Thursday, December 23, 2010
Hari Untuk Sang Ibu
Friday, December 17, 2010
Tentang Hati
Anything happens, be kind and be right, always…
Sehingga, jika terasa olehmu sesuatu yang membuatmu merasa lebih dibandingkan mereka, dan seolah dibenarkan untuk menjadi sombong, bersyukurlah karena telah memiliki kekasih Tuhan itu.
Bukankah hati selalu memanggil dengan suaranya yang meskipun kadang jelas, kadang samar itu?
Karena, kedamaian dan kepuasan hati itu hanya merupakan akibat dari pikiran dan hati yang baik. Pengertian kata ‘logis’ sebagai proxy dari baik dan benar ialah salah satu kecerdasan yang sesungguhnya!
P.S.:
"Tia" ialah pronomina untuk nomina dalam Ejaan Suwardjono. Dalam bahasa Inggris, kita mengenalnya dengan kata "it". Sedangkan untuk bentuk jamaknya ialah "meretia".
Saturday, November 27, 2010
My Self-Preaching Note on Facebook
Hanya karena mata dapat menceritakan siapa kita,
bukan berarti kita harus menutup mata
dalam berinteraksi secara sosial sehari-hari.
Nasihatnya ialah,
jauh lebih mudah untuk menjadi baik secara autentik...
(self-preaching note #1)
Every victory begins with a decision to fight.
(self-preaching note #2)
The more you do the virtue to the life, the more the life will pay attention to and care about you.
(self-preaching #3)
There must be no satisfaction for those
who have great and super visions in the future,
yet they have to always be grateful for everything that
both has been accomplished and hasn't been accomplished.
(self-preaching note #4)
Either you win or you lose, you just have to reflect all, finding that disguised meaning.
(self-preaching note #5)
One of the excitement of life is
knowing something new and interesting for you.
So, come on...!!!
Pursue, chase, discover, and get it!!
Life is all about growing and learning. :)
(self-preaching note #6)
Life is sometimes like TOEFL test.
Beside you have to learn and master the skills,
you are also supposed to be quick and prudent in doing the test.
Lebih cepat lebih baik (JK), love him so much...:)
(self-preaching note #7)
Yang masih lebih indah dan menarik untuk dibicarakan
antara pelayanan dan pengetahuan
ialah pelayanan...
Pelayanan ialah catatan dalam kehidupan atas penggunaan
sumber daya diri secara bermanfaat bagi orang lain.
(self-preaching note #8)
The first step that should be taken for being a winner
is to win of the thought of loser.
It is to believe in and to ensure yourself.
We ought to get everything positive.
Concluded that,
we are about to get the triumphant of inferiority within our mind...
(self-preaching note #9)
There is a great woman behind every single great leader.
If it is not mother, it is wife.
But, I believe both, mother first, then wife...
The nation will be that great & powerful if it has great leaders.
It is government's task, if not saying a must,
to keep and empower woman to be great
by giving safety, prosperity, education, understanding, & inspiration,
so they can give birth & grow great leaders.
Tenderness rises strength is just another example of life's laws...
(self-preaching note #10)
Wednesday, July 14, 2010
Berbagi-lah (Serahkan-lah)
"Sebenarnya, kata 'berbagi-lah' itu tidak tepat, namun' serahkan-lah' yang tepat. Karena di tiap-tiap yang kita miliki, ada sebagian yang merupakan milik mereka. Ingat lah untuk menyerahkan nya…"
Minggu malam, pukul delapan lebih dua puluh menit, seperti biasa aku dan beberapa saudara satu kos makan bersama, di warung makan sekitar kos. Namun, kali ini berbeda, kami berkeinginan untuk pergi ke warung makan di tempat yang agak jauh.
Aku mengendarai motor sendiri, sementara mereka berboncengan berdua. Aku menyalakan motor duluan, dan memulai mengendara dengan santai, menuju pintu gerbang gang. Sesampai di pintu dan berbelok kiri, masih dengan pengendaraan motor yang santai. Mata ku menoleh ke kiri, ke salah satu bangunan dan menemukan pemandangan yang tidak biasa. Jikalau biasanya hanya seorang bapak parkiran yang telah berumur mungkin lebih dar 50 tahun-an, saat ini ku lihat seorang ayah yang berumuran mungkin sekitar 35 tahun dan anak perempuan berjilbab dalam dekapan nya yang sedang pulas memejamkan mata, entah karena sakit atau tertidur. Ayah yang berkumis tebal tersebut terlihat seperti seorang yang tidak bersahabat, namun bagaimana sikap tubuh nya yang saat ini sedang memeluk erat sang anak dengan sepenuh-penuh nya kasih sayang dan melindungi, menggagalkan persepsi ku tersebut. Mereka di depan sebuah bangunan yang telah tutup.
Motor terus ku jalankan sambil berpikir…
'Sungguh kasihan sekali mereka, dengan pakaian yang aku bersyukur aku masih memakai yang lebih baik. Terbesit hati ku untuk melakukan nya, namun bagaimana jika beliau menolak bahkan marah? Mungkin beliau bukan tipe yang seperti itu? Tapi penampilan mereka sangat menyentuh dan mengundang hati untuk melakukan nya.'
Aku berhenti, yang membingungkan Muksin dan Jali yang juga ikut berhenti.
"Kenapa Ki, gak jadi?" mereka bertanya kepada ku.
"Emh, duluan aja, aku nyusul nanti."
"Oke."
Aku berbalik arah, dan memberhentikan motor di tepi jalan, mungkin sekitar 2,5 meter di depan mereka. Aku mengeluarkan selembar rupiah berwarna hijau.
"Sakit ya Pak anak nya?"
"Beubou…"
Aku menangkap kata 'bobo'.
"Beubou…" beliau mengucapkan nya kembali.
"Oh tidur ya Pak. Ini ya Pak ya…"
Beliau sesegera mungkin 'menyambar' tanganku untuk mengambil yang ingin kuberikan kepada beliau dan mengucapkan kata 'maturnuwun' berkali-kali. Suara beliau tidak jelas, seperti memiliki kekurangan dalam hal berbicara. Aku tidak tahu bawaan lahir yang bagaimana ini. Namun, beliau berucap dengan susah payah sekali, sementara sang anak tertidur pulas dengan balutan sarung batik kuning yang telah lusuh dan menggunakan jilbab berwarna merah muda yang menggradasi menjadi putih kusam.
"Mari Pak ya…"
Aku menyadari gerakan tubuh ku mengurangi rasa ku kepada diri sendiri.
Aku melanjutkan perjalanan ku menuju warung makan yang saudara-saudara ku telah lebih dulu pergi. Sungguh hati ku sangat tersentuh dan dengan banyak pertanyaan di kepala. 'Kemana istri beliau?' 'Beliau dari mana dan mau kemana?' 'Apakah sudah makan?' 'Apakah tidak memiliki uang untuk transportasi?' 'Apakah beliau selalu bersedih dalam hidup nya dengan kondisi seperti itu, atau bahkan tidak pernah dikarenakan kebesaran jiwa beliau dan keberserahan kepada Sang Pencipta?' 'Dimana rumah beliau?' 'Apakah beliau berhenti dan duduk di situ hanya karena sang putri yang tertidur, untuk tidak mengganggu tidur nya?' 'Apakah beliau sudah makan?' 'Apakah beliau sudah makan?' 'Apakah beliau sudah makan?'
Sungguh mengharukan. Aku mengharapkan untuk airmata ku jatuh saat ini. Ini sama sekali bukan tentang kecengengan, bukan! Aku ingin merayakan kebesaran Engkau ya Tuhan dan kebesaran mereka. Aku merasakan ada begitu banyak malaikat yang hadir di situ. Tatapan sayang dan haru dari nabi-nabi di surga sana. Orkestra dan simfoni alam yang mengalahkan bisingnya hiruk pikuk motor dan mobil yang melintas. Tuhan, sungguh besar saat ini. Sungguh hebat kehidupan ini. Aku ingin menangis Tuhan. Aku merasa kasihan yang teramat dengan mereka.
Di satu ruang di kepala ku terucap serapah-serapah yang menyampahkan.
'Seharusnya malu pemimpin yang tidak amanah itu dengan contoh keadaan ini yang begitu banyak jumlah nya di negeri ini.' 'Seharusnya para koruptor tersentuh dan tersadar betapa biadab nya mereka dengan melakukan korupsi!' 'Engkau negara, kenapa begitu lemah? Apakah karena sudah terlalu banyak anak-anak mu yang tidak amanah dan melakukan korupsi sehingga hanya berdiam, meringis, dan menangis? Aku ingin mengatakan engkau, aku, dan semua orang yang ada dan dilahirkan di negeri ini seharusnya malu dengan keadaan ini. Ini bukan miskin nya harta kita, namun miskin nya perilaku kita!'
Aku malu dengan diri ku.
Aku merasa kurang sementara juga merasa sangat lebih.
Aku mengakui, ketika kebaikan dilakukan dengan ketulusan itu, tak pernah ada kata cukup, bahkan memuaskan.
"Tuhan perbanyaklah pemimpin yang amanah. Berikanlah kewenangan-kewenangan dan kemampuan-kemampuan besar kepada pemimpin-pemimpin masa depan untuk bisa menjamin dan memastikan pemuliaan dan pengasih-sayangan kepada hamba-hamba Mu yang seharusnya berhak itu ya Tuhan…"
Friday, July 9, 2010
Santunlah
“Bukan karena tidak berdaya-nya kita untuk menyetarai bahkan mengungguli kekasaran atau ketidaksopanan yang dilakukan oleh orang lain kepada kita yang membatalkan penghormatan kita kepada orang lain, bukan. Namun hanya sebuah wujud penghormatan kita kepada diri agar merasa pantas terlibat dalam pergaulan-pergaulan yang santun nan membesarkan dalam dekapan keceriaan dan kedamaian.”
“Bapak dosen ya Pak?” aku bertanya dengan santai sambil duduk dan mendongak melihat beliau yang berdiri.
“Bukan, saya kerja di Amerika” dengan santai beliau menjawab dengan pesona kerendahan hatinya, dengan bahasa Indonesia agak kaku. Beliau balik bertanya, “Anda mahasiswa?”
“Iya Pak. Bapak kok bisa kerja di Amerika dan saya mengira dosen sejarah?” aku menjawab dan bertanya lagi, sambil berdiri setelah kaget dengan jawaban beliau. Padahal sebelumnya aku menebak mungkin beliau dari Sumatra. I was totally wrong about him.
“Saya kerja di perusahaan informatika. Jurusan apa?
“Akuntansi Pak”.
“Owh, mudah cari kerja ya” sambil tersenyum beliau.
“Mudah-mudahan Pak. Oh iya Pak, saya Fakhri” sambil menawarkan jabat tangan.
“ini kartu nama saya”.
Tuesday, June 29, 2010
Kenapa Sulit Untuk Hatimu Bersyukur?
"Kehidupan ialah,apa yang seharusnya yang penting..."
Monday, April 12, 2010
Other Autonomous Living

"Bangunlah kerajaanmu di atas tanahmu sendiri, jangan bangun kerajaanmu di tanah orang lain, karena orang lain juga
ingin membangun kerajaan mereka sendiri di tanah mereka sendiri. Hidup bukan memaksakan hebatnya kemegahan yang mampu
kita ciptakan untuk digunakan oleh orang lain, namun mempersilakan dan memuliakan orang lain di dalam kemegahan kita.
Hampir tidak pernah kata "mempersilakan" yang mencerminkan keadaan kekerasan dan keterpaksaan, ialah adanya kesalingtergantungan
tulus dalam keindahan kedamaian."
Semakin terasa hidup berubah. Semakin banyak hal yang mesti dipertimbangkan dengan matang. Semakin banyak hal yang
harus dikumpulkan untuk memberi lebih banyak. Ternyata malah seringnya, untuk mengumpulkan-untuk memberi banyak, dengan hanya
melakukan diam dan memahami orang lain, bukan sama sekali mencoba memberi dengan kumpulan yang telah sampai saat ini kita miliki.
Siapapun dia, kita tidak berhak, meski hidupnya ada karena ada hidupnya kita.
Waktu membuktikan bahwa setiap orang akan memiliki otonomi pikiran, perasaan, dan hasrat tersendiri dalam hidupnya.
Mungkin iya dulu mereka masih bergantung kepada kita dan kita secara aktif memberikan dengan penerimaan hampir selalu penuh dari
mereka, namun hidup terus berubah. Jika kita merasa lebih hebat, lebih tahu, dan lebih menguasai, yang membenarkan kita
untuk harus dituruti dan didengarkan selalu, mungkin itu hanya karena kita secara hukum alam lebih dulu. Mereka kini telah
mengalaminya juga. Jika kita merasa lebih, mungkin kenyataan saat ini yang tak tersadari oleh kita mereka malah lebih dari lebihnya
kita. Sehingga, relevansi itu akan selalu ada, namun dengan elemen, konten, nilai, atau komponen berbeda dengan waktu
yang berlaku sedang berjalan.
Pemikiran untuk menghidupkan dan berorientasi ke dan lebih ke dalam merupakan sebuah prinsip dan langkah arif untuk
menjadikan masih relevannya kita untuk di dengarkan (to be listened to) dan bukan hanya untuk didengar (to be heared to). Untuk secara dalam
dan penuh memahami, bukankah kita disyaratkan untuk tulus dan menundukkan hati terhadap sesuatu yang ingin kita mengerti?
Begitulah paradigmanya. Untuk didengarkan, kita harus mampu membuat mereka tulus dan menundukkan hati mereka untuk
mendengarkan kita. Ketulusan dan ketundukan hati tidak dapat dipaksakan, tidak lebih merupakan sebuah apresiasi dan
pengakuan penuh akan kepantasan kita untuk didengar. Dan ternyata, kepantasan itu dibangun bukan dengan memaksakan dari
dalam ke luar, namun memaksakan dari dalam ke dalam, atau dari luar ke dalam sebagai stimulus utama atau hanya penyempurna. Ketulusan
dan ketundukan hati itu datang dengan pengakuan mereka-untuk keharusan kita berempati, yang datang dan masuk ke dalam.
Selalu, carilah dan dengarkanlah yang berada di dalam secara lebih dalam, dan kumpulkanlah yang dari luar...




