme. Tidak berbeda dalam hal kualitas dengan Denias, film ini edukatif, inspiratif, dan menumbuhkan rasa nasionalisme itu sendiri. Tentunya juga banyak penghargaan yang diraih, baik film itu sendiri maupun bagi para aktornya.

Dalam pembuatan film tersebut tentunya pesan-pesan yang terkandung di dalamnya ingin disampaikan kepada para penonton maupun masyarakat keseluruhan (generasi muda khususnya) . Pertanyaannya, sudah seberapa jauhkah film itu ditonton dan pesan-pesan yang terkandung dalam film tersebut dimengerti sehingga menjadi inspirasi bagi para penontonnya?
Beruntunglah bagi individu-individu yang tinggal di daerah di mana sarana untuk akses terhadap film tersebut mudah. Dalam hal ini kita berbicara mengenai ketersediaan bioskop ataupun tempat rental film-film (walaupun harus menunggu lumayan lama untuk ketersediaan VCD Originalnya). Tapi bagaimana dengan daerah yang tidak tersedia akan sarana-sarana di atas..?

Bagi saya pribadi merupakan hal yang hebat ketika setiap sekolah di Indonesia mengadakan pemutaran film tersebut yang ditonton oleh semua civitas akademik (murid, guru, dll) atau bisa disebut bioskop di sekolah. Dalam hal ini pemerintah daerah setempat membagikan VCD film secara gratis, satu sekolah satu. We are not talking about financial, APBD tidak akan terganggu sedikit pun kok..hehe...Adapun jika pemda setempat tidak ada keinginan ke arah sana, sepertinya inisiatif para guru sendiri untuk hal itu patut diberikan two thumbs up.

Ada banyak manfaat yang diperoleh, di antaranya :
  • Pesan film tersebut sampai ke penonton potensial (generasi pelajar), sehingga terbentuknya pelajar Indonesia yang di samping pintar atau cerdas, juga cinta terhadap tanah air. Kecintaannya terhadap tanah air, sedikit banyak pasti tidak akan mengikuti perilaku negatif generasi di atasnya, korupsi contohnya.
  • Hubungan emosinal antara guru dan murid akan lebih tumbuh dengan terciptanya suasana kekeluargaan ketika menonton, walau guru-guru sudah menonton ataupun malas nonton, pura-pura nonton lah..hehe...
  • Beban para murid akan pelajaran akan berkurang, karena menonton ialah hiburan.
  • Murid-murid akan lebih mencintai sekolah mereka. Mereka pasti tidak akan pernah melupakan momen ini kelak.
Sedikit informasi, sepertinya hal ini telah dilakukan oleh Ponpes Darussalam Gontor. Saya mengetahuinya ketika berbincang-bincang dengan salah satu murid di situ.

(Tulisan ini dibuat saat Yogyakarta tidak dalam keadaan hujan, tetapi cuaca yang lumayan dingin..Hmm...)




Wednesday, December 19, 2007

1,5 tahun di Kampus Diploma...


"Huh...akhirnya selesai juga..." (bukan Akhirnya Datang Juga, nanti dimarahin Trans TV..hehe.)

Kalimat itu keluar sehabis saya submit berkas yang diperlukan untuk wisuda di bagian akademik kampus. Setelah seharian berputar sekitaran UGM untuk mengumpulkan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk wisuda nanti.

Syarat-syarat yang saya maksud ialah: Surat Keterangan Bebas Pinjam Buku (level kampus, Fakultas, dan Perpus Pusat), Bebas Penggunaan Lab. Komputer (level kampus), Bebas Penggunaan alat-alat (mengurus di Gedung Pusat), dll. Pertanyaannya, kenapa semua itu harus diurus oleh masing-masing mahasiswa , padahal tentunya lebih mudah jika itu dilakukan oleh pihak akademik sendiri dengan langsung menghubungi ke unit-unit yang bersangkutan secara kolektif. Apalagi apa susahnya jika itu dalam satu gedung, dan tinggal minta daftar keterangannnya (contoh: Surat Bebas Keterangan Pinjam Buku di Perpus & Bebas Penggunaan Komputer di Lab. Kom), walaupun semua itu ada sedikit tambahan biaya administrasi (kalo di total banyak juga), kan bisa langsung ditambah dengan biaya wisuda. Saya pribadi merasa aneh juga, hanya untuk menerbitkan satu lembar surat keterangan harus membayar sejumlah rupiah yang tidak proposional dengan cost fisik (kertas+printing+stempel, tenaga kerja) surat keterangan tersebut. Alasan di atas bukan mencerminkan malas untuk mengurus atau pelit untuk membayar biaya administrasi, tapi tidak lebih hanya merupakan pertanyaan besar pada diri saya mengenai apa yang seharusnya.

Adapun untuk mengikuti wisuda diwajibkan harus mengikuti dan dinyatakan lulus ujian kompre dulu. Alhamdulillah pada tanggal 15 Desember 2007 akhirnya lulus juga setelah satu minggu refresh bahan, walaupun ada beberapa teman yang belum lulus. Kasihan juga, tapi mau bagaimana lagi.

Suasana saat itu memang tegang, banyak juga teman-teman yang pesimis, serius, de el el deh. campur jadi satu. Tapi bagi saya sih santai saja, yang penting sudah berusaha, keputusan tinggal menunggu (hehe..sok tenang, padahal risau juga kalo tidak lulus..). Dress Code hari itu hitam putih, artinya warna pucat dan berkabung..hehe...tergantung penafsiran orang lah ya..Putih kan juga warna yang suci.

Hmm..Kurang lebih satu bulan waktu kosong untuk menunggu ujian ekstensi S1 UGM, hari-hari dihabiskan untuk hobi lama yang selama ini dilupakan, yaitu main band..hehe..Memang ada juga rencana acara study tour (bahasa halusnya jalan-jalan..hehe) bersama teman-teman lain, tapi masih sebatas planning, melihat keadaan.





Friday, December 14, 2007

Naik Kuda


Minggu 9 Desember 2007, schedule pergi jalan-jalan keliling Yogya. Even kita hanya jalan ke Kotagede untuk windowshopping ke kerajinann perak. Memang sebelumnya saya sudah pernah ke sana bersama my beloved mother beberapa bulan yang lalu ketika beliau mampir ke Yogya.

Tapi ternyata sebelum berangkat tiba-tiba terlintas pikiran kenapa tidak langsung ke Pantai Parang Tritis sekalian, lagipula belum pernah kesana sebelumnya, dan tentunya kesana mau berenang. Kebetulan sudah membawa barang-barang kebutuhan renang (boxer + handuk+sabun) so, why not. Dikatakan kebetulan karena memang Sabtu malam itu rencana mau renang (aktifitas sering di malam Minggu klo tidak ada konser band favorit) tapi canceled dan langsung aja menginap di tempat teman. Sehabis mandi langsung check out..brem..brem...

Sesudah sampai ke Kotagede langsung lanjut ke Parang Tritis. Sesampai di Paris santai dulu naik kuda dan makan jagung bakar. Sehabis makan dan nunggang kuda langsung ganti baju dan celana buat renang. Eh baru aja mau berenang ada kejadian orang yang hanyut dibawa ombak. Untungnya para baywatcher (bahasa kerennya..hehehe) mampu menolongnya, walaupun menurut pandangan saya agak lambat dan kurang profesional. Korban tidak langsung dibawa ke RS terdekat dan hanya diletakkan di pinggir pantai dengan sekedar di urut-urut pada bagian perut dan leher.

Satu hal yang lucu bagi saya sewaktu melihat korban, yaitu ternyata korban menggunakan celana jeans dan t-shirt ketika berenang. Mau kasih tahu saya nggak, itu trend berenang di mana ya..?? hehehe...But it had been happening..Finally, tidak tahu bagaimana akhirnya itu korban, sepertinya sih survive aja.

Terpaksa rencana berenang gagal lagi..aduh...Lagi pula t-shirt yang saya pakai buat renang berwarna hijau...Yah tahulah mitosnya..Lebih baik bermain aman..hehehe...

Anyway keinginan renang belum tercapai, padahal besok kompre lagi, trus malamnya ada konser Cokelat di Lapangan TVRI Yogya..Sepertinya bakalan nonton nih, ini band favorit ane...
Tapi di Trans TV juga ada Konser Gigi dll dalam acara ultahnya Trans TV..Yah Renang batal, Nonton Gigi di tv batal, itu demi Coklat..hehe..Giliran Gigi nanti tanggal 11 Januari 2008 deh di Mandala Krida, konser akbar 30 lagu, gokiiiiiillllll....Ready for the jump...

Tapi sedikit lupa, ujian kompre besok harus sukses..dan malamnya celebration in concert...
Bye...Peace, Luv & Respect..

Saturday, December 1, 2007

Untung Ada Asuransi


Minggu ini sungguh minggu yang melelahkan. Sudah dalam tujuh hari ini harus bolak-balik ke dealer, kantor asuransi, dan kepolisian (polsek, polres, dan polda). Mungkin sudah bisa ditebak ada apakah gerangan.

Pada malam minggu pukul 20.30 WIB, tepatnya tanggal 24 November 2007 saya kehilangan sepeda motor saya. Sehabis latihan fitnes pukul 18.15 WIB saya parkir sepeda di gang kos dengan keadaan stang terkunci. Eh ternyata, setelah mau cari makan sekitar jam 20.30, saya tidak menemui SM saya lagi di situ. Dan ternyata warga juga melihat kejadiannya, bahwa ada seseorang yang tergesa-gesa menyalakan sepeda motor dan langsung membawanya ngebut.


Sewaktu kehilangan,like common people, pastinya kaget. Saya coba mencari dengan dibantu teman -teman kos dengan menggunakan sepeda motor mengelilingi sekitaran kampung kos saya, but the result was nothing....
Beberapa cara sudah saya tempuh, baik lapor polisi maupun metode alternatif, yaitu bertanya kepada orang pintar di Kab. Bantul. Memang saya bisa lihat wajah orang yang mencurinya pada dasar gelas yang diisi dengan air teh, tapi saya tidak mengenalnya...huh..

Finally, saya lebih memilih mengandalkan asuransi. Konsekuensi logisnya saya harus mengurus surat-surat yang dibutuhkan oleh pihak asuransi pada kepolisian. Tentunya lelah dan harus bolos kuliah beberapa kali, but it's ok, urgent.
Saya yakin semua atas kehendak-Nya dan pasti ada maksud, tujuan, dan hikmah di dalamnya. Beberapa sudah saya temukan, dan pastinya masih banyak lagi yang masih tersimpan. Saya bersyukur Allah mengambil harta titipannya dengan cara seperti ini, dibandingkan saya harus tergeletak di rumah sakit karena kecelakaan, sakit parah, ataupun musibah lainnya. It is not about lossing, it is about learning, bersyukur, dan tahap pendewasaan. Tapi mudah-mudahan jangan kehilangan lagi...hehe.. Susah dalam hal pengurusan birokrasinya, ya seperti itulah, but i have been knowing it.

"Setiap orang tahu, untuk mendapatkan sesuatu yang berharga memang harus dibayar dengan usaha, pengorbanan, dan doa."