Monday, March 17, 2008

Hikmah Itu Bernama Ayat-Ayat Cinta


Antara tanggal 16 dan 17 Maret 2008…Saat Yogyakarta berkabut, tak seperti biasa...

Sudah bukan berita baru lagi, bahwa novel Ayat-ayat Cinta, merupakan sebuah novel yang luar biasa. Novel yang selama 3 tahun sudah mencatat penjualan di atas 400.000 eksemplar. Sehingga, seperti kata seorang sastrawan nasional-Yosi Herfanda, telah bisa diklasifikasikan sebagai novel megabestseller. Bahkan, novel tersebut sudah diangkat ke layar lebar. Satu kata, fantastis. (Udah tahu lagi..hehe..)

Tentunya, sebuah karya yang fenomenal, tidak akan lahir tanpa keahlian dan kematangan sang pembuatnya. Novel cinta yang sarat akan nafas islam ini tidak akan mampu tercipta, jika ilmu dan wawasan sang penulis akan islam itu sendiri sedikit. Sehingga publik tidak heran, bahwa sang penulis ternyata alumnus dari Jurusan Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar di Cairo. Di samping itu pula, masa-masa sekolah beliau juga dihabiskan di institusi-institusi keislaman, yaitu MTs Futuhiyyah 1 Mranggen untuk tingkat sekolah lanjutan pertama, dan Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta untuk tingkat sekolah lanjutan atas. Serta, beliau juga sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar Mranggen pada waktu mengenyam pendidikan madrasah tsanawiyah dulu.

Sang penulis yang bernama lengkap Habiburrahman El Shirazy, atau yang akrab disapa Kang Abik ini, sudah dari semasa sekolah bergelut dengan dunia sastra, pidato, maupun pementasan. Sehingga, beliau membantah kalau novel Ayat-Ayat Cinta dinyatakan sebagai karya perdana dan langsung meledak di pasaran. Pernyataan tersebut beliau lontarkan dalam pertemuan (bedah karya) yang di prakarsai oleh Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tanggal 16 Maret 2008, bertempat di TB Gramedia Ambarrukmo Plaza, Yogyakarta.

Dalam pertemuan (bedah karya) yang bertema “Ada Apa Dengan Ayat-Ayat Cinta” ini juga dihadiri oleh dekan Fakultas Adab UIN, kritikus sastra, yang keduanya berasal dari UIN Sunan Kalijaga, serta finalis Miss Indonesia Yogyakarta Tahun 2007. Walaupun acara hanya berdurasi sekitar 3 jam, akan tetapi para pengunjung (lebih tepatnya fans), puas dengan penjelasan-penjelasan Kang Abik terkait karyanya tersebut. Pengunjung (fans) juga disuguhi dengan persepsi-persepsi dari para pembicara lain, dalam hal ini kritikus sastra islami dan finalis Miss Indonesia.

Pada suatu hari, saya mengendarai sepeda motor Grand dalam perjalanan dari Yogya ke Semarang. Kemudian, pulangnya, saya mengendarai sepeda motor Supra X. Akan tetapi, dalam perjalanan pulang tersebut, saya tahu-tahunya sudah bangun di RS Panti Rapih Yogyakarta. Dan pada saat itu, saya sadar bahwa saya telah mengalami kecelakaan di daerah kota Magelang. Kemudian, saya mencoba membaca hafalan Al-Qur’an Juz II, saya bisa. Saya mengangkat tangan kanan saya, saya bisa. Saya meraba kepala saya, masih utuh (dengan nada bercanda). Saya mengangkat tangan kiri saya, saya bisa. Saya mengangkat kaki kiri saya, saya bisa. Terakhir, saya mencoba mengangkat kaki kanan saya, saya tidak bisa. Saya coba lagi, tetap tidak bisa. Sejak saat itu saya khawatir. Kemudian saya menanyakan kepada suster, ada apa dengan kaki saya. Suster itu menjawab bahwa kaki saya patah, dan mengatakan jika dalam 5 jam tidak segera dioperasi, hasilnya akan lebih buruk. Saat itu saya menjadi lebih khawatir. Pasti kaki saya akan diamputasi”, beliau mulai bercerita.

Kemudian beliau melanjutkan…

Akhirnya saya dioperasi, dan harus melakukan penyembuhan selama 10 bulan. Selama masa penyembuhan, kaki kanan saya tidak boleh digunakan sebagai tumpuan. Saat itu saya berkeinginan untuk melanjutkan pekerjaan mengajar saya di MAN 1 Yogyakarta. Akan tetapi, orang tua saya tidak mengijinkan saya. Saya harus focus penyembuhan, dan kembali ke Semarang. Dan saat itulah, untuk mengisi hari-hari kosong saya, saya mulai menulis novel Ayat-Ayat Cinta.”

Para pengunjung atau partisipan juga diberikan kesempatan untuk bertanya. Topik pertanyaan beragam. Baik terkait novel, maupun pendapat Kang Abik sendiri terhadap hal-hal yang terkait dengan novel tersebut. Siapa sebenarnya Fahri atau Aisyah sesungguhnya, apakah Fahri itu beliau sendiri, pendapat Kang Abik terhadap poligami, bagian novel yang mana yang dimaksud dengan ayat-ayat cinta, dsb.

Fahri ialah seseorang…(penasaran…?)…Fahri itu bisa berada di tengah forum sekarang ini, atau di sekitaran plaza ini, ataupun yang berada di luar sana”, demikian beliau menjawab. “Jika sewaktu Fahri minum ashir mangga di panasnya Mesir, iya, itu saya. Tapi jika, Fahri itu romantis, itu bukan saya, karena saya lebih romantis (dengan sambil tertawa kecil), jika Fahri mempunyai istri secantik Aisyah, itu bukan saya, karena istri saya lebih cantik. Jika saja istri saya ikut dalam casting filmnya kemarin, pasti istri saya yang akan terpilih, nomor satu deh pokoknya”, beliau melanjutkan jawaban dengan tertawa kecil.

Kemudian, apakah beliau setuju dengan poligami. Beliau menjawab: “Ya, saya setuju…, asal yang sesuai dengan syariat, dan syariatnya itu banyak, sedetail-detailnya."

Dan pertanyaan bagian novel yang mana, yang dimaksud dengan ayat-ayat cinta. Beliau menjawab: “semua bagian dalam novel tersebut, itulah ayat-ayat cinta”.

Sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan dan penjelasan-penjelasan beliau yang lain, tetapi saya mengakui keterbatasan manusia. Maksudnya, ehem-ehem…ya saya lupa…hehehe….

Dalam acara tersebut ditutup dengan sesi penyerahan award atau semacam testimoni dari Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga kepada beliau. Dan di akhir acara, ada sesi foto-foto dan tanda tangan.

Di balik setiap cobaan atau ujian, di situ ada hikmah. Mungkin itulah yang dialami oleh Kang Abik dengan Ayat-Ayat Cintanya. Salut buat Kang Abik, terus berkarya, dan kita semua berharap, akan nada Ayat-Ayat Cinta berikutnya yang lebih fenomenal, lebih menggugah, dan lebih meng-inspirasi dari sebelumnya.

Tuesday, March 11, 2008

Raditya Dika..Smart, Jenaka, & Edan...

8 Maret 1988...
(pagi yang cerah)...

Ada yang berbeda di hari ini. Hari ini, hari jadi. Hari ini jalan-jalan di Yogyakarta lengang, karena memang lagi pada libur/cuti bersama. Hari ini juga, hari saya mengikuti seminar yang bertema "Media Online, Media Masa Depan".

Se-ingat-ingat dan se-sadar-sadarnya saya, seminar ini merupakan seminar yang pertama yang pernah saya ikuti di Kota Tua ini. Kota Yang banyak mencatat peristiwa sejarah Indonesia. Kota ini, Yogyakarta.

Seminar yang bertema "Media Online, Media Masa Depan" ini, diselenggarakan oleh HIMAKOM UII. Tampil sebagai pembicara ialah: Bambang MBK (AJI), Raditya Dika (Blogger), Sapto Anggoro (Detik.Com), dan terakhir, Raihul Fadjri (Tempo). Bertempat di Dixie Cafe, Easy Dining...Tuh sampai-sampai masih ingat semuanya...

Acara yang berdurasi selama 4 jam ini, bagi saya pribadi, berlangsung kurang mengena dengan tema yang diangkat. At least, tidak ada data-data, apalagi data yang akurat, yang relates dengan kecenderungan penggunaan media online jika dibandingkan dengan media konvensional lainnya dewasa ini. Secara dominan, pembicara, berbicara background, pengalaman, dan perjalanan institusi mereka masing-masing. Walhasil, little bit boring juga.

However, ke-boring-an tersebut berhenti setelah, si-Kambing Jantan, Raditya Dika memulai gilirannya untuk bercas-cis-cus (berbicara). Kembali ke judul posting di atas, He is smart, Jenaka, dan Eeeedaan...Buktinya, semua peserta seminar harus tertawa panjang dan kencang selama acara. Pertanyan saya selama ini terjawab, alasan mengapa buku-bukunya terjual laris. Mengapa koment ataupun testi di web nya hampir 2000-an per hari. Mengapa koleksi temannya di friendster bejibun, sampai 2000 lebih. Lagi-lagi edaaaan...

Pada acara tersebut saya kebetulan mendapat doorprize, berupa buku Exra Large dari Gagas Media. Bukan tanpa sebab, dorongan teman-teman disana secara fisik maupun instruksi verbal berhasil pada saat itu. Akhirnya, saya harus berlagak seperti seorang MC di depan bersama 4 orang partisipan lainnya. It was my first time, pretended in front of a seminar.

Acara yang diikuti oleh (sepertinya) kebanyakan dari mahasiswa jurusan komunikasi pada berbagai universitas dan komunitas blog di Yogyakarta ini, diakhiri dengan photo session dengan si-Kambing Jantan tersebut. Ouh, ternyata ini yang membuat acara ini jadi diikuti oleh banyak partisipan...hehehe...Tentunya, I was the one of the people in that session..hehehe..Unfortunately, i can't enclose that photo here.

Wednesday, February 27, 2008

Sedikit Catatan Wisuda


Having no idea is a bad thing when I am trying to write my blog..
Dan sepertinya hal itu terjadi pada waktu saya mau posting tulisan ini.

Acara wisuda yang dilaksanakan seminggu lalu tepatnya hari Rabu tanggal 20 Februari baru bisa saya rekam di blog ini. Entah karena sibuk, lelah, atau malas untuk online. Seringnya lupa akan hal-hal yang telah dilakukan untuk mengisi sisa waktu yang dihabiskan di hidup ini. The sounds bad.

By the way berbicara masalah acara wisuda kemarin, sepertinya tidak lebih impresif jika dibandingkan dengan acara perpisahan sewaktu di sekolah menengah atas dulu. Lantunan lagu nasional dari paduan suara pun tidak lebih membakar rasa nasionalisme jika dibandingkan dengan menyanyikan sendiri lagu Bendera-nya Coklat, ataupun menyanyikan lagu Indonesia Raya pada waktu konser ultahnya Gigi kemarin. Tapi tentunya ini menyenangkan dan bersyukur kepada-Nya.

Berterima kasih kepada Allah, Orang tua (khususnya Mama, walaupun berhalangan untuk hadir), Guru2/Dosen dari taman kanak-kanak sampai saat ini, baik yang formal maupun informal. Kita tahu, betapa banyak guru dalam hidup ini, walau itu hanya seorang anak kecil sekalipun. Perbedaan antara guru atau dosen formal dan informal ialah guru formal akan lebih baik jika mengikuti ujian sertifikasi, sedangkan guru informal tidak..hehe..

Tuesday, February 5, 2008

Gadis Jepang & Soto Banjar


Unik memang judul blog tersebut. Karena secara geografis keberadaan masing-masing obyek judul saya tersebut sangat jauh. Inspirasi judul tersebut datang ketika penyakit insomnia saya lagi beraksi. Tentunya bukan tanpa alasan atau judul imajinatif, melainkan life track record baru yang saya dapatkan. Hal itu saya dapatkan ketika saya mengikuti hari pertama agenda language course saya di salah satu PTS di Yogya.


Ketika sedang menunggu kelas dimulai di depan ruangan yang akan saya tempati, tiba-tiba seorang perempuan Jepang datang dan duduk di bangku dimana saya sedang duduk, artinya kami duduk berdekatan. Dan ternyata kami mempunyai level atau ruangan yang sama hasil placement test yang telah kami lakukan beberapa hari yang lalu (pada posting blog sebelumnya). Merupakan sebuah tantangan dan mengasyikkan mungkin jika saya menyapa dia. Yang mana bagi sebagian orang merupakan suatu hal yang akan sangat memacu adrenaline mereka untuk menyapa lebih dulu..hehe..Untungnya I like the this challenge, why I don’t try.


Setelah menyapa dan saling berkenalan, saya tahu namanya, kemudian dia minta saya menebak darimana dia berasal, dari logat dan parasnya tentu dengan mudah mengetahuinya, yaitu dia berasal dari Jepang. Namun ketika saya mengatakan saya berasal dari Pulau Kalimantan, sontak dia langsung terkejut, karena ternyata dia sudah pernah berwisata ke sana, bahkan sudah hampir ke semua propinsi atau kota di Pulau Kalimantan, di antaranya Banjarmasin, Pontianak, Balikpapan, dan Samarinda.


Akhirnya konversasi kami hanya membahas agenda wisatanya sewaktu di Pulau Kalimantan. Kemudian saya bertanya apakah dia juga pergi ke “Pasar Terapung” di Banjarmasin, dan ternyata dia pun juga ke sana. Yang mana mungkin kebanyakan orang sudah tahu walau hanya sedikit mengenai keadaan pasar tersebut. Sering dijadikan RCTI sebagai pengisi jeda antara satu program ke program berikutnya. Tentunya untuk menampilkan jargon “oke” mereka (RCTI oke..hehe..).


Pasar Terapung ialah sebuah pasar dimana para pelaku perdagangan (penjual-pembeli) berada di perahu di atas sungai. Bayangkan..betapa sibuk dan aktifnya mereka di atas perahu hanya untuk melakukan perdagangan, sementara masyarakat urban sangat menikmati berbelanja di supermarket ataupun mall yang bersih dan menyenangkan, dan dihibur dengan alunan musik klasik. Tapi itulah seni dan merupakan satu produk kebudayaan masyarakat di sana yang sampai saat ini masih terpelihara keberadaanya. Adapun waktu operasi pasar tersebut hanya pada waktu subuh hingga pagi menjelang siang.

Satu hal yang membuat saya tertawa melihatnya ketika dia mengingat wisata kulinernya di Banjarmasin. Terlihat dari cara berbicara dan mengekpresikannya ketika mengingat masakan khas Kalimantan Selatan, yaitu Soto Banjar. Seandainya saja nenek moyangnya dulu juga mencicipi Soto Banjar, pasti tidak akan ada yang namanya penjajahan di Indonesia oleh Jepang. Yang ada hanya acara Pak Bondan dari Jepang dalam acara Wisata Kuliner dan disiarkan di stasiun tv kerjasama pemerintah RI dan Jepang pada masa itu, kan asyik tuh nyam-nyam..hehe…Let's we cook and consume it together..


Peace, Love, & Respect for you Noe, It’s just a little bit joke of me..hehe..Semoga semakin lancar Bahasa Indonesianya…

Monday, January 28, 2008

“That is interesting for me..So please tell me about Kotabaru”


Pernyataan dan kalimat perintah tersebut merupakan salah satu dari banyak kalimat yang keluar dari mulut dosen yang mewawancarai saya dalam sebuah wawancara placement test yang saya ikuti. Sebenarnya apa yang susahnya untuk mendeskripsikan kota kecil dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Tapi kenyataannya,hal yang cukup susah bagi saya untuk melakukannya. Disamping dikarenakan memang mulut yang sudah sangat jarang untuk berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut, ditambah dengan kebingungan saya untuk mendapatkan topik ataupun tema tertentu yang bisa membuat dosen tersebut semakin tertarik akan Kotabaru.

Tentunya bukan sebuah jawaban yang menarik jika saya harus mendeskripsikan tentang letak geografisnya, bahwa kabupaten Kotabaru terpisah dengan pulau Kalimantan, sementara di dinding dekat beliau ada sebuah peta besar Indonesia dimana sudah jelas terlihat (mencolok) disitu letak terpisahnya Kabupaten Kotabaru. Atau lebih spesifik lagi dengan jawaban geografi matematika tentang lintang dan bujur geografinya, sedangkan saya juga tidak tahu akan hal itu.

Tentunya hal yang menarik untuk menjelaskan tentang sumber daya alam, wisata alam, infrastruktur , serta masyarakatnya, sehingga menimbulkan hasrat bagi beliau untuk berwisata ke Kotabaru. Tapi apakah harus mendeskripsikan tentang kekayaan Kotabaru akan SDA khususnya batubara dan hutannya, sementara batubara dan hutannya sudah semakin habis oleh banyaknya ekploitasi illegal. Tentang hasil laut yang melimpah sementara nelayan Kotabaru sudah kesusahan dalam mencari nafkah di sana. Tentang wisata alam khususnya pantai dan lautnya sementara pantai dan laut tidak terurus dan penuh akan sampah , baik sampah rumah tangga maupun sampah industry. Atau tentang infrastrukturnya, sementara jalan dan jembatan banyak yang rusak, sehingga apabila melakukan perjalanan dengan angkutan darat dari Banjarmasin ke Kotabaru mengutip dari perkataan salah satu guru senior saya “capeknya tidak akan hilang hanya dalam dua hari setelah perjalanan tersebut”..Hmm..Kesimpulannya, deskripsi-deskripsi tersebut hanya akan saya paparkan jika kami berada dalam sebuah wawancara tahun 90-an ke bawah. Akhirnya, saya lebih mendeskripsikan tentang perbedaan pendidikan di Yogyakarta dengan Kotabaru (itupun juga perttanyaan beliau). Bukan mencari siapa yang unggul memang, tapi itulah adanya.

“So, Does it mean Kotabaru is lack of human resources?” Beliau melanjutkan pertanyaanya.

Saya rasa tidak begitu. Ini hanya masalah komitmen, kesungguhan, dan respons system pemerintahan dalam membangun SDM masyarakat, tentunya dominan berbicara masalah pendidikan. Sepengetahuan saya human capital dari masyarakat Kotabaru tidak kalah bersaing dengan human capital dengan daerah lain, toh sudah ada buktinya.


Tetapi berbicara masalah komitmen dan kesungguhan, mungkin tidak berbeda dengan daerah lain untuk alokasi anggaran pendidikan masih jauh dari 20% dari APBD, sehingga sekolah-sekolah masih sulit untuk menambah fasilitas-fasilitas penunjang untuk proses belajar mengajar. Tidak heran siswa-siswi Kotabaru masih sangat banyak yang gagap teknologi khususnya internet. Kecuali jika mereka secara swadaya dan swadana untuk merental atau mengikuti kursus yang sampai saat ini masih sangat mahal di Kotabaru. Bagi saya pribadi merupakan pencapaian yang patut diacungi jempol bagi pejabat yang bersangkutan jika di Kotabaru ada Internet Centre yang dikhususkan bagi siswa-siswi secara gratis dengan system dan aturan tertentu.

Kemudian jika berbicara masalah respons system pemerintah Kotabaru terhadap dunia pendidikan jika diukur dengan skala 10, sepertinya masih sekitar kurang lebih 6. Minimnya respons (muluk jika berbicara masalah reward) pemerintah terhadap SDM-SDM yang berkompeten dengan bidangnya masing-masing akan mengakibatkan SDM-SDM keluar secara geografis dari Kotabaru. Bukan berbicara masalah materialitas (walaupun tidak bisa dielakkan), tetapi tentunya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula idealisme dan visi yang dicita-citakan olehnya untuk kemajuan Kotabaru. Sehingga sudah barang tentu system pemerintahan harus bersifat responsif akan hal itu.


But, somehow, I do love my hometown...
Wanna know more about my hometown: http://www.kotabarukab.go.id

Tuesday, January 8, 2008

Visit Indonesia 2008

"Visit Indonesia 2008"

Kalimat itu pertama kali saya baca di sekitaran bundaran HI Jakarta pada waktu agenda jalan-jalan saya ke Jakarta dan sekitarnya. Kalimat itu terpampang begitu mencolok, so besar kemungkinan setiap orang melihatnya jika melintas di daerah tersebut. Sebagai warga negara Indonesia, saya bangga pemerintah mempunyai program dan target kesana.

Tidak berapa lama, di siaran televisi saya kembali melihat kalimat tersebut, yaitu dengan objek promosi propinsi Sumatra Utara kalau tidak keliru. Kemudian ditambah acara live music dari Sungai Musi tentunya promosi pariwisata Sumatera Selatan dong. Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, propinsi Kalimantan Selatan bagaimana ya? Udah siap apa belum? Kemudian bagaimana ya dengan propinsi-propinsi lain yang sampai saat ini dilanda musibah berat?

Untuk men-
support program tersebut katanya pemerintah sudah membuat website dengan dana 17,5 milyar yang bersumber dari APBN. Bener tuh? Uang semua? dua pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang sering dipakai orang (khususnya para remaja) ketika mereka merasa takjub dengan jumlah nominal uang tertentu. Begitu beragam komentar internet users terhadap hal tersebut, baik terhadap konten websitenya sendiri maupun dana pembuatan website tersebut. Ada yang biasa saja, salut terhadap pemerintah dengan programnya, ataupun salut terhadap besarnya dana yang terabsorpsi untuk pembuatan web tersebut (untuk tidak mengatakan perasaan aneh dan curiga mereka terhadap dana tersebut).

Tapi saya pribadi merasa pesimis terhadap kemampuan kita (Indonesia) dalam menjamu turis-turis asing. Hal tersebut saya rasakan ketika saya membeli tiket dan menikmati fasilitas-fasilitas pada beberapa spot tujuan wisata di Jakarta kemarin ataupun di kota-kota lain. Dimana saya tidak merasakan keramahan dan perlakuan yang setidaknya tidak membuat saya mengernyitkan dahi atas pelayanan dari petugas penjual tiket ataupun petugas teknisnya. Atau apakah hal itu akan berubah 180 derajat jika yang mereka hadapi ialah memang wisatawan asing yang dalam kantong atau dompet mereka full of dollars and credit cards, entahlah..hehe...

But hopefully it will be success, dengan target 7 juta wisatawan asing. By the way sudah 2008, tapi sampai saat ini masih belum banyak menemukan target-target hidup di masa yang akan datang, setidaknya membuat hidup lebih indah dengan tantangan-tantangannya..hehe.. Setelah melewati 2007 yang begitu melelahkan. Tenaga dan pikiran benar-benar tercurah di tahun tersebut. There were a lot of problems and things that made me should be a patient man. Yah namanya juga hidup, artinya tuhan masih memperhatikan kita..hehe..Bye..

Friday, December 21, 2007

Bioskop Sekolah

Dalam beberapa hari ini, masih dalam suasana santai liburan, waktu buat dekat dengan kasur dan televisi sungguh banyak tentunya. Even i am not person who loves sleeping, but i have been enjoying it. hehe..

Berbicara mengenai televisi, ada yang begitu menarik perhatian saya. Beberapa hari ini aktor Denias yaitu Albert Fakdawer begitu sering muncul. Kemunculannya ialah dalam iklan pemerintah mengenai Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN). NISN ialah adalah kode pengenal siswa yang bersifat unik dan membedakan satu siswa dengan siswa lainnya. Sedangkan NPSN ialah kode pengenal sekolah yang bersifat unik dan membedakan satu sekolah dengan sekolah lainnya. Baik NISN maupun NPSN masing-masing memiliki prosedur yang telah ditetapkan pemerintah, jadi tidak bisa asal buat kode seperti buat nama email atau friendster..hehe..

Film "Denias" yang diangkat dari kisah nyata, membuat saya sering tertawa menontonnya, karena memang banyak adegan -adegan yang lucu di dalamnya. Film ini juga edukatif, inspiratif, dan motivatif. Banyak pelajaran yang bisa diambil, misalnya nasionalisme, kerja keras, dan pantang menyerah, tentunya masih banyak lagi.. Tidak salah jika film ini banyak mendapat penghargaan.

Disamping itu, film "Nagabonar Jadi Dua" juga patut diacungi jempol. Film yang disutradarai dan diperankan oleh aktor senior Dedi Mizwar ini juga berbicara masalah nasionalisme. Tidak berbeda dalam hal kualitas dengan Denias, film ini edukatif, inspiratif, dan menumbuhkan rasa nasionalisme itu sendiri. Tentunya juga banyak penghargaan yang diraih, baik film itu sendiri maupun bagi para aktornya.

Dalam pembuatan film tersebut tentunya pesan-pesan yang terkandung di dalamnya ingin disampaikan kepada para penonton maupun masyarakat keseluruhan (generasi muda khususnya) . Pertanyaannya, sudah seberapa jauhkah film itu ditonton dan pesan-pesan yang terkandung dalam film tersebut dimengerti sehingga menjadi inspirasi bagi para penontonnya?
Beruntunglah bagi individu-individu yang tinggal di daerah di mana sarana untuk akses terhadap film tersebut mudah. Dalam hal ini kita berbicara mengenai ketersediaan bioskop ataupun tempat rental film-film (walaupun harus menunggu lumayan lama untuk ketersediaan VCD Originalnya). Tapi bagaimana dengan daerah yang tidak tersedia akan sarana-sarana di atas..?

Bagi saya pribadi merupakan hal yang hebat ketika setiap sekolah di Indonesia mengadakan pemutaran film tersebut yang ditonton oleh semua civitas akademik (murid, guru, dll) atau bisa disebut bioskop di sekolah. Dalam hal ini pemerintah daerah setempat membagikan VCD film secara gratis, satu sekolah satu. We are not talking about financial, APBD tidak akan terganggu sedikit pun kok..hehe...Adapun jika pemda setempat tidak ada keinginan ke arah sana, sepertinya inisiatif para guru sendiri untuk hal itu patut diberikan two thumbs up.

Ada banyak manfaat yang diperoleh, di antaranya :
  • Pesan film tersebut sampai ke penonton potensial (generasi pelajar), sehingga terbentuknya pelajar Indonesia yang di samping pintar atau cerdas, juga cinta terhadap tanah air. Kecintaannya terhadap tanah air, sedikit banyak pasti tidak akan mengikuti perilaku negatif generasi di atasnya, korupsi contohnya.
  • Hubungan emosinal antara guru dan murid akan lebih tumbuh dengan terciptanya suasana kekeluargaan ketika menonton, walau guru-guru sudah menonton ataupun malas nonton, pura-pura nonton lah..hehe...
  • Beban para murid akan pelajaran akan berkurang, karena menonton ialah hiburan.
  • Murid-murid akan lebih mencintai sekolah mereka. Mereka pasti tidak akan pernah melupakan momen ini kelak.
Sedikit informasi, sepertinya hal ini telah dilakukan oleh Ponpes Darussalam Gontor. Saya mengetahuinya ketika berbincang-bincang dengan salah satu murid di situ.

(Tulisan ini dibuat saat Yogyakarta tidak dalam keadaan hujan, tetapi cuaca yang lumayan dingin..Hmm...)