Wednesday, June 25, 2008

Mereka vis a vis "Mereka-mereka"

Penat…

Fisik, hati, maupun jiwa ini

Seolah-olah…

Kedamaian sudah tidak ada lagi

di sini,

di Indonesia

Rasanya…

Hanya mereka yang masih polos

Yang masih merasakan bahwa

masa di bumi itu lama

Yang merindukan bulan ramadhan

dan hari raya itu lama sekali

Atau…

Mandi hujan itu sangat menyenangkan

”Tidak dingin tu”, kata mereka

Mereka…

Masih menikmati keindahan suasana desa

Kesejukan udara pagi, bahkan sorepun juga

Kebeningan embun yang bertengger di gemulainya sang rumput

Merdunya kicau burung-burung yang terbang bebas di atas kepala mereka

Setidaknya lewat buku-buku paket lusuh

Yang mereka pinjam di perpustakaan berdebu sekolah mereka

Mereka…

Masih sedang belajar dan mencoba mempraktekkan

Sikap-sikap terpuji yang diajarkan kepada mereka

Lewat mata pelajaran PPKn atau apalah namanya sekarang…

Tenggang rasa, hormat-menghormati, kejujuran,

nasionalisme, patriotisme, dan tolong-menolong

Beberapa contoh bahasannya…

Korupsi, pemanasan global, perampokan,

demo, anarkisme, geng motor…

Mereka pernah mendengar istilah-istilah itu

Bahkan mungkin sering…

Tapi, mereka tidak tahu apa artinya…

Mereka hanya tahu…

Setiap hari Senin harus melaksanakan upacara bendera

Mendengarkan teks Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila dibacakan oleh guru mereka

Juga menyanyikan lagu wajib nasional…

Mereka tidak tahu…

Jikalau “mereka-mereka” yang lain

Yang sangat jauh lebih mengerti dan fasih

tentang istilah-istilah yang mereka anggap kata-kata sulit itu,

yang terletak berserakan dalam gumpalan otak mereka yang baru berumur 8-11 tahun itu,

Justru melakukan perilaku –perilaku itu…

Mereka tidak tahu…

Jangankan gemulai rumput, bahkan pohon sekeras bajapun

sudah tumbang oleh “mereka-mereka”

Telah, sedang, dan akan tumbang…

Mereka tidak tahu…

Jangankan harga buku-buku paket lusuh yang mereka anggap mahal,

jumlah rupiah senilai seratus buah perusahaan penerbit bukupun,

bagi sebagian “mereka-mereka” yang melakukan korupsi, nilainya masih kecil

Dan mereka tidak tahu…

Jangankan burung-burung yang terbang di atas kepala mereka,

Burung-burung liar yang bersembunyi di dalam gua

dan atau berdiri gagah di atas puncak tertinggi di nusantarapun,

kena sasaran kerakusan “mereka-mereka” yang lain itu.

“Dor kena!!” atau “Masuklah kau ke dalam perangkap”, “mereka-mereka” berceloteh

Berceloteh kataku??

Mereka berhadapan dengan “mereka-mereka”

Bukan dalam debat di atas panggung megah yang memperadukan kemampuan otak

Atau di atas ring tinju bebas yang memperadukan kekuatan otot

Atau…di padang pasir tandus yang menuntut ketahanan fisik dalam bertahan tanpa makan dan minum…

Tapi…

Mereka akan diadu oleh alam di atas mayapada ini dalam satuan waktu

Mereka vis a vis “mereka-mereka”

Tentulah yang menang “mereka-mereka”

Tuesday, June 3, 2008

Hutan/rimba di Indonesia semakin menipis, tapi kok hukumnya makin subur???

Di bawah ini hanyalah tulisan ketidakpahaman saya...

Undangan itu. Ya, undangan terbuka untuk menghadiri apel akbar pada tanggal 1 Juni 2008 pukul 13.00-16.00 WIB di lap Monas Jakarta. Tertera di sudut kiri pada halaman harian ternama tertanggal 30 Mei 2008. Diselenggarakan oleh Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Apel ini sepertinya untuk memperingati hari kelahiran Pancasila, setiap tanggal 1 Juni di negeri ini.

Di sudut halaman ini pula mereka menyerukan kepada pemerintah, wakil rakyat, dan pemegang otoritas untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an. Tekanan yang bagaimanakah yang mereka maksud? Adalah kekerasan terhadap penganut Ahmadiyah-lah yang mereka maksud, mungkin hanya salah satu contoh yang disebutkan. Bahwa Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi. Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi ke-Indonesiaan kita”. Itulah tiga kalimat awal dari keseluruhan paragraf pertama yang bernada seruan mereka.

“Marilah kita jaga republik kita. Marilah kita pertahankan hak-hak asasi kita. Marilah kita kembalikan persatuan kita”. Tiga kalimat yang dirangkai dalam paragraf selanjutnya, diketik dengan gaya centre dalam kolom. Wah, sungguh bernada patriotis, nasionalis, dan menggugah jiwa.

Ingin rasanya hadir disana. Namun ada dua alasan yang menghalanginya. Pertama, memang secara geografis sangat jauh, dan kedua, alasan yang bersifat radikal dan fundamental, yaitu apakah tidak bertentangan dengan agama yang saya anut?

Setelah melanjutkan membaca, terlihat daftar nama-nama, tidak tahu apakah memang anggota dari aliansi ini (jika memang aliansi akan aktif nantinya) atau hanya yang para pendukung acara apel tersebut. Amien Rais, Azyumardi Azra, 12 Kyai Haji (KH) (termasuk KH. Abdurrahman Wahid dan KH. Mustofa Bisri), dan tokoh-tokoh nasional jempolan yang berjumlah lebih kurang 300 orang. Tokoh-tokoh tersebut ialah tokoh agama, tokoh politik, tokoh seni, dan lain-lain.

Setidaknya kebimbangan saya terjawab dengan nama-nama seperti Amien Rais, Azyumardi Azra, KH. Abdurrahman Wahid dan KH. Mustofa Bisri. Sepertinya Islam tidak melarang aksi ini, toh mereka juga tertera namanya, yang artinya setuju. Untuk tokoh-tokoh tersebut publik tidak perlu meragukan lagi akan ilmu keislamannya. Track record dan educational background setidaknya bisa menjadi bukti. Tetap saja saya tidak bisa menghadirinya untuk alasan yang pertama.


***


Alangkah terkejutnya saya ketika menyaksikan televisi bahwa apel tersebut diserang oleh ormas yang mengatasnamakan Islam. Tidak kalah dengan aksi mahasiswa versus polisi, disini juga terjadi hal itu, akan tetapi sepertinya hanya terjadi serangan satu pihak. Bahwa ormas Islam itu bersikap offensive dan simpatisan/peserta yang menghadiri acara apel bersifat defensive, lebih tepatnya hanya keep in dodging (mencoba mengelak). Hati saya berkata, apa jadinya diri saya jika berada disana? Apakah termasuk dari setidaknya 12 korban yang menderita luka? Atau juga mengalami geger otak ringan yang diakibatkan oleh tongkat yang kata mereka bermerek Islam? Apakah kalimat suci Allahu Akbar sudah mengalami perluasan makna?

Kecaman pun berdatangan. Tiga diantaranya berasal dari tokoh-tokoh yang memang menghadiri acara tersebut. Goenawan Mohammad (wartawan senior), Din Syamsudin (ketum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan KH. Abdurrahman Wahid (ketua dewan syuro PKB). Lagi-lagi hati saya bertanya, Islam yang manakah yang benar? Apakah Islam yang menyerang atau yang diserang?

Saya akui tingkat pemahaman akan agama saya sangat rendah. Teringat akan sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Alwi Shihab (adik kandung Quraish Shihab) yang berjudul “Islam Inklusif”, yang diterbitkan oleh Mizan. Pada buku tersebut tertera coretan berupa sebuah tanda tangan ibu saya dan tertanggal 7 Maret 2003. Buku lama memang, tetapi pembahasan di dalamnya masih relevan untuk situasi-situasi sekarang sampai nantiya. Di dalamnya dibahas mengenai Islam terhadap kasus-kasus kritis, diantaranya : sikap Islam terhadap pluralisme agama, saling hormat antar agama, dialog agama, dll. Saya mencoba memilah-milah judul manakah gerangan yang relevan dengan kasus di atas. Akhirnya saya menemukan sebuah pembahasan yang berjudul “Radikalisme Dalam Islam”. Ya, sepertinya relevan?

Tulisan ini sebenarnya tanggapan beliau terhadap usaha pembunuhan atas Presiden Mesir Husni Mubarak di Addis Ababa 26 Juni 1995. Beberapa catatan penting saya dapatkan dari tulisan yang bersandarkan islam secara kuat ini diantaranya:

  • “Walaupun tradisi penggunaan kekerasan dalam bentuk perang merupakan sarana ampuh untuk membangun suatu bangsa dalam sejarah peradaban manusia, namun sejarah membuktikan pula bahwa tidak satupun agama yang melegitimasi apalagi menganjurkan kekerasan. Sebagaimana halnya agama Kristen, Islam juga tampil sebagai gerakan reformasi, bukan agama ekspansionis.”
  • “Umar bin Abdul Aziz mengucapkan kata-katanya yang tak terlupakan: “Tuhan mengutus Muhammad untuk memberi petunjuk, sama sekali bukan untuk mengumpulkan Jizyah (pajak) melalui ekspansi teritorial.”
  • “Menengok kembali sejarah Islam, teristimewa pada masa awal misi Nabi Muhammad, kita menjumpai betapa Allah senantiasa memerintahkan Nabi-Nya untuk bersabar dan menahan derita dalam menghadapi masyarakat Arab. Karena Nabi Muhammad pada dasarnya adalah pembawa peringatan dan bukan pembangunan kerajaan melalui kekerasan.”
  • “Adalah tidak benar asumsi yang menyatakan bahwa jihad identik dengan aksi mengangkat senjata. Jihad dalam pengertian etimologis adalah usaha sungguh-sungguh yang tak mengenal lelah.”
  • “Dalam peristilahan Al-Quran, jihad dibagi atas dua kategori. Pertama adalah jihad fi sabilillah, dan kedua jihad fillah. Yang pertama dimaksud kan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam menempuh jalan Allah, termasuk di dalamnya pengorbanan harta dan nyawa. Pengorbanan para pahlawan bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah salah satu bentuk jihad fi sabilillah. Adapun kategori kedua jihad fillah atau usaha sungguh-sungguh (menghampiri Allah) adalah usaha untuk memperdalam aspek spiritual sehingga terjalin hubungan erat antara seseorang dengan Allah. Usaha sungguh-sungguh ini diekspresikan melalui penundukkan tendensi negative yang bersarang di jiwa tiap manusia, dan penyucian jiwa sebagai titik orientasi seluruh kegiatan. Kategori kedua ini sesuai dengan hadis Nabi yang populer adalah jihad dalam arti yang sebenarnya dan yang utama.”
  • ““Kami lebih mengutamakan untuk memberi peringatan kepada penguasa ketimbang mengangkat senjata” Itulah kata yang ditegaskan tokoh panutan kaum Muslim, Abul-Hasan Al-Asy’ari, yang wafat pada 324 H.”

The decision is on your hand. Apakah Anda setuju tulisan beliau relevan dengan kasus tersebut, ataupun tidak. Namun, terlepas dari relevansi atau tidaknya, para pelaku harus ditindak tegas. Law enforcement sebuah harga mati!. Karena salah satu poin penting dan sebuah prakondisi yang sangat vital untuk kemajuan negara dan bangsa dimana hukum harus ditegakkan saya kira.

Lebih menarik perhatian saya ketika ada pemberitaan bahwa ormas Islam lainnya, dalam hal ini GP Anshor dan Banser akan men-sweeping FPI jika Polri tidak bertindak tegas terhadap perbuatan FPI itu. Saya yakin bahwa penganut di luar Islam akan kebingungan dan bertanya-tanya. Ada apa sih dengan Islam? Islam manakah yang benar? Apakah Islam memang agama yang bertipikal kekerasan? Tapi percayalah kawan dan saudara setanah air, bahwa Islam bukanlah agama kekerasan. Jangan salahkan agamanya, tanyalah kepada pelakunya? Saya kira tindakan imperative, imperialis, dan kolonialis George Bush bukan berarti seluruh warga AS juga bersifat begitu. Yang lebih kita perhatikan ialah bahwa hanya terjadi kekeliruan yang besar dalam pemahaman beragama. Sekali lagi saya katakan, saya bukan ahli/berwawasan agama yang luas. Saya hanya merunut kata-kata dari ulama-ulama favorit saya., Din Syamsudin salah satu contohnya.

Islam agama kedamaian. Agama yang menjunjung tinggi wanita, bukan merekomendasikan untuk menciderai kepala mereka (wanita) sampai geger otak ringan. Islam tidak mengajurkan untuk bermain-main bom terhadap nyawa-nyawa manusia. Islam jauh dari semua itu.

***

Sepertinya aneh, ketika hutan-hutan (rimba) di Indonesia sudah semakin menipis oleh keserakahan dan kebodohan, tetapi hukum rimbanya semakin subur menjamur…


Friday, May 30, 2008

BODOH ATAU SEBUAH KONSPIRASI BESAR??

BODOH ATAU SEBUAH KONSPIRASI BESAR

Ada yang membuat saya terkejut ketika membaca lampiran ke-6 pada buku “Selamatkan Indonesia!” karya Pak Amien Rais. Sebenarnya hampir semua lembar dalam buku ini membuat saya terkejut, antusias, kecewa, sedih, pesimis, dst. Sehingga membaca buku ini, saya seperti berjalan di labirin yang penuh misteri dalam sebuah puri besar bernama Indonesia. Lembar per lembar saya baca, maka semakin dalam perjalanan saya di labirin misteri yang sebelumnya tidak saya ketahui, dan sedikit demi sedikit saya menemukan jawaban misteri-misteri tersebut.

Adapun lampiran tersebut berjudul “Cost Recovery PT Pertamina EP”, ditulis oleh Pak Marwoto Mitrohardjono, legislator pusat dari fraksi PAN yang duduk di panitia anggaran. Dari judulnya bisa ditebak mengenai uang/finansial dan PT Pertamina EP, anak perusahaan dari PT Pertamina, BUMN yang paling tenar dari dulu sampai nanti, sampai urusan migas kembali menjadi sumber pendapatan dan bukan pengeluaran yang utama bagi APBN di negeri ini. Di bawah ini merupakan uraian yang ditulis oleh beliau tetapi menggunakan bahasa saya sendiri plus sudut pandang pribadi.

Cost Recovery di atas ialah terkait dengan depresiasi aset-aset PT Pertamina. Ada apa dengan depresiasi aset? PT Pertamina mengajukan pembebanan (minta uang) atas depresiasi aset-aset mereka yang bersumber dari APBN untuk tahun 2008 sebesar US$ 333 juta. Periode aset-aset tersebut ialah untuk tahun 2004 s.d. 2008. Untuk tahun 2004 s.d. 2007 sudah direalisasikan pembayarannya. Jumlahnya sebesar US$ 2,327 juta. Sehingga jumlah dari tahun 2004 s.d. 2008 jika dikonversikan ke rupiah sebesar Rp 21,85 triliun.

Kejanggalan

Kejanggalan kasus di atas ialah terkait pengeluaran kas untuk biaya depresiasi. Sebagaimana dipelajari dan diketahui oleh para individu yang pernah mempelajari akuntansi: yang bersumber dari GAAP (di Indonesia bernama SAK), biaya depresiasi bukanlah biaya (expense) yang secara fisik uang keluar dari perusahaan pada masing-masing periode, tetapi hanya merupakan alokasi kos (cost allocation) atau pembebanan sebagai biaya untuk di-match-kan dengan pendapatan pada masing-masing periode dalam penghitungan laba perusahaan, dikarenakan periode-periode itu menikmati manfaat dari aset-aset yang dipergunakan dalam operasi perusahaan.

Perlakuan jurnalnya-pun berarti berbeda. Seharusnya debet pada Depresiasi dan kredit pada Cadangan Depresiasi/ Akumulasi Depresiasi. Akan tetapi didebet pada Depresiasi dan dikredit pada Kas/APBN. Artinya, penilaian terhadap aktiva PT Pertamina untuk tahun 2004 s.d. 2007 lebih besar dari yang seharusnya (overstated). Konsekuensinya APBN harus mengganti sebesar biaya tersebut pada masing-masing periode, dari tahun 2004 s.d. 2007.

Beliau juga memaparkan sebuah analogi menarik untuk mempermudah pemahaman terhadap kasus tersebut, yaitu:

“Kita mempunyai mobil yang kita operasikan sebagai taksi, untuk itu kita membuat kontrak karya dengan sopir sebagai operatornya. Sopir mendapat keuntungan berupa hasil di atas setoran kepada kita, lantas di luar penghasilan itu kita masih memberi cost recovery secara tunai kepada sopir yang notabene bukan pemilik mobil. Cost recovery mobil dimaksud adalah berupa cadangan depresiasi mobil melalui depresiasi setiap tahunnya sebagai pengganti karena mobil kita semakin usang, semakin menurun nilainya, semakin menurun potensinya. Masalahnya, si sopir penerima cost recovery secara tunai, apakah memangnya si sopir yang akan melakukan replacement atas mobil kita? Jawabannya pasti tidak.”

Ironis memang. Perusahaan besar (apalagi BUMN) melakukan kesalahan dalam perlakuan akuntansi. Apakah audit telah dilaksanakan secara benar menurut standar pengauditan? Ataukah pengauditan itu sendiri tidak pernah dilakukan?

Bayangkan jika uang sebesar Rp 21,85 triliun dialokasikan ke sektor pendidikan untuk proyek pengadaan komputer di tiap-tiap sekolah seluruh Indonesia. Harga komputer ditaksir sebesar Rp 3,5 juta. Maka:

Rp 21. 850.000.000.000,-/ Rp 3.500.000,- = 6.242.857 unit komputer. Jika jumlah sekolah SMP/MTs dan SMA/SMK/MA di seluruh Indonesia berjumlah 132.874 unit (sumber dari situs Jardiknas untuk sekolah yang telah terdaftar). Maka setiap sekolah tingkat SMP dan SMA akan memiliki komputer sebanyak 46 unit (6.242.857 dibagi 132.874).

Hasil akhirnya siswa-siswi di seluruh Indonesia sudah bisa mengoperasikan komputer atau setidaknya melek komputer, dan tidak ada yang namanya gaptek. Kemudian jika dipergunakan untuk proyek komputerisasi birokrasi/perizinan, tentunya akan mereduksi korupsi dan lama perizinan di Indonesia.

Kita mungkin bertanya apakah hal ini terjadi karena kekhilafan atau ketidakmengertian dalam akuntansi? Ataukah sebuah konspirasi besar antara sebagian orang dalam pemerintahan dan sebagian orang dalam BUMN tersebut? Mungkinkah seperti kasus Enron di Amerika terkait fraudulent dalam akuntansi juga terjadi di tubuh Pertamina?

Setidaknya kita bersyukur Pak Marwoto Mitrohardjono setelah/baru dua bulan duduk di panggar DPR RI telah menemukan dan mempersoalkan kasus tersebut. Walaupun untuk tahun 2004 s.d. 2007 kas APBN sudah bocor dan dalam proses untuk ditarik kembali, akan tetapi setidaknya di tahun 2008 kebocoran itu tidak terjadi.

Sekarang saya bertanya, apakah Anda tidak terkejut, antusias, kecewa, sedih, pesimis, dst berjalan di labirin dalam puri besar yang bernama Indonesia? Bagaimana dengan BUMN-BUMN lain? Bagaimana dengan kontrak-kontrak dengan perusahaan asing? Jika pada Pertamina di dalamnya notabene para pribumi, bagaimana dengan perusahaan-perusahaan asing? Berapa triliun lagi Indonesia dirugikan?

Wednesday, May 28, 2008

Ahistoris dan Kontraproduktif!, Sangat Disesalkan...

Lagi-lagi anomali ritual dalam demonstrasi terjadi. Hal ini ditayangkan oleh salah satu stasiun tv swasta pada tanggal 27 Mei 2008 pukul 06.05 wib. Kali ini benar-benar bodoh, kurang ajar, dan tidak tahu diri.


Aksi menentang kenaikan BBM dengan penurunan Bendera Merah Putih Kantor Bupati di Minahasa yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat yang bernama GEBRAK, Gerakan Bela Rakyat, sungguh sangat tidak bisa saya terima. Tidak hanya itu, Merah Putih pun sampai jatuh ke tanah. Lebih tidak bisa saya terima.


Saya merasa heran dan saya harus menghakimi secara pribadi dengan kalimat kedua pada paragraph pertama di tulisan saya ini. Keheranan saya, apa relevansi kenaikan BBM dengan penurunan bendera, dan kemudian terjatuh ke atas tanah? Bukankah sebuah penghinaan secara langsung oleh bangsa sendiri? Oleh segelintir masyarakat yang tidak tahu diri. Yang benar-benar melupakan jasa-jasa para pahlawannya. Lagi-lagi terjadi paradoksal dan kontradiktif dengan sebuah kata pepatah, “bahwa bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya”.


Apakah mereka lupa dengan jumlah yang tidak terkira atas nyawa yang harus melayang hanya untuk mengibarkan Bendera yang mulia itu. Sekali lagi, Sang Saka Merah Putih yang mulia. Tidakkah mereka ingat bagaimana kerja keras para atlet hanya untuk Sang Saka tersebut dikibarkan di luar negeri.


Pada saat itu sebenarnya juga ada beberapa aparat dari polisi pamong praja. Dan seharusnya mereka bertindak untuk melarang hal tersebut dilakukan. Walaupun kemudian aparat ini yang mengambil dan melipat bendera tersebut. Satu hal yang harus diingat, tidak pernah ada kata takut untuk bela dan kehormatan negara!!!


Mudah-mudahan mereka sadar akan ketidakwarasan itu. Dan jangan pernah ada hal seperti itu terjadi lagi. Dengan kata lain, bangsa Indonesia harus tahu diri dengan segala sikap dan perbuatannya!!!


Demonstrasi haruslah demonstrasi yang elegan. Demonstrasi seharusnya tidak bersifat ahistoris. Dan demonstrasi tidak boleh kontraproduktif terhadap pembangunan negara secara fisik dan pembangunan mental bangsa.


Tidak pernahkah terpikir oleh para demonstran bahwa di lokasi demontrasi dan di rumah-rumah, para generasi umur belasan dan baru menginjak umur remaja melihat aksi-aksi mereka, dalam hal ini kita bicara anarkisme yang sedang terjadi dalam demonstrasi. Itukah yang akan ditiru oleh generasi itu nantinya?


Bom Molotov dan pembakaran ban di tengah jalan seolah mengalami justifikasi perilaku dan memungkinkan menjadi sebuah budaya atau habit bangsa Indonesia dalam berdemonstrasi. Lebih jauh, ditemukannya ganja dan minuman keras dalam demonstrasi mahasiswa, mungkinkah juga akan mengalami justifikasi itu?


Sebuah peryataan yang harus selalu diingat dan diwaspadai oleh bangsa Indonesia dari Sukarno, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, sebaliknya perjuanganmu akan lebih susah karena melawan bangsamu sendiri”. Artinya bangsa Indonesia harus sadar bahwa hambatan dan musuh utama dalam mencapai cita-cita kemerdekaan tidak lain ialah diri sendiri. Kita sendirilah yang menyebabkan kemerosotan ini. Jikapun kita diolok-olok, dijajah, serta kekayaan kita dirampas oleh bangsa lain, itu semua dikarenakan kita lemah dan ketidakmampuan kita dalam melawan diri sendiri. Tidak mampu menahan nafsu untuk melakukan perilaku/perbuatan yang kontraproduktif terhadap kemajuan Indonesia. Mungkin kasus di atas bisa dijadikan contohnya.

Monday, May 26, 2008

Cinta Negara kah??

Seolah tenggelam dalam kelamnya samudera sejarah. Terkesima dengan segala usaha para pahlawanku. Keingintahuan dalam benak seolah mengetuk keras pada sebuah pintu kamar dalam otakku, kamar wawasan sejarah bangsaku. Setelah pintu itu terbuka dengan sendirinya, ternyata yang kutemukan hanya beberapa tumpukan pengetahuan, itupun sudah lusuh. Entah mengapa, semasa sekolah mata pelajaran sejarah bukan favoritku.


Alunan suara ini seolah menenggelamkanku lagi, lebih ke dalam. Namun, sangat aneh, bukannya kesusahan bernapas yang kurasakan, tetapi indahnya kehidupan di dalam samudera ini. Mungkin gelombang-gelombangnya tercipta dari riak-riak keikhlasan segenap elemen bangsa. Lagu-lagu waib ini benar-benar menyentuh rasa nasionalisme.

Pada saat ini juga, ku mencoba menengadahkan pandangan. Nun jauh di sana kulihat cakrawala pengetahuan guruku. Betapa luasnya ruang di atas sana. Kuluruskan pandangan ke depan. Di ujung sana kulihat horizon. Aku langsung bergegas berlari untuk menemukannya, berharap bisa menyentuhnya.

Setelah berlari jauh. Sia-sia kawan, jika ku mampu melihatnya dari jauh, bukan berarti ku bisa menemukannya, apalagi menyentuhnya. Titik temu antara cakrawala pengetahuan guruku dengan daratan pengetahuanku itu tidak ada. Fatamorgana, semu belaka. Membaca dan mencoba memahami tulisan bernada patriotik dari seorang nasionalis ini, yaitu guruku, membuatku mengembara melakukan hal-hal dalam gambaran di atas.

Lagu-lagu yang tercipta oleh tokoh-tokoh bangsa pada zaman dulu dan tulisan patriotik dari guruku ini merupakan sebuah refleksi atau manifestasi dari kecintaan anak-anak bangsa terhadap bangsa dan negaranya. Kemudian, di luar sana, betapa banyak anak-anak bangsa yang sedang melakukan demonstrasi terhadap kenaikan bahan bakar minyak, juga atas nama cinta bangsa dan negara.


Jika saya berfikir bahwa kita harus bersikap ikhlas untuk menerima kenaikan BBM itu dengan dalih agar negara ini tidak mengalami defisit APBN, apakah sikap ikhlas itu juga sebuah refleksi atau manifestasi rasa cinta bangsa dan negara tersebut?

Tuesday, May 20, 2008

DEMONSTRASI MAHASISWA

DEMONSTRASI MAHASISWA

(Dilihat Dari Cermin Ajaib)


Pada saat saya mulai menulis tulisan ini, waktu menunjukkan pukul 00.07. Saya menulisnya ketika saya menyaksikan newscast di Metro TV. Lagi-lagi untuk kesekiankalinya dan di lokasi lainnya terjadi kericuhan frontal antara oknum mahasiswa versus oknum kepolisian. Lempar-lemparan, kejar-kejaran. Sengaja saya menyebutkan oknum: yang artinya orang atau anasir; karena tidak semua anasir/individu dari dua kelompok terlibat di dalam kericuhan tersebut. Artinya, di kedua belah pihak masih ada individu-individu yang mencoba menghentikannya.

Seperti yang sebelum-sebelumnya, kericuhan tidak lain disebabkan oleh demonstrasi mahasiswa untuk menolak kenaikan BBM. Mahasiswa sebagai pihak yang berperan sebagai inspirator dan atau mediator aspirasi-aspirasi rakyat kepada pemerintah mencoba melaksanakan tugas mulia yang diembannya tersebut. Tugas mulia yang ditujukan untuk rakyat, bangsa, dan Negara. Sebaliknya, kepolisian sebagai pihak yang berperan sebagai penjaga keamanan, ketertiban, ketentraman, dan ke-an-ke-an lainnya, juga harus melaksanakan tugasnya. Sama dengan mahasiswa; untuk rakyat, bangsa, dan negara. Sama-sama mulia.

Tayangan kericuhan (kekerasan) dalam demonstrasi yang ditampilkan oleh setiap stasiun tv akan hal tersebut membuat para pemirsa; rakyat Indonesia; merasa miris, sedih, senang, terprovokasi,geram, dst. Semuanya tergantung opini, latar belakang, dan pretensi masing-masing. Ada yang setuju dengan dalih: itulah yang seharusnya dilakukan. Miris; dengan kondisi bangsa sekarang. Atau yang terprovokasi untuk melakukan hal yang sama.

Tidak bisa dipungkiri, kenaikan BBM memang menyulitkan masyarakat. Tidak hanya naiknya harga BBM tersebut, tetapi juga akan menstimulasi naiknya harga-harga kebutuhan hidup lain, secara cepat dan pasti. Bahkan kenaikan BBM tersebut belum terealisasi, harga-harga sembako dan kebutuhan lainnya sudah melonjak naik lebih dulu. Seolah-olah pertanyaan usil mengenai telur dan ayam mana yang tercipta lebih dulu bisa diibaratkan dalam hal ini.

Kenapa kericuhan tersebut bisa terjadi? Apakah kita harus menanyakannya kepada dua kubu tersebut secara langsung? Dipastikan tidak akan ada jawaban yang adil dan mengenai sampai ke serabut akar masalah. Kedua kubu akan saling menyalahkan: akan saling merasa benar.

Bagi saya pribadi, saya akan menjadi golongan yang merasa miris dan sedih akan kasus di atas. Jika ada kuisioner yang diselenggarakan oleh LSM/NGO yang mungkin bernama Peduli Bangsa Anti Kekerasan untuk mengetahui opini masyarakat akan kericuhan (kekerasan) dalam demonstrasi itu, maka saya akan menjadi pemilih yang akan mencoblos atau memberi tanda tick mark pada option paper, ikon wajah muram dan mungkin ada tetesan air matanya. Ironis, mahasiswa sebagai civitas akademika yang sehari-hari dijejali teori-teori positif dan anti kekerasan, kok prakteknya bertindak sebaliknya, berada dalam ruang paradoksal. Begitupun bagi polisi-polisi; yang telah ditanamkan dalam benak mereka bahwa polisi sebagai mitra dan melindungi masyarakat; ternyata juga “tidak sengaja” terlibat pada kericuhan itu. Bukankah mahasiswa salah satu elemen/anasir dari masyarakat itu sendiri.


Rangkaian Acara Utama Demonstrasi Lainnya

Kasus-kasus selanjutnya (bisa dikatakan unjustifiable) yang seakan-akan telah membudaya dilakukan oleh para mahasiswa tertentu (untuk tidak mengatakan kesuluruhan) dalam rangkaian demonstrasi mereka tersebut ialah pengrusakan infrastruktur pemerintah , penutupan jalan, penyegelan SPBU, dan pencegatan truk tangki BBM Pertamina jika sampai ada yang melintas. Anak-anak sekolah dasar-pun akan bertanya, salah apa dengan benda-benda mati tersebut? Apa mereka manggut dan setuju dengan kenaikan BBM itu? Apa truk tangki akan berdansa jika terjadi kenaikan BBM? Jawabannya tentu tidak. Mereka juga dioperasikan, digunakan, dan diperlukan oleh manusia. Dan hampir keseluruhan benda mati tersebut (infrastruktur pemerintah, truk tangki Pertamina, dan jalan-jalan) dibiayai dari anggaran negara, artinya milik rakyat juga. Nah, kok dirusak??? Walaupun kadang akhirnya mereka sadar sendiri, dengan alasan yang memang seharusnya.

Alangkah indahnya jika demonstrasi tersebut dilaksanakan dengan tentram, elegan, arif, dan berjalan dalam koridor kesopanan. Sebagai bangsa yang mengaku berbudaya dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, kiranya tidak sepatutnya hal itu terjadi. Apakah kita sebagai mahasiswa tidak malu jika rangkaian acara anomali dalam demonstrasi yang kita lakukan ditonton oleh para intelektual atau pihak-pihak yang benar-benar mendedikasikan dirinya untuk kemajuan bangsa tapi tidak melakukan kekerasan, sehingga kesannya kita sok pintar. Kepada penonton orang tua, sehingga kesannya kita sebagai yang muda tidak menghormati mereka dengan perilaku menyedihkan dan meresahkan mereka. Atau kepada anak sekolah di bawah kita, sehingga kesannya kita tidak malu mempertontonkan ketidakdewasaan dan ketidak-integritas-an kita sendiri.

Jika kasus di atas dianalogikan sebagai seorang putri yang bernama Bawang Merah yang menanyakan kecantikan dirinya kepada cermin ajaib, padahal cermin ajaib itu tidak pernah berkata bohong, bisa melihat ke dalam diri putri itu, melihat tabiat dan inner beauty seseorang, dan menilai seseorang putri berdasarkan tabiat dan inner beauty-nya Akankah cermin itu berbohong atau berkata sejujurnya…???

Jauh dari niat-niat tertentu, saya hanya menghirup segarnya udara alam kebebasan bersuara/berpendapat di Indonesia tercinta ini.

Sunday, May 18, 2008

Runner Up, Bangga Dong…!!! (Dari Badminton Menuju Lahirnya Kebangkitan Nasional)


Runner Up, Bangga Dong…!!!

(Dari Badminton Menuju Lahirnya Kebangkitan Nasional)


Akhirnya perjuangan itu terjawab sudah. Indonesia sampai saat ini masih harus mangakui keunggulan Cina pada tim Uber mereka. Mereka masih cukup tangguh. Status peringkat pemain teratas yang mereka sandang dari IBF bukan sesuatu kekeliruan. They have prove it.


Hasil 3-0 kemenangan mereka atas Tim Uber Indonesia lagi-lagi mengukuhkan bahwa merekalah jawara Uber dunia. Kemenangan ini juga menorehkan sejarah kepada mereka untuk memegang piala Uber enam kali berturut-turut dari tahun 1988, tentunya catatan kemenangan-kemenangan sebelum tahun 1998 juga harus diingat. Dan ternyata, hegemoni itu masih di tangan Cina.


Dari segi teknis permainan, Tim Uber Indonesia sebenarnya telah memperlihatkan permainan yang sangat indah, super indah, excellent. Seakan-akan sebuah kata “menyerah” telah dibenamkan ke dasar bumi yang paling dalam. Sehingga terbakar melepuh oleh panas bumi. Merah Putih itu masih berkibar Burung Garuda itu masih berdiri gagah perkasa menatap tajam rivalnya.


Medali perak yang dikalungkan oleh Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono kepada Firdasari dkk, setidaknya sebuah bukti bahwa Indonesia berusaha. Diukur dari target yang telah ditetapkan sebelumnya, Tim Uber Indonesia bisa dikatakan telah sukses. Indonesia yang hanya menargetkan berjuang sampai semifinal ternyata mampu melangkah lebih jauh sampai ke final.


Pada perhelatan besar ini, acara besar bulu tangkis dunia, terlihat antusiasme dan animo masyarakat, baik menonton langsung ke Istora atau hanya di depan televise masing-masing. Dipastikan adanya harapan kemenangan dari semua anak ibu pertiwi bagi Tim Uber Indonesia. Seluruh rakyat berharap untuk kemenangan Indonesia. Dan akhirnya sang Merah Putih telah berkibar. Walau, hanya berada di posis runner up.


Satu hal yang harus digarisbawahi dari harapan itu, ternyata rakyat Indonesia masih percaya bahwa bangsa ini bisa bangkit. Daun-daun harapan pada sebuah cabang olahraga ini telah tumbuh setelah mengalami kekeringan. Kini, kita masih menunggu untuk tumbuhnya daun-daun harapan cabang olahraga lain di pohon olahraga ini. Kita juga menunggu tumbuhnya daun-daun harapan pada pohon-pohon politik kita, pohon-pohon sosial, pohon-pohon ekonomi, dan pohon-pohon budaya. Yang pada akhirnya membuat hutan Indonesia akan lebat kembali dengan pohon-pohon dan daun-daun harapan itu. Kemudian, kita dapat memetik hasilnya.


Tentu semua itu menuntut kerja keras sang empunya hutan. Rakyat Indonesia dan pemerintah-lah sang empunya. Sinergi dari dua pemilik ini akan mampu menghijaukan hutan ini. Hutan yang akan membuat silau bangsa-bangsa dengan semburat kilau hijaunya. Semburat kilau Zamrud Khatulistiwa.


Jika sampai saat ini bangsa Indonesia masih berada left behind dari bangsa-bangsa lain, bukan sebuah hal yang mengherankan. Tengoklah kesalahan bangsa ini. Betapa tajamnya mesin-mesin chainsaw kita merenggut pohon-pohon harapan itu. Betapa malasnya kita menyiramnya dengan air kearifan. Betapa bodohnya kita memberi pupuk yang salah. Betapa kelirunya kita memotong tunas-tunas daun yang mau tumbuh itu dengan gunting bermerk korupsi. Entah darimana kita dapat gunting-gunting itu, yang jelas kita berada dalam lima besar dalam hal jumlah kepemilikannya di dunia.


Dengan momentum Seabad Hari Kebangkitan Nasional, mudah-mudah virus badminton bisa menularkan virus positif kepada bangsa ini, kepada semua anak-anak ibu pertiwi, baik itu pejabat, konglomerat, selebritis, tokoh politik, dst, tidak ketinggalan mahasiswa, yah, mahasiswa, agar sadar dengan posisi dan tindak tanduknya. Saya menekankan kata mahasiswa, karena tidak lain akan keheranan saya kepada yang katanya pemegang status agen of change ini. Keheranan saya terhadap perubahan yang dituntutt oleh mereka akan tetapi justru tuntutan tersebut dilaksanakan dengan descrucptive actions. Sungguh kontradiktif.


Kepada pahwalan-pahlawan Badminton kami, kalian telah berjasa, sangat berjasa. Betapa harus berterimkasihnya bangsa ini kepada kalian. Kalian telah membuka pintu rumah kita agar tamu/bangsa lain bisa melihat ke dalamnya. Kita harus bangga dengan prestasi kita. Lebih dari itu harus bangkit kembali, bangkit di seluruh lini. Demi Negara. Yah…demi Negara dan Bangsa kita…