Thursday, December 23, 2010

Hari Untuk Sang Ibu



"Kau tak kan pernah tahu nak sampai kau telah mencobanya..." Mama.



Ibu,
Pemberian-Nya yang teramat mulia itu
Penuh cinta dan kasih sayang…
Yang melingkupimu
Menggenapimu
Dan membuatmu meyakini,
Bahwa hidup itu indah dan menyenangkan


Ibu,
Pelita kebesaran kehidupan itu
Mengerti dan memberi…
Yang membesarkan hatimu
Mensejajarkanmu
Dan memberikan nasihat dan pengertian,
Bahwa engkau layak berdiri


Ibu,
Sang kokoh dalam kelembutan itu
Penasihat dan pembentuk kebaikanmu…
Untukmu berlaku benar
Santun dan halus
Dan mengingatkan,
Bahwa engkau adalah pemimpin kehidupan




Untukmu Ibu, kasih hatimu seluas samudera
Untukmu Ibu, teduh wajahmu seperti senyuman senja
Untukmu Ibu, kekuatan cintamu laksana kerasnya baja
Untukmu Ibu, kelembutanmu itu melebihi sutera dan permata



Engkau tak ternilai Ibu
Engkaulah kemegahan dan kemuliaan itu

Kami anak Ibu, Ibu
Kami adalah bentuk dari ketulusan ibu

Ibu, Selamat Hari Ibu…


Posted in ibukota, bersama ibu, di hari ibu...



Friday, December 17, 2010

Tentang Hati



Anything happens, be kind and be right, always…



Beruntung sekali bagi mereka yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab perbaikan dan pemenuhan diri sendiri ke arah yang lebih baik. Pikiran dan hati mereka diisi oleh pengertian baik. Statemen yang menyatakan “you are the owner or the boss of yourself” begitu berlaku dalam benak mereka. Hati mereka telah disentuh kelembutan baik yang bersumber dari lingkungan, khususnya orang tua, dan terkhusus lagi sang Ibu.

A mother not only gives you the direction, but also gives the power to get there, doesn’t she? Beliau tidak hanya membuat kita mengerti, namun juga memberi bahan bakar untuk kita menuju ke sana. Juga, tak terlupa doa yang sungguh teramat indah itu, yang beliau panjatkan dalam interaksi syahdu dan haru dengan Sang Pemilik kehidupan.

Sehingga, jika terasa olehmu sesuatu yang membuatmu merasa lebih dibandingkan mereka, dan seolah dibenarkan untuk menjadi sombong, bersyukurlah karena telah memiliki kekasih Tuhan itu.

Karena, bagi sebagian mereka yang mungkin engkau merasa sangat jauh di bawahmu, dan tidak lain hanya para penelantar dan penyia-nyia menurutmu, cobalah mengerti dan berpikir lebih besar dan bijaksana, mungkin saja mereka tidak seberuntung kita, memiliki Ibu dengan apa yang dilakukannya seiring hela nafas tak hentinya itu, untuk menjadikanmu seindah-indahnya seseorang di masa depan. Ibu, ialah setinggi-tingginya anugerah itu.

Manusia cenderung kepada kebaikan dan pada akhirnya akan menuju ke sana. Karena, manusia itu dirajai oleh hati yang potensial dengan kekhususannya untuk kebaikan dan kebenaran. Hati itu dari Tuhan, Namun, terkadang dan seringnya keaktifannya sangat bergantung dengan lingkungan.  This is the milieu that determines ialah sebuah hukum kehidupan yang sangat sulit untuk disangkal kebenaranya secara empiris. Pun bagi seseorang yang telah mampu keluar dan menjauh dari kubangan lingkungan kenegatifan yang luas dan mencengkeram itu, tetap masih memiliki lingkungan yang positif, walaupun mungkin tidak luas, namun daya dobraknya luar biasa. Lingkungan positif tersebut secara emosional menyentuh dan menginspirasi dirinya untuk memutuskan menjadi lebih baik. Lingkungan positif itu menyeka dengan lembut penatnya kekeliruan diri. Ini tentang hati, tentang kebaikan, dan tentang kebenaran.

Mereka yang muda, mereka yang mencari. Mereka yang sibuk, mereka yang ke sana ke mari, mereka yang pergi. Namun, mereka juga yang bingung dan tersasar sendiri. Mereka juga yang kadang sakit hati. dan yang membela diri.

Namun, memang itu bukan hukumnya?

Yah, bukankah mereka juga yang akhirnya mengerti dan memahami. Mereka juga yang akan bijaksana nantinya. Kutipan dari Kahlil Gibran: “aku lebih memilih menjadi seorang pemimpi di antara mereka yang rendah hati, dengan visi yang harus direalisasikan, dibandingkan raja di antara mereka yang tanpa mimpi dan hasrat” ialah sebuah nasihat yang mengangguk dan menyetujui kepada mereka yang muda, yang memiliki cita-cita, hasrat, impian, dan visi di masa depan. So, why not then? What else we can do right? Welcome into the journey…

Kesibukan pencarian itu membawa konsekuensi tentunya. Konsekuensi tidak lain ialah sesuatu yang 100% mengikuti setelah sesuatu dilakukan atau diputuskan; tidak seperti risiko yang hanya 50% itu kemungkinan terjadinya. Itu kenapa mereka yang muda-yang mencari juga sering bingung dan kadang tersasar sendiri ialah tidak lain lain salah satu hukum konsekuensi yang berlaku dalam kehidupan.

Kebingungan dan tersasar itu merupakan konsekuensi, hanya masalah waktunya yang berbeda antar tiap pribadi. Mereka ialah para pengumpul impian yang diberitahukan oleh hidup untuk mengumpulkan hal lain dengan pemberian kebingungan dan ketersasaran itu sebelum mencapai impian-impian mereka. Hidup hanya ingin mengatakan bahwa ini ialah proses belajar. Karena pembelajaran dan pertumbuhan itu ialah salah satu komponen kesuksesan--nomor dua bahkan--menurut definisi seorang tokoh hebat tentang kepemimpinan dari Amerika itu.

Pembelajaran dan pertumbuhan ialah definisi kata sukses setelah ‘mengetahui tujuan hidup’ sebagai definisi sebelumnya. Bahkan, saking pentingya, pembelajaran dan pertumbuhan menjadi salah satu dari empat perspektif yang dipetuahkan oleh Balanced Scorecard untuk keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang, dalam lingkungan busines yang turbulen dan dinamis seperti sekarang. Omong-omong, kata ‘busines’ ialah salah satu penggunaan dari Ejaan Suwardjono, untuk meninggalkan penggunaan kata ‘bisnis’ dalam bahasa Indonesia. Cantik sekali!

So, bagaimana kemudian setelah kebingungan itu datang, setelah tersasar pada keadaan yang belum dimengerti sebelumnya bagi mereka yang muda?

Tuhan memerintahkan untuk membaca ialah untuk terperbaikinya pengertian, di samping mendengarkan mereka yang lebih “tua” yang lebih mengerti dan lebih ahli, yang membuat Sang Nabi untuk menasihatkan bahwa pekerjaan harus diserahkan kepada ahlinya, bukan?

Hukum Kepantasan. Ya itulah maksudnya. Omong-omong lagi, kata ‘tua’ sengaja diberikan tanda petik yang mengartikan ‘kepantasan’, karena ternyata dunia dengan perilakunya semakin memaksa untuk memperluas makna kata itu. Kalau aku  tidak keliru, dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas dua SLTP, ini disebut amelioratif, iya?

Kembali ke hati yang keefektifan kinerjanya hanya sebesar keefektifan kinerja tubuh untuk peduli kepadanya dalam menemukan sifat bawaannya. Hati hanya akan aktif secara efektif jika tia ditundukkan, direndahkan, dan dibuka dengan pengertian dan pergaulan baik dengan membaca dari sumber baik dengan niat baik, dan meminta nasihat dari orang yang baik. Pengertian dari buku dan nasihat itulah yang menjadikan pikiran yang sebagai wakil dari hati itu bekerjanya logis; selaras dengan sifat bawaan hati, yaitu untuk baik dan benar.

Bukankah hati selalu memanggil dengan suaranya yang meskipun kadang jelas, kadang samar itu?

Tuhan, dalam kesadaran diri yang terlalu sering membelakangi Engkau dan tidak sepenuhnya taat ini, terima kasih Engkau telah memberikan pengertian dan nasihat baik ini. Tuhan, nikmatmu yang mana lagikah yang aku dustakan. Tuhan, logiskanlah pikiran dan yakinkanlah hati ini bahwa apapun yang terjadi, menjadi tetap baik dan benar itulah yang lebih penting.

Karena,  kedamaian dan kepuasan hati itu hanya merupakan akibat dari pikiran dan hati yang baik. Pengertian kata ‘logis’ sebagai  proxy dari baik dan benar ialah salah satu kecerdasan yang sesungguhnya!


Anda hanya pantas mendapatkan apa yang telah anda lakukan, give back that envelope until you have worked!


P.S.:
"Tia" ialah pronomina untuk nomina dalam Ejaan Suwardjono. Dalam bahasa Inggris, kita mengenalnya dengan kata "it". Sedangkan untuk bentuk jamaknya ialah "meretia".

Saturday, November 27, 2010

My Self-Preaching Note on Facebook






Hanya karena mata dapat menceritakan siapa kita,
bukan berarti kita harus menutup mata
dalam berinteraksi secara sosial sehari-hari.
Nasihatnya ialah,
jauh lebih mudah untuk menjadi baik secara autentik...
(self-preaching note #1)


Every victory begins with a decision to fight.

(self-preaching note #2)


The more you do the virtue to the life, the more the life will pay attention to and care about you.

(self-preaching #3)


There must be no satisfaction for those
who have great and super visions in the future,
yet they have to always be grateful for everything that
both has been accomplished and hasn't been accomplished.

(self-preaching note #4)


Either you win or you lose, you just have to reflect all, finding that disguised meaning.

(self-preaching note #5)


One of the excitement of life is
knowing something new and interesting for you.
So, come on...!!!
Pursue, chase, discover, and get it!!
Life is all about growing and learning. :)

(self-preaching note #6)


Life is sometimes like TOEFL test.
Beside you have to learn and master the skills,
you are also supposed to be quick and prudent in doing the test.
Lebih cepat lebih baik (JK), love him so much...:)

(self-preaching note #7)


Yang masih lebih indah dan menarik untuk dibicarakan
antara pelayanan dan pengetahuan
ialah pelayanan...
Pelayanan ialah catatan dalam kehidupan atas penggunaan
sumber daya diri secara bermanfaat bagi orang lain.
(self-preaching note #8)


The first step that should be taken for being a winner
is to win of the thought of loser.
It is to believe in and to ensure yourself.
We ought to get everything positive.
Concluded that,
we are about to get the triumphant of inferiority within our mind...
(self-preaching note #9)


There is a great woman behind every single great leader.
If it is not mother, it is wife.
But, I believe both, mother first, then wife...

The nation will be that great & powerful if it has great leaders.
It is government's task, if not saying a must,
to keep and empower woman to be great
by giving safety, prosperity, education, understanding, & inspiration,
so they can give birth & grow great leaders.
Tenderness rises strength is just another example of life's laws...
(self-preaching note #10)

Wednesday, July 14, 2010

Berbagi-lah (Serahkan-lah)


 



 

"Sebenarnya, kata 'berbagi-lah' itu tidak tepat, namun' serahkan-lah' yang tepat. Karena di tiap-tiap yang kita miliki, ada sebagian yang merupakan milik mereka. Ingat lah untuk menyerahkan nya…"


 

Minggu malam, pukul delapan lebih dua puluh menit, seperti biasa aku dan beberapa saudara satu kos makan bersama, di warung makan sekitar kos. Namun, kali ini berbeda, kami berkeinginan untuk pergi ke warung makan di tempat yang agak jauh.

Aku mengendarai motor sendiri, sementara mereka berboncengan berdua. Aku menyalakan motor duluan, dan memulai mengendara dengan santai, menuju pintu gerbang gang. Sesampai di pintu dan berbelok kiri, masih dengan pengendaraan motor yang santai. Mata ku menoleh ke kiri, ke salah satu bangunan dan menemukan pemandangan yang tidak biasa. Jikalau biasanya hanya seorang bapak parkiran yang telah berumur mungkin lebih dar 50 tahun-an, saat ini ku lihat seorang ayah yang berumuran mungkin sekitar 35 tahun dan anak perempuan berjilbab dalam dekapan nya yang sedang pulas memejamkan mata, entah karena sakit atau tertidur. Ayah yang berkumis tebal tersebut terlihat seperti seorang yang tidak bersahabat, namun bagaimana sikap tubuh nya yang saat ini sedang memeluk erat sang anak dengan sepenuh-penuh nya kasih sayang dan melindungi, menggagalkan persepsi ku tersebut. Mereka di depan sebuah bangunan yang telah tutup.

Motor terus ku jalankan sambil berpikir…

'Sungguh kasihan sekali mereka, dengan pakaian yang aku bersyukur aku masih memakai yang lebih baik. Terbesit hati ku untuk melakukan nya, namun bagaimana jika beliau menolak bahkan marah? Mungkin beliau bukan tipe yang seperti itu? Tapi penampilan mereka sangat menyentuh dan mengundang hati untuk melakukan nya.'

Aku berhenti, yang membingungkan Muksin dan Jali yang juga ikut berhenti.

"Kenapa Ki, gak jadi?" mereka bertanya kepada ku.

"Emh, duluan aja, aku nyusul nanti."

"Oke."


 

Aku berbalik arah, dan memberhentikan motor di tepi jalan, mungkin sekitar 2,5 meter di depan mereka. Aku mengeluarkan selembar rupiah berwarna hijau.

"Sakit ya Pak anak nya?"

"Beubou…"

Aku menangkap kata 'bobo'.

"Beubou…" beliau mengucapkan nya kembali.

"Oh tidur ya Pak. Ini ya Pak ya…"

Beliau sesegera mungkin 'menyambar' tanganku untuk mengambil yang ingin kuberikan kepada beliau dan mengucapkan kata 'maturnuwun' berkali-kali. Suara beliau tidak jelas, seperti memiliki kekurangan dalam hal berbicara. Aku tidak tahu bawaan lahir yang bagaimana ini. Namun, beliau berucap dengan susah payah sekali, sementara sang anak tertidur pulas dengan balutan sarung batik kuning yang telah lusuh dan menggunakan jilbab berwarna merah muda yang menggradasi menjadi putih kusam.

"Mari Pak ya…"

Aku menyadari gerakan tubuh ku mengurangi rasa ku kepada diri sendiri.

Aku melanjutkan perjalanan ku menuju warung makan yang saudara-saudara ku telah lebih dulu pergi. Sungguh hati ku sangat tersentuh dan dengan banyak pertanyaan di kepala. 'Kemana istri beliau?' 'Beliau dari mana dan mau kemana?' 'Apakah sudah makan?' 'Apakah tidak memiliki uang untuk transportasi?' 'Apakah beliau selalu bersedih dalam hidup nya dengan kondisi seperti itu, atau bahkan tidak pernah dikarenakan kebesaran jiwa beliau dan keberserahan kepada Sang Pencipta?' 'Dimana rumah beliau?' 'Apakah beliau berhenti dan duduk di situ hanya karena sang putri yang tertidur, untuk tidak mengganggu tidur nya?' 'Apakah beliau sudah makan?' 'Apakah beliau sudah makan?' 'Apakah beliau sudah makan?'

Sungguh mengharukan. Aku mengharapkan untuk airmata ku jatuh saat ini. Ini sama sekali bukan tentang kecengengan, bukan! Aku ingin merayakan kebesaran Engkau ya Tuhan dan kebesaran mereka. Aku merasakan ada begitu banyak malaikat yang hadir di situ. Tatapan sayang dan haru dari nabi-nabi di surga sana. Orkestra dan simfoni alam yang mengalahkan bisingnya hiruk pikuk motor dan mobil yang melintas. Tuhan, sungguh besar saat ini. Sungguh hebat kehidupan ini. Aku ingin menangis Tuhan. Aku merasa kasihan yang teramat dengan mereka.

Di satu ruang di kepala ku terucap serapah-serapah yang menyampahkan.

'Seharusnya malu pemimpin yang tidak amanah itu dengan contoh keadaan ini yang begitu banyak jumlah nya di negeri ini.' 'Seharusnya para koruptor tersentuh dan tersadar betapa biadab nya mereka dengan melakukan korupsi!' 'Engkau negara, kenapa begitu lemah? Apakah karena sudah terlalu banyak anak-anak mu yang tidak amanah dan melakukan korupsi sehingga hanya berdiam, meringis, dan menangis? Aku ingin mengatakan engkau, aku, dan semua orang yang ada dan dilahirkan di negeri ini seharusnya malu dengan keadaan ini. Ini bukan miskin nya harta kita, namun miskin nya perilaku kita!'

Aku malu dengan diri ku.

Aku merasa kurang sementara juga merasa sangat lebih.

Aku mengakui, ketika kebaikan dilakukan dengan ketulusan itu, tak pernah ada kata cukup, bahkan memuaskan.

"Tuhan perbanyaklah pemimpin yang amanah. Berikanlah kewenangan-kewenangan dan kemampuan-kemampuan besar kepada pemimpin-pemimpin masa depan untuk bisa menjamin dan memastikan pemuliaan dan pengasih-sayangan kepada hamba-hamba Mu yang seharusnya berhak itu ya Tuhan…"

Friday, July 9, 2010

Santunlah



“Bukan karena tidak berdaya-nya kita untuk menyetarai bahkan mengungguli kekasaran atau ketidaksopanan yang dilakukan oleh orang lain kepada kita yang membatalkan penghormatan kita kepada orang lain, bukan. Namun hanya sebuah wujud penghormatan kita kepada diri agar merasa pantas terlibat dalam pergaulan-pergaulan yang santun nan membesarkan dalam dekapan keceriaan dan kedamaian.”


Aku duduk di kursi kecil di depan toko buku ini. Menunggu sang pedagang yang kami telah saling akrab karena sudah beberapa kali aku membeli buku di sini yang sedang berniaga melayani pembeli lain. Beliau dibantu beberapa, mungkin kolega atau karyawan beliau, dalam melayani pembeli, namun tetap masih sangat sibuk. Tentu saja ini kan musim liburan, saat dimana masa panen para pedagang buku.
Aku memperhatikan dua anak yang membujuk ibunya untuk membeli buku tambahan bagi mereka, namun sang ibu balik membujuknya untuk merasa cukup dengan buku yang telah dipilih mereka sebelumnya. Selain faktor kerangka berpikir, keuangan selalu menjadi ujian yang selalu ada dalam membeli buku bagi banyak orang. Kita bangsa yang terlalu sering memiliki hubungan langgeng dengan keterbatasan sumber daya ekonomi dalam keseharian, bahkan untuk perihal yang esensial dan vital dalam hidup: makan, kesehatan, dan pendidikan. Apalagi, jauh harapan dengan rekreasi. Semoga cepat berakhir. Selalu, untuk harus bersyukur.
Mungkin sudah seharusnya jika pemerintah mereduksi atau meniadakan subsidi untuk bahan bakar, dana subsidi tersebut dialihkan menjadi subsidi buku. Sehingga, jika masyarakat berpikir dua kali untuk bepergian ke tempat yang kurang penting relatif terhadap pertimbangan mahalnya kos bahan bakar, mereka lebih memilih bepergian secara mental dan pikiran ke tempat-tempat di seluruh dunia melalui buku, lebih jauh, bahkan bisa melintasi waktu ke masa lalu.
Nasihat mengatakan,” bacalah buku setidaknya satu jam sehari, maka Anda akan bijaksana”. Tentu juga lebih berwawasan dan cerdas bukan? Bagaimana kita bisa menyangkal nantinya jika negara ini, rakyatnya memiliki budaya baru-yang terlihat dimana-mana,-yaitu budaya baca, akan menjadi bangsa besar? Bukankah bangsa yang besar ialah bangsa pembaca? Mungkin 20 tahun lagi Indonesia completely sebuah bangsa yang besar,  yang mampu mengatakan bahwa ada yang lebih penting daripada korupsi jika budaya baru ini benar-benar membudaya.
Akhirnya sang ibu merestui. Sang penjual memasukkannya ke dalam hitungan.
Sementara itu, penjual buku tersebut juga sedang sibuk mengecek dan menyusun untuk dibungkus, buku-buku yang dibeli oleh seorang laki-laki yang penampilannya agak berbeda dari keseluruhan pembeli di pasar buku Shopping ini, saat ini. Buku-buku tersebut semuanya bertemakan sejarah. Wow!!! Sang pembeli yang kurang dari satu meter berdiri di depan aku yang sedang duduk ini, yang berpakaian kemeja batik, wajah Chinese, celana kargo, dan tas pinggang dengan botol minuman agak besar menggantung, memeriksa dengan cermat apakah daftar buku pada kertas di tangan kanannya sudah hadir semua. I’m sure he is a smart and great guy.

“Bapak dosen ya Pak?” aku bertanya dengan santai sambil duduk dan mendongak melihat beliau yang berdiri.

“Bukan, saya kerja di Amerika” dengan santai beliau menjawab dengan pesona kerendahan hatinya, dengan bahasa Indonesia agak kaku. Beliau balik bertanya, “Anda mahasiswa?”

“Iya Pak. Bapak kok bisa kerja di Amerika dan saya mengira dosen sejarah?” aku menjawab dan bertanya lagi, sambil berdiri setelah kaget dengan jawaban beliau. Padahal sebelumnya aku menebak mungkin beliau dari Sumatra. I was totally wrong about him.

“Saya kerja di perusahaan informatika. Jurusan apa?

“Akuntansi Pak”.

“Owh, mudah cari kerja ya” sambil tersenyum beliau.

“Mudah-mudahan Pak. Oh iya Pak, saya Fakhri” sambil menawarkan jabat tangan.
Beliau menyebutkan nama beliau sambil menjabat tanganku. Aku tak bisa menangkap nama beliau yang agak samar beliau sebutkan. Namun beliau merogoh tas pinggang, kemudian menemukan kartu nama beliau.

“ini kartu nama saya”.
What? What a kind person he is, right? Beliau membuatku merasa terhormat.
Rasa hormat yang seseorang berikan bukan secara utama karena layaknya orang lain dihormati olehnya, melainkan hanya sebuah refleksi betapa seseorang tersebut merasa positif dan hormat kepada dirinya sendiri. 
Aku membaca kartu nama beliau yang berwarna putih dengan hanya ada tulisan nama, alamat, data kontak, dan jabatan beliau, dengan hanya berhias satu persegi berwarna coklat yang berluas 0,25 cm2 posisi paling atas tengah, tanpa gelar dan perusahaan dimana beliau bekerja. Mungkin ini American-styled card name. Bukan nama Indonesia, bernama Chinese dengan garis miring nama, I don’t know, mungkin American+France. Di bawah nama tertulis ‘Director/Producer’. 
Kartu nama itu sendiri bukan hanya melambangkan penghormatan kepadaku, namun juga sebuah bahasa yang mengatakan bahwa sang pemilik seseorang yang terbuka untuk memberikan bantuan. I'm not a businessman yet.
Beliau segera pergi setelah sang penjual buku membungkus rapi buku-buku beliau dan kami bercakap-cakap. Informasi kemudian yang aku dapatkan ialah beliau seorang MBA yang dulunya mendapatkan beasiswa dari sebuah korporasi teknologi komputer. Maybe, he is a Phd juga.
A question comes to my mind, kenapa orang “wow” selalu tidak banyak bicara dan rendah hati? Kecerdasan dan kebesaran mereka tampak dari wajah yang tak seorang dapat mengingkarinya. Sekali lagi, rahmat ilmu meninggikan derajat pemiliknya.
I started a conversation with easy-going attitude which then had to be amended to make politer myself. Life’s miracle teaches me again to live.


Tuesday, June 29, 2010

Kenapa Sulit Untuk Hatimu Bersyukur?




"Kehidupan ialah,
 apa yang seharusnya yang penting..."


Tuhan yang Maha Sempurna, begitu indah nama-Mu, bahkan ketika menyebutkannya saja, diri ini merasa malu, teringat akan begitu banyak pemberian-Mu, bukan hanya tidak mampu hamba hitung, namun sangat jauh dari kata sadar akannya, apalagi mensyukuri...

Tuhan, Engkau yang Maha Bijaksana, yang mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-Mu, yang walaupun untuk apa-apa yang menurut kami tidak cocok, Engkau-lah yang lebih tahu. Begitu sabarnya Engkau akan keluh kesah dan amarah hamba-Mu yang tak tahu diri, untuk berterima kasih kepada-Mu ya Tuhan...

Tuhan, dengan nama-Mu yang Maha Besar nan Maha Pemaaf itu, Engkau membiarkan kami menjauh dari-Mu, melalaikan tatapan kasih-Mu, namun tak ada kau murka. Tak ada kau seketika itu juga menghukum kami ya Tuhan.

Tuhan, dengan menyebut sifat-Mu yang Maha Pemberi itu, yang tak henti-hentinya memberi, meski kami selalu saja lupa untuk berterima kasih. Engkau tak pernah marah bahwa doa-doa kami hanya bersifat meminta, yang sebenarnya seharusnya kami untuk selalu berterima kasih. Kami selalu merasa kurang. Kami tidak melihat bagi hamba-hamba-Mu yang lain, yang jauh kurang seberuntung kami, namun begitu lebih dalam pengterimakasihannya kepada-Mu. Tuhan diri ini malu. Peliharalah malu yang indah ini. Malu yang mengingatkan untuk tidak merasa kurang. Malu yang mengingatkan untuk bermental keberlimpahan dalam kehidupan.

Tuhan, dengan menyebut nama-Mu yang Maha Perkasa itu, yang kami dalam perasaan rindu dan ingin dekat dengan orang tua dan adik-adik kami, perkenankan kami  memohon, "sayangi mereka yang Tuhan, muliakan mereka ya Suci, lindungi mereka ya Penyayang, bahagiakan mereka ya Maha Perencana, pelihara mereka ya Pemilik Kekuatan, dan berikan rizki yang baik ya Pemilik Kehidupan..."

Tuhan, Engkau pemilik semesta, yang kami tidak ada apa-apanya, sekecil-kecilnya bentuk, namun Engkau sematkan status sebagai sebaik-sebaiknya makhluk, yang doa-doa kami Engkau dengarkan dan kabulkan, yang hanya sebesar dan secepat kesungguhan, ketulusan, dan keberpasrahan kami dalam menyegerakan perbuatan untuknya.

Tuhan, Engkau indah, titip salam untuk orang tua dan adik-adik kami yang lucu-lucu itu...

Ya Allah, Engkau lah Tuhan itu...


(Inspired by starving and poor old lady in Pamekasan...Ketika kami memiliki kelebihan, bahkan untuk makan hanya nasi saja beliau harus menahan dan menangis akan nya, dalam ketidakmampuan beliau...)

Tuhan, nikmatmu mana lagi kah yang kami dustakan...?

Monday, April 12, 2010

Other Autonomous Living



"Bangunlah kerajaanmu di atas tanahmu sendiri, jangan bangun kerajaanmu di tanah orang lain, karena orang lain juga
ingin membangun kerajaan mereka sendiri di tanah mereka sendiri. Hidup bukan memaksakan hebatnya kemegahan yang mampu
kita ciptakan untuk digunakan oleh orang lain, namun mempersilakan dan memuliakan orang lain di dalam kemegahan kita.
Hampir tidak pernah kata "mempersilakan" yang mencerminkan keadaan kekerasan dan keterpaksaan, ialah adanya kesalingtergantungan
tulus dalam keindahan kedamaian."

Semakin terasa hidup berubah. Semakin banyak hal yang mesti dipertimbangkan dengan matang. Semakin banyak hal yang
harus dikumpulkan untuk memberi lebih banyak. Ternyata malah seringnya, untuk mengumpulkan-untuk memberi banyak, dengan hanya
melakukan diam dan memahami orang lain, bukan sama sekali mencoba memberi dengan kumpulan yang telah sampai saat ini kita miliki.
Siapapun dia, kita tidak berhak, meski hidupnya ada karena ada hidupnya kita.

Waktu membuktikan bahwa setiap orang akan memiliki otonomi pikiran, perasaan, dan hasrat tersendiri dalam hidupnya.
Mungkin iya dulu mereka masih bergantung kepada kita dan kita secara aktif memberikan dengan penerimaan hampir selalu penuh dari
mereka, namun hidup terus berubah. Jika kita merasa lebih hebat, lebih tahu, dan lebih menguasai, yang membenarkan kita
untuk harus dituruti dan didengarkan selalu, mungkin itu hanya karena kita secara hukum alam lebih dulu. Mereka kini telah
mengalaminya juga. Jika kita merasa lebih, mungkin kenyataan saat ini yang tak tersadari oleh kita mereka malah lebih dari lebihnya
kita. Sehingga, relevansi itu akan selalu ada, namun dengan elemen, konten, nilai, atau komponen berbeda dengan waktu
yang berlaku sedang berjalan.

Pemikiran untuk menghidupkan dan berorientasi ke dan lebih ke dalam merupakan sebuah prinsip dan langkah arif untuk
menjadikan masih relevannya kita untuk di dengarkan (to be listened to) dan bukan hanya untuk didengar (to be heared to). Untuk secara dalam
dan penuh memahami, bukankah kita disyaratkan untuk tulus dan menundukkan hati terhadap sesuatu yang ingin kita mengerti?
Begitulah paradigmanya. Untuk didengarkan, kita harus mampu membuat mereka tulus dan menundukkan hati mereka untuk
mendengarkan kita. Ketulusan dan ketundukan hati tidak dapat dipaksakan, tidak lebih merupakan sebuah apresiasi dan
pengakuan penuh akan kepantasan kita untuk didengar. Dan ternyata, kepantasan itu dibangun bukan dengan memaksakan dari
dalam ke luar, namun memaksakan dari dalam ke dalam, atau dari luar ke dalam sebagai stimulus utama atau hanya penyempurna. Ketulusan
dan ketundukan hati itu datang dengan pengakuan mereka-untuk keharusan kita berempati, yang datang dan masuk ke dalam.

Selalu, carilah dan dengarkanlah yang berada di dalam secara lebih dalam, dan kumpulkanlah yang dari luar...