Monday, April 13, 2009

Impian Dari Tepi Laut


Keindahan-keindahan yang belum datang itu seakan sirna. Seolah tidak akan pernah datang. Seolah semua telah jelas terlihat di depan sana. Apa yang akan terjadi dan keadaan seperti apa yang akan terjadi. Sepertinya akan menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Banyak orang mengatakan bahwa hidup itu ialah sebuah misteri. Tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Apa dan bagaimana itu akan terjadi, biarlah itu terjadi nantinya, dan dengan sendirinya. Dia akan memberikan sesuatu yang tidak akan pernah kau duga. Sesuatu yang sebelumnya belum kau rasa. Sesuatu yang akan membuatmu menjatuhkan air mata yang hanya sedikit itu. Entah apakah karena engkau bahagia atau memang kau terluka. Bukankah itu sebuah keindahan hidup?

Mungkin itu alasan kenapa Tuhan tidak mengizinkan sang khalifah untuk tidak meramal, memprediksi, dan meyakini sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Karena dengan itu dirimu tidak akan pernah berbahagia, was-was, takut, dan penuh pikiran atas ketakutan-ketakutan yang engkau ciptakan. Artinya, Tuhan menginginkan sang khalifah bertingkah laku yang terbaik saat-saat ini, untuk saat ini dan untuk masa depan. Biarkan Dia yang akan menguji kita dengan berbagai skenario yang Dia yakini terbaik untuk kita.

Mungkin kita boleh melakukan analisis skenario untuk menghadapi masa depan yang misterius itu. Memperhitungkan segala sesuatu yang akan terjadi pada rentang ekstrem. Kemudian memutuskan langkah selanjutnya yang terbaik. Sebuah langkah sistematis dan antisipatif. Untuk sebuah hasil, ketika kita meneteskan air mata, kita menghapusnya, dan kemudian mengatakan dengan tersenyum bahwa ini air mata kebahagiaan. Tapi, sedikit banyak tentu tidak akan sama dengan apa yang kau harapkan. Tuhan itu bijaksana.

Lagi bayangan-bayangan yang akan datang itu sepertinya akan biasa-biasa saja. Sesudah meletakkan variable pada sebuah fungsi masa depan yang akan terjadi. Hasilnya, biasa-biasa saja. Meski itu di situ terdapat kenikmatan yang indah. Analisis scenario pada rentang favorable terekstrem telah dilaksanakan. Hasilnya, ya biasa-biasa saja itu. Hal ini hanya tumbuh dari rekayasa proses pikiran yang sempit dan pendek seorang anak manusia yang menginginkan sesuatu di masa depan. Dia pikir semudah, sesederhana, dan sebiasa-biasa itu. Bodoh…!!!

Berhenti sejenak. Berpikir dan berkontemplasi lagi…


Bukankah sewaktu kecil kita ditanamkan dengan nilai-nilai indah di masa depan yang hopefully akan kita temukan. Kita memimpikannya. Untuk selalu bertingkah laku sejalan dengan impian-impian indah itu...??

Orang-orang besar menjadi besar dengan impian besar yang mereka ciptakan dan kata-kata besar yang membesarkan mereka. Impian-impian dan kata-kata besar itu mampu mengalahkan rintangan dan hambatan yang sering, susah, pelik, dan menantang itu. Meski, terkadang air mata jatuh ketika mereka merasa begitu terjatuh dan hampir menyerah. Namun, tetap bangun kembali. Sekali lagi hidup itu indah…

Impian itu tumbuh dari tepi laut di kehingan malam. Hanya dihibur oleh ombak kecil bergulung. Terkadang diterangi oleh satu bulan yang anggun dan ribuan kerlipan bintang yang jenaka. Impian itu tumbuh di pelataran kayu ulin hitam tua yang dikolongnya merupakan daratan lumpur hitam berkarang, bersampah, dan lunak. Impian itu tumbuh akan lebih jauh dari kapal tanker dan tugboat yang tertidur di tengah laut sana. Impian itu akan lebih dalam dari dalamnya laut pasang bulan desember. Impian itu akan jauh lebih mahal dari speed boat bermesin dua milik perusahaan tambang batubara terkenal yang bertambat di pelataran sebelah. Impian itu akan lebih dingin dan misterius dari angin malam, dari pekatnya laut di malam hari.

“Sudahya Ki, kita berjuang di jalan masing-masing”

Sebuah pesan pendek yang menutup percakapan tertulis jarak jauh di tengah malam. Dari saudara yang telah merubah jalan hidupnya. Dia telah jauh lebih dewasa. Untuk mewujudkan impian-impian yang tumbuh di tepi laut, di pekatnya malam, di atas lumpur hitam, di pelataran tenang kayu ulin yang dingin.

Saturday, February 7, 2009

Dia adalah seorang yang terbuang
Seorang yang tidak digubris
Seorang yang ter-ada oleh sebuah situasi
Situasi dimana dia pun tidak mau hal itu terjadi
Apakah dia mengutuk keberadaannya sendiri??
Entahlah…

Andai dia mampu
Andai dia bisa
Andai dia cukup memiliki kesempatan
Andai dia memiliki
Andai dia tahu
Dia pasti telah sedang menikmati dunia ini…
Jangankan untuk berandai atau bermimpi,
atau untuk juga akan mengalami,
Membayangkan sajapun dia tidak
Karena dia tahu, itu tidak ada dalam kehidupan ini
Pada posisi dia sebagai dirinya
Dia sadar diri, dia tahu diri!!

Aku masih menunggu di luar. Sementara aku duduk santai melihat lalu lintas orang-orang di jalanan dengan kesibukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka masing-masing, sebut saja dia itu “Dia”, juga sedang ingin mewujudkan mimpinya sendiri. Mimpi itu sungguh tinggi baginya, karena menyangkut harga diri, dan keinginan untuk memperlihatkan eksistensinya. Keinginan untuk menunjukkan bahwa dia ada, juga ada. Walaupun aku yang memaksa Dia. Dia tahu diri kok!!

Aku memaksa dia!! Aku memaksa dia untuk mewujudkan mimpinya itu. Dia tidak mengatakan mimpinya itu kepadaku. Aku hanya mampu membaca keinginannya itu dari dalam dirinya. Mungkin aku memiliki sixth sense tersendiri yang terbawa sejak kelahiranku. Kemudian menuntunku untuk berani mengajaknya mewujudkan mimpinya yang tersembunyi itu. Sebuah mimpi yang tersembunyi, terpendam, terkubur dalam mahalnya cangkang kesadaran dirinya.

Aku bosan duduk di kursi tungggu. Sejak tadi yang kulihat hanya orang-orang yang lalu-lalang dengan kendaraan mereka. Aku mau masuk. Melihat sebuah proses seseorang dalam mewujudkan mimpi tingginya. Aku telah memegang gagang pintu. Aku menariknya. Dan aku masuk.

Dia tersenyum melihatku masuk. Ini baru kali pertama dia mengalami hal ini. Berdiri dengan baju berkancing dan berkerah di dalam ruangan kotak dengan cahaya lampu benderang. Perkakas di sekitar dia berdiri asing baginya. Dia hanya tahu salah satu perkakas itu mirip dengan mentudung di meja makan yang sudah tidak pernah dia sentuh lagi selama ini. Dia terlihat rapi, he is trying to be gallant!! Lagi dia tersenyum melihatku. Wanita di depannya yang sedari tadi memberikan komando terlihat sibuk dengan perkakas yang dipegangnya. Wanita ini berjilbab, aku memandang ke wajahnya. Aku melihat sebuah kesabaran yang dipertahankannya. Dia wanita yang baik.

“Kok lama Mbak??’ tanyaku.
“Matanya merem terus” jawabnya.
“Oh gitu…” aku maklum. “Gimana klo nggak usah pake blitz Mbak??” tanyaku lagi.
“Nggak bisa”
Wanita ini kembali bekerja dengan kameranya. Dia masih berdiri canggung di depan background biru, menunggu komando dari wanita tadi. Berkali-kali dicoba, matanya selalu tertutup.
“Coba tahan matamu Di, jangan hiraukan cahaya!!’ aku ikut memberikan komando.
Dia menangguk dengan senyuman.
“Merem aja dulu, nanti klo sudah aku hitung sampai tiga buka mata ya!!” wanita itu memberikan komando lagi”
1…2…3…Jepret!!…Final…Akhirnya dia berhasil mempertahankan matanya tetap terbuka.

Walaupun serangan kilat dari mentudung tadi menusuk bola matanya. Dia telah berhasil membuat foto warna untuk persyaratannya membuat Kartu Tanda Penduduk yang telah menjadi mimpi besarnya selama ini. Seharusnya dia telah memilikinya ketika dia berumur tujuh belas tahun tujuh tahun yang lalu.
Kami duduk. Kulihat senyum yang berbeda di wajahnya. Senyum saat ini benar-benar senyum puas dan bahagia. Dan ternyata senyum di dalam ruangan tadi itu merupakan senyum seseorang supaya tidak dicap sebagai seorang yang udik. Dia mempertahankan keberadaanya…

Foto telah selesai di cetak. 4x6 2 lembar, 2x3 4 lembar, satu keping CD. Jumlahnya Rp 25.000,-. Bill dibayar.


Pagi Jum’at…

Pagi pukul delapan menuju ke sembilan. Aku berputar-putar di salah satu jalan di Kotabaru. Dekat dengan Kodim Kotabaru. Aku lupa nama jalannya. Ingatanku berucap di sinilah Kantor Catatan Sipil berlokasi. Masih putar-putar. Celingak-celinguk. Para panitera sedang senam pagi di depan kantor mereka, Kantor Kejaksaan. Kantor Pengadilan Agama sepi. Para tukang ojek sedang duduk ngobrol. Ibu-ibu berkerumun di depan gerobak dorong sayur. Aku tidak menemukan kantor Capil. Aku bertanya kepada seorang tukang ojek. Dia memberikan alamat yang kemudian kusadari bahwa aku ternyata lupa, aku baru ingat. Aku menuju ke sana. Jalan H. Hasan Basri.

Aku telah berdiri di pintu kantor Capil. Melihat-lihat ke dinding. Mencari tahu bagaimana prosedur pengurusan KTP. Mungkin di seluruh dunia, atau hanya di Indonesia, atau hanya di kabupatenku, ketika memasuki instansi, no one greets me!! Or, may be just trying to show the easygoing bureaucracy. Para pegawai sibuk. Buka sana-sini, membolak-balik berkas, membenarkan kaca mata, stempel sana-sini. Aku menyapa seorang pegawai.

“Ngurus KTP bagaimana ya??”
“Mas, sudah memiliki kartu keluarga??”
“Oh, bukan untuk saya, untuk teman”
“Ada kartu keluarganya??”
Aduh!! Pertanyaan yang susah.
“Kita beruntung lahir dengan esensi-esensi sebuah kelahiran ada di sekitar kita, bapak, ibu, menunggu dengan harapan besar akan kelahiran kita. Bagaimana untuk seseorang yang lahir dengan ketidakinginan orang tuanya, kemudian ditinggal orang tuanya?? Bisakah dia memiliki kartu keluarga untuk dirinya sendiri??” aku bertanya lagi.
“Tetap tidak bisa, kecuali jika dia sudah menikah. Atau masih ada wali lain??”
“Neneknya ada, tapi sudah tua dan pikun, bagaimana??”
“Ya dengan neneknya”
Aku pergi keluar, membawa blanko permohonan pembuatan KTP dan Kartu Keluarga. Kami bergegas ke kelurahan.

“Pak, urusan KTP di mana??”

Pegawai itu menunjuk ruangannya. Di dalamnya ada empat pegawai, tiga perempuan, satu laki-laki.

“Meulah (membuat) KTP Pak” aku menyerahkan Kartu Keluarga paman si Dia.
“Oh ikam (kamu) anaknya Junaidi (nama samaran)??” tanya pegawai laki-laki.
“Lain (bukan) Pak, uluh mengurusakan KTP Dia.”
“Oh, iya-iya” pegawai kelurahan mengerti, dia sudah mengenal Dia.
“Gasan (untuk) apa KTP?? tanya pegawai.

Pegawai ini telah mengenal Dia. Pegawai ini tahu bahwa KTP tidak berfungsi bagi si Dia. Bukan untuk mengurus SIM, bukan untuk mengurus pendidikan, atau urusan lain-lain. Pegawai ini mungkin sadar dia menanyakan pertanyaan yang bodoh. But he is curious…

“Bapak tahu akhir-akhir ini polisi razia premanisme. Siapa yang tidak memiliki KTP dan keluyuran di malam hari, kena periksa, di tangkap.” Jawabku
Pegawai bertugas. Menulis identitas si Dia di blanko. Sekali-kali dia menanyakan identitas Dia.

Jika hanya ditangkap dan di data dirinya, bagi seorang Dia yang bahkan tidak lulus SD ini, akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan baginya untuk berurusan dengan sebuah instansi walau itu kepolisian, dia mungkin akan senang memiliki pengalaman itu. Tapi jika ketika di data Dia dibentak-bentak, dikatakan bodoh, dikatakan melawan petugas. Who wants?? Bahkan, untuk seorang yang tidak bersekolah, dia marah diperlakukan seperti itu. Aku masih ingat ketika dia menceritakan hal itu di pelataran tepi laut malam hari itu. Dia benar-benar emosi, marah, jengkel, sumpah serapah. Aku belum pernah melihat itu sebelumnya dari Dia, sejak kami masih kecil!!

“Tanggal lahir??” pegawai itu menanyakan lagi.

“8 Juli 1986” jawabku. Sebuah tanggal rekayasaku.

Tidak ada data yang kudapat dari Dia ketika kutanya mengenai kelahirannya. Dia tidak tahu. Nenek dia tidak tahu atau mungkin sudah lupa. Sepertinya tidak ada orang-orang yang tahu. Atau hanya tidak peduli. Mau mencari ibu atau bapaknya, tidak tahu di mana keberadaan mereka. Shit!!

Entah kenapa, aku seolah merasa sok pintar dan lebih tua dari bapak dan ibu-ibu pegawai yang ada di ruangan aku berada saat ini. Aku berceramah dengan kemarahan yang tersembunyi di wajah sok pintar dan sok tuaku saat ini.

“Ya, seharusnya ini tugas ketua RT atau petugas dari kelurahan untuk inisiatif, peduli kepada mereka-mereka seperti Dia yang tidak tahu baca tulis dan ekonomi lemah. Untuk mengakui keberadaan mereka. Namun, kita tahu, kita semua diminta pertanggungjawaban kita atas orang-orang seperti mereka, mengenai peran kita.”

Satu ibu pegawai dan bapak pegawai di depanku, menunduk pelit. Wajah mereka berubah. Aku tahu, hati mereka tersadar. Aku tidak peduli dengan persepsi mereka terhadapku. I say what I want, that I think I have to…

Kemudian, hatiku mulai basah ketika ku dengar pegawai itu menanyakan nama orang tua si Dia kepada Dia. It doesn’t seem as a question answered with the exact answer, it is like a bargaining process.

Selesai di kelurahan. Kami menuju ke Kantor Kecamatan. Prosesnya singkat di sini. Blanko di stempel. Kemudian petugas meminta si Dia menandatangani blanko. Dia tidak bisa baca tulis. Namun, Dia dengan berani mengambil pena yang telah disodorkan kepadanya. Dia menandatangani dengan singkat dan tegas, itulah kesan yang muncul!! Hebat. Dia benar-benar ingin mewujudkan mimpinya.

“Ikam (kamu) harus ingat dengan bentuknya!!” instruksiku kepada Dia terkait tanda tangannya.

Di Kantor Catatan Sipil, aku menyerahkan blanko. Kemudian diberikan selembar kertas berstatus sebagai tanda terima dan bukti untuk mengambil KTP yang telah selesai dibuat nantinya. Tidak ada keterangan bahwa ini dapat dipergunakan sebagai KTP sementara, meanwhile kami harus menunggu selama satu setengah bulan untuk KTP itu selesai. Harus berapa kali patroli polisi harus di waspadai oleh Dia. Seolah kucing-kucingan dengan petugas. Sementara itu walau hanya duduk di sekitaran kampung sendiri di malam hari.

“Ibu, tidak ada keterangan di sini bahwa ini dapat dipergunakan sebagai KTP sementara??” tanyaku heran.

Pegawai ini tidak dapat berkata untuk beberapa detik. Tak lama mulutnya mulai bergerak…
“Ya, seperti itulah adanya” jawabnya dengan susah.

Di sini, seharusnya aku bertanya kepada system, bukan kepada Ibu ini…

Sunday, February 1, 2009

APA KABAR HATIMU MR. POLICEMANS??

Dua profesi yang begitu anti bagi Razua ialah polisi dan dokter.

“Siap grak!!” seorang senior dengan galaknya memberikan komando.

Sontak kami mematuhi perintah itu. Badan tegap, mata memandang lurus ke depan, dada dibusungkan, tangan mengepal menyentuh sisi kiri-kanan pangkal paha. Jangan pernah berani untuk mengeluarkan suara keluhan atau tertawa, walau hanya cekikikan kecil. Konsekuensinya, push-up, tamparan kata-kata, pandangan tajam mata senior akan menembus bola mataku, memanaskan retina, kemudian membuat lapisan tidak tembus pandang pada sisi mata, mirip seperti glaukoma. Sehingga, tenaga kan habis, wajah merah kebiruan, dan pandangan mata gelap.

Senior dari tadi berkeliling melihat sikap tubuh kami, sudah sempurnakah atau belum. Sudah ratakah barisan kami atau belum. Sudah sejajarkah dengan teman sebelah kami masing-masing.

“PaaK!!” tiba-tiba kurasakan sakit pada punggung kanan telapak kakiku. Sakit ini mengecewakanku. Senior tersebut menendang kakiku, dia berujar kakiku tidak rapi. Namun, sakit pada kaki tidak lebih sakit pada hatiku. Aku marah!! Seolah-olah aku merasa seperti diperbudak. Aku merasa tidak dihormati. Senior ini telah membuat sobek lembaran buku hidupku pada bab”Harga Diri”. Aku terhina di tendang seperti itu, memangnya siapa dia. Demi menjadi pasukan inti untuk karnval tiga minggu lagi, aku rela berlelah-letih demi nama harum sekolahku. All things that I can do, I will.

Itulah yang membuat Razua tidak berminat menjadi polisi atau oknum aparat keamanan lainnya. Ketika hal seperti dirinya, Razua anti profesi yang satu ini. Seiring dengan perjalanan hidup, mungkin saja cita-cita profesi bisa berubah. Namun, jikapun harus menyasar ke profesi di luar cita-citanya saat ini, profesi ini akan dijadikan peringkat pertama dari beberapa profesi yang akan ditolak Razua.

Untuk menjadi dokter, Razua tidak mempunyai cerirta atau sebuah justifikasi sehingga menolak menjadi profesi ini. Mungkin hanya ketidakberanian untuk memasukkan jarum suntik yang lancip ke dalam kulit seorang pasien. Uh ngeri boy…

Tidak berbeda dengan malam biasanya. Razua nongkrong, ngobrol, bernyanyi dengan kawan (saudara) sedari kecil. Beginilah keadaan pulauku untuk menghabiskan malam. Tidak ada warnet yang open 24 jam. Apalagi perpustakaan yanh hanyaopen sampai sore. Yang ada ngobrol sampai tengah malam bahkan pagi.

Di telinga Razua menempel mp3 player. List lagu yang diputar yaitu Heal the World-nya M. Jackson dan Gaza Tonight M. Heart. Sangat menyentuh, pikiranku terbang, limbung, meroket, dan landing ke Palestina. Sedih menyaksikan kekasaran tentara-tentara Israel terhadap warga sipil dan anak-anak. Sama sekali bukan sebuah kisah yang mengesankan!!
Tidak lama, mobil patroli polisi berhenti di depan kami duduk. Dua mobil dan beberapa sepeda motor. Dengan sigap mereka semua berdiri di depan kami semua.

“Semuanya berdiri!!” salah seorang dari mereka memerintah dengan suara kerasnya.
Sontak kawan-kawanku semua berdiri. Berbeda dengan aku yang dari tadi bersandar pada sandaran kursi menikmati dua lagu tadi yang di-repeat, aku hanya keep sitting still.
“KTP dan dompet!!” salah seorang dari mereka memerintah lagi.

Aku serta merta memberikan dompetku.”Silahkah periksa dengan cermat!!” kataku dalam hati. Polisi itu menyenter dan memeriksa dompetku ke sana kemari. Bolak-balik. Buka –lipat. Sementara mp3 playerku masih aktif di telinga.

“Berdiri!! Turun ke sini!!” polisi yang pertama tadi menyuruhku lagi. Kali ini dengan lebih keras, dan aku klasifikasikan itu dengan perintah kasar. Dia berhak untuk bicara sopan dengan kami!! Kami bukan penjahat!! Aku berdiri, kupersilahkan memeriksaku. He got nothing!!
Polisi yang memeriksa dompetku kemudian mengembalikannya. He got nothing!!

“Sudah semuanya pulang!!” salah seorang polisi memerintah lagi.

“Pulang-pulang!!” beberapa polisi seperti paduan suara memerintah.

Apa-apaan?? Apa mereka tidak bisa mengetahui, mayoritas kami sudah layak untuk menikah. Pun juga, warung-warung dan kedai ponsel juga belum tutup. Menjengkelkan!! Sok kuat, terkesan represif, tanpa sapa dan salam untuk memeriksa, tidak sopan, dan tidak etiketis.

Aku heran, polisi di pulauku terkesan seperti itu. Sangat berbeda dengan polisi di pulau Jawa ketika aku khilaf melintasi rambu larangan belok. Dia mengucapkan salam ramah. Namun, ketika aku kembali ke pulauku, aku diberitahu temanku, bahwa dia ditampar seorang polisi di kepalanya ketika tidak menggunakan helm. Tanpa salam dan sapa sebelumnya. Temanku tidak sendiri yang mengalami seperti itu!! Jumawa!! Bukankah mereka memiliki seorang kapolri yang sama??

See that, mungkin ini juga alas an Razua tidak berkenan menjadi polisi. Keluhuran niat untuk melindungi dan mengayomi dari negara kepada masyarakatnya, dicoreng dengan perilaku sebagian aparat mereka. Semoga para mereka sadar akan itu. Kebetulan banyak temanku yang telah da akan menjadi seperti mereka, mudah-mudah tidak seperti mereka. Be Kind and Nice Dude!!

Sunday, January 25, 2009

Di Tengah Malam, Di Tengah Laut

00.45 WITA

“Kemana Cut??” tanya Razua. 

“Bulik (pulang)” jawab Encut.

Kemudian disusul dengan kawan-kawan yang lain. 

“Guring dimana Cut (tidur dimana Cut)??” tanyaku lagi.

“Aku bemalam di rumah Julpin (Nginap di rumah Julpin).” 

Tinggal aku dan Halid. Ia sedang berbenah untuk menutup kios vouchernya di seberang jalan aku berdiri. Lampu berwarna dimatikan olehnya, sehingga sudah tidak tampak lagi bermacam-macam voucher kartu prabayar di dalam lemari kaca itu. 

Aku berdiri di tepi jalan. Memandang kiri dan kanan, ke ujung-ujung jalan. Sepi dan gelap. Hanya satu-satu motor yang lewat. Terdengar bunyi mesin-mesin kapal nelayan di kejauhan di tengah selat laut. Bunyi harapan akan rezeki halal dari hasil laut. Sementara itu, speedboat yang seperti anak kecil namun aktif di tengah selat laut sana juga memecahkan kesenyapan malam. 

Saat-saat indah bagi Razua ialah malam hari. Malam itu tenang. Malam itu damai. Malam itu ketika kerasnya batu kebencian di siang hari pecah menguap. Malam itu dimana ketika manusia tidak risau dengan masa depan yang misterius. Malam itu hidup saat ini. Malam itu untuk menikmati hidup. Malam itu juga keindahan. Masa dimana buah-buah inspirasi karya seni bermunculan. Itu mengapa Razua begitu menikmati malam. 

Namun Razua harus mengakhiri malam ini dengan teman-temannya. Harus pulang ke rumah yang berjarak tujuh kilo meter dari tempat dia berdiri saat ini. Malam itu, dimana ketika peri-peri kebijaksanaan menghampiri dan bergurau denganmu. Razua tidak merasa sendiri dan sepi di malam hari. Peri-peri itu akan menemaninya. Peri-peri itu berasal dari kerajaan malam. Yang diutus oleh sang raja untuk para penikmat malam.


Tiba-tiba Paman Hamna melintas.

Karena sudah cukup lama tidak berjumpa sua, Razua langsung menyalakan motornya, kemudian bergegas untuk menghampiri Paman Hamna.

 “Sibuk banar kah tu sampai malam kaya ini masih kujuk-kujuk (sibuk sekali ya sampai malam begini masih kesana kemari)??” Razua menyapa.

“Iih, bulang balik ke Pemancingan (Iya nih, bolak-balik ke Pemancingan). ” Jawab Paman Hamna.

“Haaa, di tengah laut, pakai apa (menggunakan apa)? tanya Razua lagi.

“Hiih (Iya)!! Pakai speed. Umpatkah (Ikut gak)??” ajak Paman Hamna.

“Ayo!!!” Razua mengambil keputusan cepat.

Paman Hamna langsung menjalankan motor ke Hilir. Menuju gudang pembuatan es balok. Es balok tersebut dijual kepada nelayan yang pergi melaut, untuk ikan-ikan agar bertahan lama. Razua mengikuti dari belakang. Sepanjang jalan aspal yang hanya dipisahkan oleh rumah warga dengan selat laut sangat sepi. Suara-suara kapal nelayan masih mengikuti detak-detak waktu yang terus berjalan.

“Ya sudah kunci aja sepeda motor di situ!” Paman Hamna berujar setelah kami sampai di gudang pembuatan es.

“Kada hilangkah (tidak hilang)??” tanya Razua.

“Kada pang, lekasi (Tidak lah, ayo cepat)!!”

Ternyata dua teman beliau sudah menunggu di atas speedboat. Mesin dinyalakan. “Bremm!!”. Speedboat jalan mundur. Kemudian sang teman langsung tancap gas. Speedboat ini beranjak. 

“Sudah dua kali aku bulang-bulik ke Pemancingan ni.” Paman Hamna memulai pembicaraan.
“Emm!!” Razua hanya mengangguk. Tidak menarik baginya untuk melakukan konversasi saat ini. Razua melihat ke sana ke mari. Semuanya laut, air asin.

Sepi, tenang, damai. Indah sekali berada di tengah laut, apalagi di tengah malam seperti saat ini. Duduk di atas kendaraan berbahan fiber supercepat. Angin tidak berhembus dingin malam ini. Di atas sana bintang-bintang membentuk formasinya masing-masing. Razua tidak memahami tentang rasi bintang. Razua hanya melihat formasi yang membentuk seperti ikan pari yang diketahuinya. Tongkang-tongkang pengangkut batubara tidur pulas dalam pekatnya gelap malam. Mengikatkan dirinya dengan kapal-kapal tugboat yang selalu menarik mereka kemana-mana. Kapal tanker sedang berbaring malas. Begitu banyak lampu di tubuhnya yang menawan. Sedikit melawan dengan gelap. Air laut pecah dihantam alas kaki speedboat. “Bwar-bwar!!”. Pecahan air laut itu berwarna biru menyala. Kemudian redup digantikan pecahan air selanjutnya. Kemudian pecah dan digantikan lagi. Begitu seterusnya.

Kami sudah berada di kawasan pemancingan. Sudah terlihat tiang kapal besi yang sudah lama tenggelam di tengah laut ini. Ceritanya merupakan kapal besi Belanda jaman dahulu. Tertanam dan mati di sini. Kata nelayan memancing di sini ikan kerapunya besar-besar. Dan jika siang hari, air sedang surut, para nelayan dari suku Bajo sering bermain bola di gusung kawasan ini. Mereka berangkat dari rumah mereka yang berjarak lebih dari dua puluh kilometer menggunakan kelotok hanya untuk bermain sepak bola di pasir putih. Asyik pasti!!

Juga, di kawasan ini ada terminal untuk batubara yang akan diekspor. Namanya North Pulau Laut Coal Terminal, sering disingkat NPLCT. Dimiliki oleh satu perusahaan batubara yang kemarin menunggak royalti begitu banyak pada negara. Panjang salurannya dari penampungan ke dermaga tempat kapal tongkang dan tugboat untuk loading batubara mungkin ada satu kilometer, bahkan lebih. Sepanjang itu, dihiasi dengan lampu-lampu kuning benderang. Semarak di tengah laut. Seperti naga api bercahaya yang berjalan di atas air laut. Kami melintas di depannya.

Akhirnya, kami tiba di kapal tugboat dimana kami harus singgah. Beberapa awak kapal yang berdiri di luar memandang kami yang mendekat. 

“He messo maneng ko (Ni kenyang semua kalian)!!” Paman Hamna berujar sambil tersenyum, menyerahkan bungkusan plastik. 

Kami kembali lagi ke gudang es tadi. Agenda hanya untuk menyerahkan bungkusan tadi. Tidak penting itu apa. Mungkin nasi goreng favorit para awak kapal. Malam ini indah.


Catatan: Menggunakan bahasa Banjar Kotabaru. Kalimat langsung yang terakhir merupakan bahasa bugis.

 


Saturday, January 24, 2009

ABSTRACT

BACKGROUND:
Hospital pharmacy installation is a part or a facility in the hospital, a place where the all of pharmaceutical work that needed in the hospital is exercised. Beside that, pharmaceutical services in the hospital is a part that can not be separated from the intact hospital service and has the orientation toward the service to the patient and delivering of qualified drugs. Usage process of drugs is a complicated system which is consist of several steps that should be done to attain the optimal therapy, for instance inappropriate drugs usage will cause the preceding activities that has been done well to be useless. Work procedure overwhelms all of activities, begin with the receiving the drug prescription till the delivering the drugs to nurse in ward or the patient’s family. Hence, all of the officials at the both Rawat Inap and Rawat Jalan section in the RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta have to know and implement the work procedures that had been established by the hospital management. This research aimed to knowing the correlation between the officials’ knowledge about the work procedure with the work performance at both Rawat Inap and Rawat Jalan section on pharmacy installation in RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

METHOD:
The type of this research was quantitative descriptive that executed with the cross sectional approach. The involved variabel in this research were the level of the officials’ knowledge about work procedures as the independent variabel and the official’s work performance as the dependent variabel. This research was exercised on January 2009, which the magnitude of the sample was 28 officials. The data collecting used the quizionaire. The result of the research was analyzed in univariat and bivariat manner with the Kendall Tau test.

RESULT:
The result of the analysis showed that coeficient corelation of Kendal Tau was 0.335 with level of significance was 0.015 (p<0.05) which showed that higher the level of officials’ knowledge toward the work procedure, higher the official’s work performance.

CONCLUSION:
There was significant positive correlation between the level of officials’ knowledge toward work procedure with the officials’ work performance at both Rawat Inap and Rawat Jalan section on pharmacy installation in the RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

KEYWORDS:
Hospital pharmaceutical installation, the level of knowledge, work procedure, and work performance.

Thursday, January 22, 2009

Edisi Pulang Kampung #2

Dalam keadaan sulit, terdesak, genting, rumit, biasanya manusia akan spontaneously mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya dia yakini tidak mampu untuk melakukannya. Tanya hal itu pada psychologists, you will find the theories abundantly. Tanyakan hal itu pada seorang ibu yang baru saja menyelamatkan anaknya dari dalam rumah yang sedang terbakar, you will find the real experience. You will find an epic theory which is there are so much loves inside.Dunia maya mampu menjadi medium yang handal dalam membuat the users menjadi narsis di luar batas yang tidak dia kira sebelumnya. Berpuluh foto yang di-upload ( I didn’t think that I could), saying or typing the rhetoric words, or pretending to be another person.


DUnia maya juga mampu menjadi medium dalam hal ini sebagai mak comblang pertemanan antar banyak users. Juga, menjadi mak comblang dalam arti yang sering dipakai people dalam hal pencarian, untuk menemukan jawaban, who thy soulmate is.
Kembali peran dia sebagai sebagai situs pertemanan. Masuk ke dalam duniaku. Dalam keadaan terjepit, kondisi warnet ramai bak SPBU di tengah hari, atau Capitol Hill pada waktu pelantikan Obama kemarin (hyperbolic). Aku mencoba menuliskan hal yang lucu bagiku. Hal yang membuat aku tertawa sendiri. Baca dan dengarkan!!
Pulang kampung dalam keadaan tugas kuliah yang belum rampung. Kemudian ada keperluan yang diperintahkan oleh mom, so I have to access the internet. Checking the friendster, seeing my account. Answering the testimonials. Dalam keadaan bingung,while waiting the loading, throwing my eyes to outside, to the door, trying for getting the freshness. Then I saw the girl who I met on the internet, on the friendster. Hey tu orangnya. We could not say any thing. Just seeing each others. Speechless. 
Lihat itu manusia, dan itu situs pertemanan. Situs pertemanan benar-benar mampu membuat users narsis dan bertindak di luar batas yang mampu dia lakukan pada dunia nyata. Dan tahukah kamu, lady itu sudah ada duduk dan mengakses computer di sebelahku. Hello we just gave the sweet smiles 


Edisi Liburan-Pulkam #1

12.45 waktu Indonesia bagian tengah. Hujan mulai turun lebat, berhenti, kemudian lebat lagi. Kencang deru hujan terhadap atap. Pasti biji-biji air hujan saat ini besar. Kondisi akomodatif untuk tidur. Sebelah timur merupakan perumahan warga yang bertetangga dengan pohon-pohon, lebih tepatnya hutan yang ditumbuhi perumahan warga. Di sebelah timur, merupakan hutan mangrove yang telah membuka diri mereka untuk dikapling-kapling sebagai lahan perumahan warga, atau untuk menjadi empang-empang. Sementara aku mencoba ikut meramaikan riuhnya pesta air hujan di luar dengan bunyi keyboard yang diketik dan dengan backsound album religi Ungu.

"Alhamdulillah ku syukuri semua

Terima kasihku ya Allah atas Indahnya hidup

Alhamdulillah ku syukuri semua

Terima kasihku ya Rabbi atas rahmat dalam hidupku"

Senang rasanya bisa kembali di suatu tempat yang dimana disebut rumah. Bisa kembali ke kampung halaman. Lebih kurang seratus hari yang lalu, aku juga kembali. Though, perjalanan darat dari Banjarmasin ke kabupaten cukup membuat adrenalin bergerak menanjak dalam kurva pergerakannya. Bukan karena menakutkan, menyedihkan, atau begitu gembira, akan tetapi, ada satu hal lagi yang menyebabkan adrenalin itu menanjak. Marah? Sedikit berlebihan jika marah. Mungkin lebih tepatnya, emosi. Dari dulu sampai sekarang infrastruktur darat tetap pada kondisi stag. Jalan di sini diperbaiki, jalan di sana berkerikil, berlobak, bahkan menjadi kolam. We have to be shaken inside. Bayangkan, metaforakan, seperti biji-biji jagung yang sedang dalam proses menjadi pop corn. Terpelanting, terpental, dan limbung. Walaupun, tidak sampai menyebabkan tertukarnya nomor kursi antar penumpang. Itu berlebihan…

Islam menyuruh nabi untuk berhijrah. Jauh jika menyamakan, tapi, simpelnya, mari berbicara dalam konteks perpindahan tubuh fisik secara geografis. Pepatah menganjurkan, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Tidak sejauh sampai ke Cina bagiku saat ini. Based on self interpretation and experiences, bagitu banyak hikmah dari dua perintah itu. Saat-saat ketika merindukan kampung halaman ketika berada di kampung lain, begitu indahnya, yang kemudian tidak lama tercium bau asap terbakarnya hati karena kerinduan itu. Saat-saat dalam perjalanan pulang, melemparkan pandangan di sepanjang jalan, missing, contemplating, thinking about this life, about this role, about love (not about bojo lho), and about the thankfulness to the God. Mungkin inilah sedikit hikmah yang terbaca dari seabrek hikmah yang tidak dan belum terbaca dari dua perintah itu.

Tunduk pada hukum dunia, tidak ada sesuatu yang sempurna. Tidak ada sesuatu yang tetap dalam kehidupan, kecuali ketidaktetapan itu sendiri. As an emerging regency, pulauku terus tumbuh. Pulauku terlihat berbenah. To be exist lah pokoknya!! Sebuah hal yang alami dalam hidup, untuk tumbuh dan berkembang, sampai tiba saat masa hidup berakhir. How ever, seperti banyak kasus lain di Indonesia, pertumbuhan tanpa disertai dengan blue print yang cukup. Eksekusi tanpa planning yang matang. Visi yang kurang bersifat long term. Pulaku semakin semrawut. Jalan semakin sempit. Sampah semakin banyak di tempat yang tidak seharusnya. Sesuatu hijau yang bernama pohon semakin berkurang, digantikan dengan bibit-bibit rumah yang dengan subur tumbuh. Oksigen digantikan dengan bala polutan dan karbondioksida dalam jumlah masif. 

Bagaimanakah dengan nasibmu untuk waktu yang akan datang? Aku tidak akan menunggu untuk jangka waktu misal lima atau sepuluh tahun. Aku hanya akan kembali melihat pada kesempatan sekembalinyaku lagi nanti. Yah sekembalinya aku lagi nanti.