Wednesday, July 14, 2010

Berbagi-lah (Serahkan-lah)


 



 

"Sebenarnya, kata 'berbagi-lah' itu tidak tepat, namun' serahkan-lah' yang tepat. Karena di tiap-tiap yang kita miliki, ada sebagian yang merupakan milik mereka. Ingat lah untuk menyerahkan nya…"


 

Minggu malam, pukul delapan lebih dua puluh menit, seperti biasa aku dan beberapa saudara satu kos makan bersama, di warung makan sekitar kos. Namun, kali ini berbeda, kami berkeinginan untuk pergi ke warung makan di tempat yang agak jauh.

Aku mengendarai motor sendiri, sementara mereka berboncengan berdua. Aku menyalakan motor duluan, dan memulai mengendara dengan santai, menuju pintu gerbang gang. Sesampai di pintu dan berbelok kiri, masih dengan pengendaraan motor yang santai. Mata ku menoleh ke kiri, ke salah satu bangunan dan menemukan pemandangan yang tidak biasa. Jikalau biasanya hanya seorang bapak parkiran yang telah berumur mungkin lebih dar 50 tahun-an, saat ini ku lihat seorang ayah yang berumuran mungkin sekitar 35 tahun dan anak perempuan berjilbab dalam dekapan nya yang sedang pulas memejamkan mata, entah karena sakit atau tertidur. Ayah yang berkumis tebal tersebut terlihat seperti seorang yang tidak bersahabat, namun bagaimana sikap tubuh nya yang saat ini sedang memeluk erat sang anak dengan sepenuh-penuh nya kasih sayang dan melindungi, menggagalkan persepsi ku tersebut. Mereka di depan sebuah bangunan yang telah tutup.

Motor terus ku jalankan sambil berpikir…

'Sungguh kasihan sekali mereka, dengan pakaian yang aku bersyukur aku masih memakai yang lebih baik. Terbesit hati ku untuk melakukan nya, namun bagaimana jika beliau menolak bahkan marah? Mungkin beliau bukan tipe yang seperti itu? Tapi penampilan mereka sangat menyentuh dan mengundang hati untuk melakukan nya.'

Aku berhenti, yang membingungkan Muksin dan Jali yang juga ikut berhenti.

"Kenapa Ki, gak jadi?" mereka bertanya kepada ku.

"Emh, duluan aja, aku nyusul nanti."

"Oke."


 

Aku berbalik arah, dan memberhentikan motor di tepi jalan, mungkin sekitar 2,5 meter di depan mereka. Aku mengeluarkan selembar rupiah berwarna hijau.

"Sakit ya Pak anak nya?"

"Beubou…"

Aku menangkap kata 'bobo'.

"Beubou…" beliau mengucapkan nya kembali.

"Oh tidur ya Pak. Ini ya Pak ya…"

Beliau sesegera mungkin 'menyambar' tanganku untuk mengambil yang ingin kuberikan kepada beliau dan mengucapkan kata 'maturnuwun' berkali-kali. Suara beliau tidak jelas, seperti memiliki kekurangan dalam hal berbicara. Aku tidak tahu bawaan lahir yang bagaimana ini. Namun, beliau berucap dengan susah payah sekali, sementara sang anak tertidur pulas dengan balutan sarung batik kuning yang telah lusuh dan menggunakan jilbab berwarna merah muda yang menggradasi menjadi putih kusam.

"Mari Pak ya…"

Aku menyadari gerakan tubuh ku mengurangi rasa ku kepada diri sendiri.

Aku melanjutkan perjalanan ku menuju warung makan yang saudara-saudara ku telah lebih dulu pergi. Sungguh hati ku sangat tersentuh dan dengan banyak pertanyaan di kepala. 'Kemana istri beliau?' 'Beliau dari mana dan mau kemana?' 'Apakah sudah makan?' 'Apakah tidak memiliki uang untuk transportasi?' 'Apakah beliau selalu bersedih dalam hidup nya dengan kondisi seperti itu, atau bahkan tidak pernah dikarenakan kebesaran jiwa beliau dan keberserahan kepada Sang Pencipta?' 'Dimana rumah beliau?' 'Apakah beliau berhenti dan duduk di situ hanya karena sang putri yang tertidur, untuk tidak mengganggu tidur nya?' 'Apakah beliau sudah makan?' 'Apakah beliau sudah makan?' 'Apakah beliau sudah makan?'

Sungguh mengharukan. Aku mengharapkan untuk airmata ku jatuh saat ini. Ini sama sekali bukan tentang kecengengan, bukan! Aku ingin merayakan kebesaran Engkau ya Tuhan dan kebesaran mereka. Aku merasakan ada begitu banyak malaikat yang hadir di situ. Tatapan sayang dan haru dari nabi-nabi di surga sana. Orkestra dan simfoni alam yang mengalahkan bisingnya hiruk pikuk motor dan mobil yang melintas. Tuhan, sungguh besar saat ini. Sungguh hebat kehidupan ini. Aku ingin menangis Tuhan. Aku merasa kasihan yang teramat dengan mereka.

Di satu ruang di kepala ku terucap serapah-serapah yang menyampahkan.

'Seharusnya malu pemimpin yang tidak amanah itu dengan contoh keadaan ini yang begitu banyak jumlah nya di negeri ini.' 'Seharusnya para koruptor tersentuh dan tersadar betapa biadab nya mereka dengan melakukan korupsi!' 'Engkau negara, kenapa begitu lemah? Apakah karena sudah terlalu banyak anak-anak mu yang tidak amanah dan melakukan korupsi sehingga hanya berdiam, meringis, dan menangis? Aku ingin mengatakan engkau, aku, dan semua orang yang ada dan dilahirkan di negeri ini seharusnya malu dengan keadaan ini. Ini bukan miskin nya harta kita, namun miskin nya perilaku kita!'

Aku malu dengan diri ku.

Aku merasa kurang sementara juga merasa sangat lebih.

Aku mengakui, ketika kebaikan dilakukan dengan ketulusan itu, tak pernah ada kata cukup, bahkan memuaskan.

"Tuhan perbanyaklah pemimpin yang amanah. Berikanlah kewenangan-kewenangan dan kemampuan-kemampuan besar kepada pemimpin-pemimpin masa depan untuk bisa menjamin dan memastikan pemuliaan dan pengasih-sayangan kepada hamba-hamba Mu yang seharusnya berhak itu ya Tuhan…"

Friday, July 9, 2010

Santunlah



“Bukan karena tidak berdaya-nya kita untuk menyetarai bahkan mengungguli kekasaran atau ketidaksopanan yang dilakukan oleh orang lain kepada kita yang membatalkan penghormatan kita kepada orang lain, bukan. Namun hanya sebuah wujud penghormatan kita kepada diri agar merasa pantas terlibat dalam pergaulan-pergaulan yang santun nan membesarkan dalam dekapan keceriaan dan kedamaian.”


Aku duduk di kursi kecil di depan toko buku ini. Menunggu sang pedagang yang kami telah saling akrab karena sudah beberapa kali aku membeli buku di sini yang sedang berniaga melayani pembeli lain. Beliau dibantu beberapa, mungkin kolega atau karyawan beliau, dalam melayani pembeli, namun tetap masih sangat sibuk. Tentu saja ini kan musim liburan, saat dimana masa panen para pedagang buku.
Aku memperhatikan dua anak yang membujuk ibunya untuk membeli buku tambahan bagi mereka, namun sang ibu balik membujuknya untuk merasa cukup dengan buku yang telah dipilih mereka sebelumnya. Selain faktor kerangka berpikir, keuangan selalu menjadi ujian yang selalu ada dalam membeli buku bagi banyak orang. Kita bangsa yang terlalu sering memiliki hubungan langgeng dengan keterbatasan sumber daya ekonomi dalam keseharian, bahkan untuk perihal yang esensial dan vital dalam hidup: makan, kesehatan, dan pendidikan. Apalagi, jauh harapan dengan rekreasi. Semoga cepat berakhir. Selalu, untuk harus bersyukur.
Mungkin sudah seharusnya jika pemerintah mereduksi atau meniadakan subsidi untuk bahan bakar, dana subsidi tersebut dialihkan menjadi subsidi buku. Sehingga, jika masyarakat berpikir dua kali untuk bepergian ke tempat yang kurang penting relatif terhadap pertimbangan mahalnya kos bahan bakar, mereka lebih memilih bepergian secara mental dan pikiran ke tempat-tempat di seluruh dunia melalui buku, lebih jauh, bahkan bisa melintasi waktu ke masa lalu.
Nasihat mengatakan,” bacalah buku setidaknya satu jam sehari, maka Anda akan bijaksana”. Tentu juga lebih berwawasan dan cerdas bukan? Bagaimana kita bisa menyangkal nantinya jika negara ini, rakyatnya memiliki budaya baru-yang terlihat dimana-mana,-yaitu budaya baca, akan menjadi bangsa besar? Bukankah bangsa yang besar ialah bangsa pembaca? Mungkin 20 tahun lagi Indonesia completely sebuah bangsa yang besar,  yang mampu mengatakan bahwa ada yang lebih penting daripada korupsi jika budaya baru ini benar-benar membudaya.
Akhirnya sang ibu merestui. Sang penjual memasukkannya ke dalam hitungan.
Sementara itu, penjual buku tersebut juga sedang sibuk mengecek dan menyusun untuk dibungkus, buku-buku yang dibeli oleh seorang laki-laki yang penampilannya agak berbeda dari keseluruhan pembeli di pasar buku Shopping ini, saat ini. Buku-buku tersebut semuanya bertemakan sejarah. Wow!!! Sang pembeli yang kurang dari satu meter berdiri di depan aku yang sedang duduk ini, yang berpakaian kemeja batik, wajah Chinese, celana kargo, dan tas pinggang dengan botol minuman agak besar menggantung, memeriksa dengan cermat apakah daftar buku pada kertas di tangan kanannya sudah hadir semua. I’m sure he is a smart and great guy.

“Bapak dosen ya Pak?” aku bertanya dengan santai sambil duduk dan mendongak melihat beliau yang berdiri.

“Bukan, saya kerja di Amerika” dengan santai beliau menjawab dengan pesona kerendahan hatinya, dengan bahasa Indonesia agak kaku. Beliau balik bertanya, “Anda mahasiswa?”

“Iya Pak. Bapak kok bisa kerja di Amerika dan saya mengira dosen sejarah?” aku menjawab dan bertanya lagi, sambil berdiri setelah kaget dengan jawaban beliau. Padahal sebelumnya aku menebak mungkin beliau dari Sumatra. I was totally wrong about him.

“Saya kerja di perusahaan informatika. Jurusan apa?

“Akuntansi Pak”.

“Owh, mudah cari kerja ya” sambil tersenyum beliau.

“Mudah-mudahan Pak. Oh iya Pak, saya Fakhri” sambil menawarkan jabat tangan.
Beliau menyebutkan nama beliau sambil menjabat tanganku. Aku tak bisa menangkap nama beliau yang agak samar beliau sebutkan. Namun beliau merogoh tas pinggang, kemudian menemukan kartu nama beliau.

“ini kartu nama saya”.
What? What a kind person he is, right? Beliau membuatku merasa terhormat.
Rasa hormat yang seseorang berikan bukan secara utama karena layaknya orang lain dihormati olehnya, melainkan hanya sebuah refleksi betapa seseorang tersebut merasa positif dan hormat kepada dirinya sendiri. 
Aku membaca kartu nama beliau yang berwarna putih dengan hanya ada tulisan nama, alamat, data kontak, dan jabatan beliau, dengan hanya berhias satu persegi berwarna coklat yang berluas 0,25 cm2 posisi paling atas tengah, tanpa gelar dan perusahaan dimana beliau bekerja. Mungkin ini American-styled card name. Bukan nama Indonesia, bernama Chinese dengan garis miring nama, I don’t know, mungkin American+France. Di bawah nama tertulis ‘Director/Producer’. 
Kartu nama itu sendiri bukan hanya melambangkan penghormatan kepadaku, namun juga sebuah bahasa yang mengatakan bahwa sang pemilik seseorang yang terbuka untuk memberikan bantuan. I'm not a businessman yet.
Beliau segera pergi setelah sang penjual buku membungkus rapi buku-buku beliau dan kami bercakap-cakap. Informasi kemudian yang aku dapatkan ialah beliau seorang MBA yang dulunya mendapatkan beasiswa dari sebuah korporasi teknologi komputer. Maybe, he is a Phd juga.
A question comes to my mind, kenapa orang “wow” selalu tidak banyak bicara dan rendah hati? Kecerdasan dan kebesaran mereka tampak dari wajah yang tak seorang dapat mengingkarinya. Sekali lagi, rahmat ilmu meninggikan derajat pemiliknya.
I started a conversation with easy-going attitude which then had to be amended to make politer myself. Life’s miracle teaches me again to live.


Tuesday, June 29, 2010

Kenapa Sulit Untuk Hatimu Bersyukur?




"Kehidupan ialah,
 apa yang seharusnya yang penting..."


Tuhan yang Maha Sempurna, begitu indah nama-Mu, bahkan ketika menyebutkannya saja, diri ini merasa malu, teringat akan begitu banyak pemberian-Mu, bukan hanya tidak mampu hamba hitung, namun sangat jauh dari kata sadar akannya, apalagi mensyukuri...

Tuhan, Engkau yang Maha Bijaksana, yang mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-Mu, yang walaupun untuk apa-apa yang menurut kami tidak cocok, Engkau-lah yang lebih tahu. Begitu sabarnya Engkau akan keluh kesah dan amarah hamba-Mu yang tak tahu diri, untuk berterima kasih kepada-Mu ya Tuhan...

Tuhan, dengan nama-Mu yang Maha Besar nan Maha Pemaaf itu, Engkau membiarkan kami menjauh dari-Mu, melalaikan tatapan kasih-Mu, namun tak ada kau murka. Tak ada kau seketika itu juga menghukum kami ya Tuhan.

Tuhan, dengan menyebut sifat-Mu yang Maha Pemberi itu, yang tak henti-hentinya memberi, meski kami selalu saja lupa untuk berterima kasih. Engkau tak pernah marah bahwa doa-doa kami hanya bersifat meminta, yang sebenarnya seharusnya kami untuk selalu berterima kasih. Kami selalu merasa kurang. Kami tidak melihat bagi hamba-hamba-Mu yang lain, yang jauh kurang seberuntung kami, namun begitu lebih dalam pengterimakasihannya kepada-Mu. Tuhan diri ini malu. Peliharalah malu yang indah ini. Malu yang mengingatkan untuk tidak merasa kurang. Malu yang mengingatkan untuk bermental keberlimpahan dalam kehidupan.

Tuhan, dengan menyebut nama-Mu yang Maha Perkasa itu, yang kami dalam perasaan rindu dan ingin dekat dengan orang tua dan adik-adik kami, perkenankan kami  memohon, "sayangi mereka yang Tuhan, muliakan mereka ya Suci, lindungi mereka ya Penyayang, bahagiakan mereka ya Maha Perencana, pelihara mereka ya Pemilik Kekuatan, dan berikan rizki yang baik ya Pemilik Kehidupan..."

Tuhan, Engkau pemilik semesta, yang kami tidak ada apa-apanya, sekecil-kecilnya bentuk, namun Engkau sematkan status sebagai sebaik-sebaiknya makhluk, yang doa-doa kami Engkau dengarkan dan kabulkan, yang hanya sebesar dan secepat kesungguhan, ketulusan, dan keberpasrahan kami dalam menyegerakan perbuatan untuknya.

Tuhan, Engkau indah, titip salam untuk orang tua dan adik-adik kami yang lucu-lucu itu...

Ya Allah, Engkau lah Tuhan itu...


(Inspired by starving and poor old lady in Pamekasan...Ketika kami memiliki kelebihan, bahkan untuk makan hanya nasi saja beliau harus menahan dan menangis akan nya, dalam ketidakmampuan beliau...)

Tuhan, nikmatmu mana lagi kah yang kami dustakan...?

Monday, April 12, 2010

Other Autonomous Living



"Bangunlah kerajaanmu di atas tanahmu sendiri, jangan bangun kerajaanmu di tanah orang lain, karena orang lain juga
ingin membangun kerajaan mereka sendiri di tanah mereka sendiri. Hidup bukan memaksakan hebatnya kemegahan yang mampu
kita ciptakan untuk digunakan oleh orang lain, namun mempersilakan dan memuliakan orang lain di dalam kemegahan kita.
Hampir tidak pernah kata "mempersilakan" yang mencerminkan keadaan kekerasan dan keterpaksaan, ialah adanya kesalingtergantungan
tulus dalam keindahan kedamaian."

Semakin terasa hidup berubah. Semakin banyak hal yang mesti dipertimbangkan dengan matang. Semakin banyak hal yang
harus dikumpulkan untuk memberi lebih banyak. Ternyata malah seringnya, untuk mengumpulkan-untuk memberi banyak, dengan hanya
melakukan diam dan memahami orang lain, bukan sama sekali mencoba memberi dengan kumpulan yang telah sampai saat ini kita miliki.
Siapapun dia, kita tidak berhak, meski hidupnya ada karena ada hidupnya kita.

Waktu membuktikan bahwa setiap orang akan memiliki otonomi pikiran, perasaan, dan hasrat tersendiri dalam hidupnya.
Mungkin iya dulu mereka masih bergantung kepada kita dan kita secara aktif memberikan dengan penerimaan hampir selalu penuh dari
mereka, namun hidup terus berubah. Jika kita merasa lebih hebat, lebih tahu, dan lebih menguasai, yang membenarkan kita
untuk harus dituruti dan didengarkan selalu, mungkin itu hanya karena kita secara hukum alam lebih dulu. Mereka kini telah
mengalaminya juga. Jika kita merasa lebih, mungkin kenyataan saat ini yang tak tersadari oleh kita mereka malah lebih dari lebihnya
kita. Sehingga, relevansi itu akan selalu ada, namun dengan elemen, konten, nilai, atau komponen berbeda dengan waktu
yang berlaku sedang berjalan.

Pemikiran untuk menghidupkan dan berorientasi ke dan lebih ke dalam merupakan sebuah prinsip dan langkah arif untuk
menjadikan masih relevannya kita untuk di dengarkan (to be listened to) dan bukan hanya untuk didengar (to be heared to). Untuk secara dalam
dan penuh memahami, bukankah kita disyaratkan untuk tulus dan menundukkan hati terhadap sesuatu yang ingin kita mengerti?
Begitulah paradigmanya. Untuk didengarkan, kita harus mampu membuat mereka tulus dan menundukkan hati mereka untuk
mendengarkan kita. Ketulusan dan ketundukan hati tidak dapat dipaksakan, tidak lebih merupakan sebuah apresiasi dan
pengakuan penuh akan kepantasan kita untuk didengar. Dan ternyata, kepantasan itu dibangun bukan dengan memaksakan dari
dalam ke luar, namun memaksakan dari dalam ke dalam, atau dari luar ke dalam sebagai stimulus utama atau hanya penyempurna. Ketulusan
dan ketundukan hati itu datang dengan pengakuan mereka-untuk keharusan kita berempati, yang datang dan masuk ke dalam.

Selalu, carilah dan dengarkanlah yang berada di dalam secara lebih dalam, dan kumpulkanlah yang dari luar...

Monday, June 29, 2009

EXPANDING THE COMFORT ZONE (KKN part 2)


Sometimes, the ending is just the beginning…



Hidup itu seperti senja. Seolah dia mengatakan bahwa sesuatu yang akan datang itu menakutkan, tidak baik, dan kelam. Pada saat senja, kau merasakan akan tiba saatnya kegelapan berkuasa di bumi. Pada saat senja kau merasakan bahwa dirimu akan sendiri, sepi. Pada saat senja kau merasakan bahwa impian-impianmu itu sebenarnya hanyalah mimpi yang takkan pernah kau raih dan dapatkan. Pada saat senja pula kau merasakan akan sampai saat untuk merasakan kekosongan dan ketakutan.

Senja menjadi ketakutan tersendiri. Ketakutan dirimu akan keadaan seseorang yang kau sayangi di luar sana. Akankah dia baik-baik saja? Merasa nyaman dan amankah dirinya saat senja menjelang dan yang terjadi kemudian? Ketakutan akan dirimu yang tertinggal sendiri untuk menghadapi hari tanpa orang tua yang menasehati dan menyayangi. Seolah bumi dan segalanya isinya menjadi hal yang sangat sombong untuk bersahabat denganmu kemudian.

Tapi, jika kau cukup memiliki keberanian untuk melewatinya, bukankah malam itu indah. Semakin tua umur malam itu, semakin kau hanyut dan merasa tenang di dalamnya. Dengan menahan tidur kau bisa melihat bintang yang semakin malam semakin banyak jumlahnya. Bersahut-sahutan dalam kerlipannya. Membentuk sesuatu sehingga kau mengenal yang namanya rasi bintang. Menjadikan dirinya penting bagi para nelayan untuk mencari jalan pulang. Untuk membuat meriah samudera, yang awalnya sepi dan dingin, menjadi sebuah dunia perjalanan indah tersendiri bagi pelakunya.

*****


Agenda ini membuat kepayang. Dia dan tugas rutin, sungguh membuat nafas sudah tinggal di ubun-ubun. Satu tambah satu sama dengan tiga, begitulah si sinergi bekerja. It lessen my time. Mereka membuat tubuh semakin lebar dikarenakan kurang waktu untuk olahraga. Mereka membuat rambutku tegang selama setidaknya dua bulan terakhir ini. Mungkin ini yang menyebabkan uban setengah matang yang mengaku keren kemarin tumbuh di antara si hitam mayoritas di kepalaku.

Dalam waktu kurang dari seminggu, aku akan telah menginjakkan kaki di Sumatra. KKN MAHASISWA. Keren bukan nama agenda itu?? What do the people think about the university student exactly?? What can I do for the society?? Will it worthy for them??

‘Suka dengan hal-hal baru!!’

Begitu mengesankan bukan slogan itu. Tapi bukan aku yang menyatakannya. It’s just so overconfident. Biasanya banyak kau temukan pada akun-akun di Facebook atau Friendster atau Twitter, atau para artis yang mengucapkannya di acara talkshow atau infotainment. You and me must remember perhaps, that this is not easy to dealing with the new things, is it??

Pra dan setelah keberangkatan pasti telah dan akan membuatku seseorang yang berbeda. Mencoba mengidentifikasi dan berkontemplasi mengenai hal-hal baru yang telah dan yang akan datang. Nothing is perfect, but they will attribute you. Okay, I accept that. I have been trying to compromise with my self.


OUT OF THE COMFORT ZONE

Let me list the things which are not in my comfort zone. Here they are:

Rapat. Sebuah kata yang keren untuk diucapkan. Kata ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang beruntung dan memiliki kemauan. Beruntung untuk bisa sekolah, berorganisasi, memiliki pekerjaan, dan tentu mereka dapatkan karena mereka memiliki kemauan untuk itu. Tapi kadang-kadang (or often??), berorganisasi itu hanya seperti window dressing pada laporan keuangan, atau make-up pada wajah.

“Yah, aku ikut BEM agar curriculum vitae-ku lebih bagus aja nantinya” dengan senyum temanku mengatakan seperti itu kepadaku.

“Organisasi itu asyik lagi, ngecengin siapa kek gitu!!” Biasanya laki-laki yang dengan percaya diri menyatakan hal ini.

Aku harus ikut rapat. Terakhir rapat sepertinya sewaktu SMA. OSIS itulah nama organisasi keren nan narsis itu. Setidaknya agar tidak ketinggalan informasi mengenai agenda yang hanya ber-SKS tiga ini. But often bentrok dengan jadwal kuliah. Kuliah tentu menjadi prioritas. Kamu kan ke kota ini bukan untuk rapat Ky?? He….

Ngamen. Aku tidak tahu ini hal yang justifiable apa tidak. Tapi aku kini telah pernah berada pada posisi yang berbeda dalam kehidupan ini. Mengajarkanku untuk how to behave toward or treat them. They are great people actually.

Satu pengalaman menarik ialah ketika para foreign student yang kami coba hibur, dan mereka requested lagu berbahasa inggris, dan kami menyanyikan, but they just gave us Rp 1.000,- Padahal mereka sudah menang secara kurs dengan negara kasihan ini. Tetapi mereka hanya memberi sepersepuluh dolar Amerika. “Siapa suruh menyanyi fals!!”

Jualan Baju Bekas. Pukul tiga pagi yang mana ketika para karyawan SPBU yang bermata hanya tinggal lima watt, aku menggangu mereka. Perjalanan berjarak lumayan ke pasar depan Candi Prambanan. Baju, celana, tas-bekas yang kami kumpulkan dari para pemiliknya, terjual dengan harga tidak lebih lima ribu rupiah per item. Untuk baju, paling mahal berharga dua ribu. It’s was sold. Sejalan dengan meningkatnya ekonomi Indonesia yang diteriakkan pemerintah!!?? Or it’s just about the mentality??


EXPANDING THE COMFORT ZONE

I faced those realities. Give me other perspectives, about the people, about the life, and about the process. Prior, I bothered me, my comfort zone. But, Don’t we have to change, do we?? To survive, to be better, to be stronger, to be wiser, to be greater.

The Change, a word that I’m not supposed to be afraid of. It’s all about expanding the comfort zone solely…

Saturday, June 13, 2009

A BLESSING WEEK


You can’t count what the God has been giving the all to you, that you have to do is just expressing your gratitude…


The Miracle of Alms

Siang Kamis tanggal 4 Juni 2009. Siang yang begitu terik. Di sela-sela kesibukan untuk mempersiapkan tugas presentasi, aku menyempatkan diri untuk melangkahkan kaki ke gedung pusat, meninggalkan tim yang menyelesaikan tugas masing-masing.
Aku tergesa-gesa, berjalan cepat dan berlari kecil, agar tidak terlalu lama meninggalkan tim.

Sesampai di gedung pusat lantai tiga, tarik-hembus nafasku begitu cepat. Karyawan gedung pusat sudah menunggu bagi para peserta KKN untuk mengambil properti-properti dan dokumen / pencatatan yang harus dilakukan dalam KKN nanti. Aku mengantri di belakang kerumunan mahasiswa jilbaber.

Tiba giliranku. Salah satu karyawan ini membuatku sedikit jengkel dengan dirinya. Sok tahu, sok berkuasa, dan feminim. Aku manggut-manggut saja untuk mempercepat proses ini. Aku pulang, sangat singkat.

Di perjalanan menuju kembali ke kampus fakultas ekonomi, aku melihat seorang nenek dengan dua cucu beliau mungkin. Kedua anak tersebut kembar. Pakaian sama, tinggi sama, dan wajah sama. Mereka bertiga terlihat berpakaian lusuh, namun si kembar yang mungkin berumur 2,5 tahun tersebut saling bercengkrama, mereka senang. Sementara sang Nenek, menenteng plastik besar transparan. Apa yang sedang di bawa sang nenek terlihat olehku, tapi aku tidak tahu apa itu. Pakaian atau apa? Yang pasti juga lusuh.

Tidak sedikit kaum papa yang berseliweran di kampus yang katanya kerakyatan ini. Mengais-ngais barang rongsok, lusuh, dan bekas di sekitaran kampus, yang mungkin di balik barang-barang yang kedinginan dan sendirian itu, ada suatu nilai yang bernama rezeki. Sementara sang ibu duduk melipat-lipat plastic transparan lebar di bawah tangga, sang anak bermain mobil-mobilan di mushala kampus. Sementara sang anak tertawa dan tersenyum senang melihat ikan-ikan yang berwarna dalam kolam-kolam kampus, sang ibu menengadahkan gelas plastik bekas gelas teh kepada para mahasiswa yang berlalu lalang. Mereka tidak mengindahkan jarak duduk mereka dengan lewatnya mobil-mobil dosen dan mahasiwa. Mungkin kehadiran mereka terlihat mengherankan di mata sivitas, dosen tamu, ataupun CCTV kampus. Atau sivitas sudah mulai menyesuaiakan diri dengan hal ini. Mereka tidak perduli.

Melihat dua cucu kembar sang nenek tadi, aku tersenyum miris. Senang dan sedih melihat mereka tertawa. Pikiranku langsung terasosiasi kepada adikku. Bagaimana jika mereka adalah nenek dan adik-adikku. Syukur terpanjat dalam hati dengan kondisi diri ini jika dibandingkan dengan mereka. Aku menghentikan motor, membuka dompet untuk mencari rupiah yang bisa dialirkan kepada mereka. Nenek yang melihatku berhenti langsung berjalan menuju kepadaku. Kejadian ini dilihat setidaknya oleh empat petugas parkir gedung pusat. Aku memberikan nenek tersebut rupiah yang hanya senilai dengan dua kali makan standar di kota ini.

“Terima kasih, Tuhan nanti yang akan membalas semuanya!!” Nenek berucap kecil.

Aku merasa bahagia, sedih, dan perasaan lain yang bercampur. Sekali lagi aku bersyukur dengan kondisi diri sendiri.

Tidak lama aku tiba di kampus untuk melanjutkan tugas presentasi, panggilan masuk handphone yang berbunyi kecil menghentikan konsentrasiku. Ternyata dari ibuku. Beliau menanyakan kabar aktifitas kuliahku. Apakah ada hari senggang sedikit dalam beberapa hari ke depan ini. Aku menjawab, seminggu ke depan aku minggu tenang. Beliau memintaku untuk bertemu di suatu kota karena tak sempat untuk singgah di kota bakpia ini. Artinya aku akan bertemu ibu dan adik-adikku, libur sebelum tempur ujian, dan tentu menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan mereka.

Telepon ini tidak lebih dari lima belas menit setelah aku memberikan sejumlah rupiah kepada nenek dan cucu-cucunya tadi. Jika tadi aku menjadi rindu dengan adik-adikku karena melihat si kembar itu, kini Tuhan justru memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan mereka dan tentunya Ibuku. Aku merasa keraguanku atas pernyataan-pernyataan kerap Ustadzh Yusuf Mansyur kini terjawab. Aku tidak-menyangka cara dan jalannya. Tuhan memberitahuku dengan caranya yang tidak terduga, dengan lebih berlipat nilainya. That’s the miracle of alms.


HUKUM TERBALIK YANG MENGHEMPASKAN


Tidak terasa dua hari bertemu dengan ibu dan adikku, akhirnya kami harus berpisah kembali. Aku harus kembali ke kota bakpia dan beliau kembali ke rumah. Agenda beliau kali ini telah selesai.

Masih teringat di kepalaku bagaimana paniknya ketika diaper adikku yang penuh, yang hanya ada aku di situ.

“Tunggu jika Mama sudah datang, baru ganti”. Begitu yakin aku mengucapkan kalimat itu, adikku masih belum mengerti. Dua jam menjaga seorang balita sama susahnya untuk meminta maaf kepada pasangan. Keduanya sama-sama membutuhkan aku berperilaku melelahkan, untuk membuatnya tidak marah, tidak membosankan, dan mau tersenyum.

Masih teringat betapa kencangnya teriakkan adikku ketika dia berteriak karena sandal yang baru dibelinya itu tidak memuaskan hatinya. Sandal tersebut tidak mengikuti keseluruhan kakinya ketika berjalan. Sebagian sandal berkhianat dari bentuk kakinya. Dia marah, berteriak, dan memukul lantai ubin dengan keras, walhasil dia kecewa sendiri dan menangis kencang. Semua pengunjung tempat perbelanjaan melihat kepadanya dan aku dan ibuku. Ah bikin malu aja.

Masih teringat dengan adikku yang begitu menikmati mobilitas menggunakan lift. Kotak ajaib yang mengantarkan tubuh tanpa lelah. Berjalan dan berlari di lobby yang penuh dengan orang-orang dengan urusan masing-masing. “Sini ah, diam sini, aku capek!!” Yah, dia jalan-jalan lagi.

Kami menuju barisan taksi yang mengantarkan ibu dan adikku ke bandara. Sementara aku akan menggunakan taksi yang lain untuk menuju stasiun kereta api.

Ibuku masuk ke taksi setelah memasukkan adikku terlebih dahulu.

“Mama pulang ya, terima ya Nak!!”

“What??” ibuku mengucapkan terima kasih kepadaku. Sebuah kata yang tidak sepantasnya diucapkan oleh seorang ibu kepada anak-anaknya. Aku merasa seperti tidak merasa. Kenapa ibuku mengucapkan kalimat itu. Mungkin aku merasa durhaka, seharusnya aku lah yang mengucapkan hal itu, selalu, tanpa harus menunggu lebaran dan hari ulang tahun, dan momen-momen berjarak waktu lama yang lain. Aku sudah untuk sepantasnya membuat beliau bahagia. Tiada seorang yang berhasil, tanpa keberhasilan sang ibu dalam mendidik anak-anaknya. Tiada seorang pemimpin berhasil tanpa keberhasilan sang ibu dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anaknya. Tiada kelembutan seorang anak tanpa kelembutan yang dicurahkan oleh sang ibu. Melalu satu kata yang universal dan kekal,yaitu CINTA.

“Saya Ma’ yang seharusnya berterima kasih” aku menjawabnya.

Ibuku menciumku dan aku mencium adikku. Kami berpisah.

Saturday, June 6, 2009

Never Before


Dalam perasaan tenang, untuk beberapa waktu…

Pagi menuju subuh. Aku merasa sedikit leluasa untuk bernafas dan bergerak. Akhir-akhir ini merupakan masa yang sungguh menghimpit dalam ekstase tugas-tugas kampus. At least, kurang dari dua puluh empat jam, aku harus melakukan dua presentasi. I commited to be all out for the both. Keduanya mata kuliah favorit. Mata kuliah yang membelalakkan mataku dan mengarahkan kakiku untuk melangkah pada dunia yang sebelumnya belum ku pijak, menuju dunia yang lebih menantang. A new greater world!! “Hello, ini lo sesuatu yang harus kau lihat!!” mungkin mereka berkata begitu.

Ekspektasiku lebih kurang lima bulan yang lalu pada kedua dosen ini terjawab, meski tidak sempurna. Itu hanya merupakan masalah klasik ekonomi, mengalokasikan sumber daya yang terbatas. Sementara the others merasa hari Kamis itu hari yang menyesakkan, bagiku setiap hari tersebut , lima bulan terakhir, merupakan hari yang benar-benar hebat, I would not miss this day!! Because they challenged me!! Dan aku menerima tantangan itu.

Pagi ini, aku membuka kembali slide powerpoint yang telah kubuat kemarin. Mengorbankan waktu tidur. Berdamai dengan sang fisik. Aku minta dia memberiku excuse untuk hanya sedikit tidur dari biasanya, dan dia memintaku untuk memberikan kompensasi atas kebaikannya tersebut. Aku memberinya dua biji Vitacimin dan konsumsi air yang cukup per hari. “Ok, aku setuju, It’s a great deal, wasn’t it body??” Meski tarik ulur dengan radang tenggorokan tidak terelakkan.

Sudah sifatku untuk membenci slide-slide yang panjang lebar. Aku merasa seolah mereka mengganti PowerPoint dari Microsoft menjadi PowerScript. Maukah Anda diberikan wejangan presentasi seseorang yang mana slide-slide yang dibuatnya seperti koran yang harus Anda baca berjarak setidaknya lima meter?? Apakah Anda tidak bertanya ketika keadaan tersebut menimpa Anda, bukannya aku seharusnya mengikuti presentasi sore ini tapi kenapa aku berada di tempat tes kemampuan mata?? Menjemukan!!

So, aku memaksa tim untuk tidak menggunakan paparan yang panjang lebar. That was how the PowerPoint should work!! Selain itu, aku juga meminta agar tidak membawa catatan kecil ketika memberikan presentasi. Show your capability up!! Dan mereka menerimanya. Thankyou-thankyou my team. Ini demi kebaikanmu. Hehe…

Selain itu, aku berusaha untuk meng-insert gambar-gambar yang relevan dan explaining di tiap-tiap slide. Dalam hal ini aku berterima kasih kepada Larry Page dan Sergey Brin atas Google-nya. Juga, dengan kata-kata touching dan unusual, but it must be relevant of course. I made it. Aku rasa terlalu sempit jika kita merasa kesuksesan hanyalah ketika kita mampu mencapai target nun jauh di sana beberapa tahun lagi itu yang kita sangat idam-idamkan. Change it!! Respect your life!!

This story is not about me. This is about dua dosen hebat yang aku banggakan. Mungkin suatu saat aku harus mendirikan fans club untuk dua dosen hebat ini. Memang titel impor mereka bukan sebuah retorika. Dan untuk pertama kalinya kepada seorang dosen aku mengucapkan “Pak minal aidin wal faidzin ya Pak, LUAR BIASA!!” Aku bukan tipe seperti Pasha atau ‘aktifis’ MLM yang sering mengeluarkan kata LUAR BIASA dalam keseharianku.

My lecturers, thank you so much…

P.S : Ini masalah tendensi dan point of concern, bukan berarti yang lain tidak baik.