Monday, June 29, 2009

EXPANDING THE COMFORT ZONE (KKN part 2)


Sometimes, the ending is just the beginning…



Hidup itu seperti senja. Seolah dia mengatakan bahwa sesuatu yang akan datang itu menakutkan, tidak baik, dan kelam. Pada saat senja, kau merasakan akan tiba saatnya kegelapan berkuasa di bumi. Pada saat senja kau merasakan bahwa dirimu akan sendiri, sepi. Pada saat senja kau merasakan bahwa impian-impianmu itu sebenarnya hanyalah mimpi yang takkan pernah kau raih dan dapatkan. Pada saat senja pula kau merasakan akan sampai saat untuk merasakan kekosongan dan ketakutan.

Senja menjadi ketakutan tersendiri. Ketakutan dirimu akan keadaan seseorang yang kau sayangi di luar sana. Akankah dia baik-baik saja? Merasa nyaman dan amankah dirinya saat senja menjelang dan yang terjadi kemudian? Ketakutan akan dirimu yang tertinggal sendiri untuk menghadapi hari tanpa orang tua yang menasehati dan menyayangi. Seolah bumi dan segalanya isinya menjadi hal yang sangat sombong untuk bersahabat denganmu kemudian.

Tapi, jika kau cukup memiliki keberanian untuk melewatinya, bukankah malam itu indah. Semakin tua umur malam itu, semakin kau hanyut dan merasa tenang di dalamnya. Dengan menahan tidur kau bisa melihat bintang yang semakin malam semakin banyak jumlahnya. Bersahut-sahutan dalam kerlipannya. Membentuk sesuatu sehingga kau mengenal yang namanya rasi bintang. Menjadikan dirinya penting bagi para nelayan untuk mencari jalan pulang. Untuk membuat meriah samudera, yang awalnya sepi dan dingin, menjadi sebuah dunia perjalanan indah tersendiri bagi pelakunya.

*****


Agenda ini membuat kepayang. Dia dan tugas rutin, sungguh membuat nafas sudah tinggal di ubun-ubun. Satu tambah satu sama dengan tiga, begitulah si sinergi bekerja. It lessen my time. Mereka membuat tubuh semakin lebar dikarenakan kurang waktu untuk olahraga. Mereka membuat rambutku tegang selama setidaknya dua bulan terakhir ini. Mungkin ini yang menyebabkan uban setengah matang yang mengaku keren kemarin tumbuh di antara si hitam mayoritas di kepalaku.

Dalam waktu kurang dari seminggu, aku akan telah menginjakkan kaki di Sumatra. KKN MAHASISWA. Keren bukan nama agenda itu?? What do the people think about the university student exactly?? What can I do for the society?? Will it worthy for them??

‘Suka dengan hal-hal baru!!’

Begitu mengesankan bukan slogan itu. Tapi bukan aku yang menyatakannya. It’s just so overconfident. Biasanya banyak kau temukan pada akun-akun di Facebook atau Friendster atau Twitter, atau para artis yang mengucapkannya di acara talkshow atau infotainment. You and me must remember perhaps, that this is not easy to dealing with the new things, is it??

Pra dan setelah keberangkatan pasti telah dan akan membuatku seseorang yang berbeda. Mencoba mengidentifikasi dan berkontemplasi mengenai hal-hal baru yang telah dan yang akan datang. Nothing is perfect, but they will attribute you. Okay, I accept that. I have been trying to compromise with my self.


OUT OF THE COMFORT ZONE

Let me list the things which are not in my comfort zone. Here they are:

Rapat. Sebuah kata yang keren untuk diucapkan. Kata ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang beruntung dan memiliki kemauan. Beruntung untuk bisa sekolah, berorganisasi, memiliki pekerjaan, dan tentu mereka dapatkan karena mereka memiliki kemauan untuk itu. Tapi kadang-kadang (or often??), berorganisasi itu hanya seperti window dressing pada laporan keuangan, atau make-up pada wajah.

“Yah, aku ikut BEM agar curriculum vitae-ku lebih bagus aja nantinya” dengan senyum temanku mengatakan seperti itu kepadaku.

“Organisasi itu asyik lagi, ngecengin siapa kek gitu!!” Biasanya laki-laki yang dengan percaya diri menyatakan hal ini.

Aku harus ikut rapat. Terakhir rapat sepertinya sewaktu SMA. OSIS itulah nama organisasi keren nan narsis itu. Setidaknya agar tidak ketinggalan informasi mengenai agenda yang hanya ber-SKS tiga ini. But often bentrok dengan jadwal kuliah. Kuliah tentu menjadi prioritas. Kamu kan ke kota ini bukan untuk rapat Ky?? He….

Ngamen. Aku tidak tahu ini hal yang justifiable apa tidak. Tapi aku kini telah pernah berada pada posisi yang berbeda dalam kehidupan ini. Mengajarkanku untuk how to behave toward or treat them. They are great people actually.

Satu pengalaman menarik ialah ketika para foreign student yang kami coba hibur, dan mereka requested lagu berbahasa inggris, dan kami menyanyikan, but they just gave us Rp 1.000,- Padahal mereka sudah menang secara kurs dengan negara kasihan ini. Tetapi mereka hanya memberi sepersepuluh dolar Amerika. “Siapa suruh menyanyi fals!!”

Jualan Baju Bekas. Pukul tiga pagi yang mana ketika para karyawan SPBU yang bermata hanya tinggal lima watt, aku menggangu mereka. Perjalanan berjarak lumayan ke pasar depan Candi Prambanan. Baju, celana, tas-bekas yang kami kumpulkan dari para pemiliknya, terjual dengan harga tidak lebih lima ribu rupiah per item. Untuk baju, paling mahal berharga dua ribu. It’s was sold. Sejalan dengan meningkatnya ekonomi Indonesia yang diteriakkan pemerintah!!?? Or it’s just about the mentality??


EXPANDING THE COMFORT ZONE

I faced those realities. Give me other perspectives, about the people, about the life, and about the process. Prior, I bothered me, my comfort zone. But, Don’t we have to change, do we?? To survive, to be better, to be stronger, to be wiser, to be greater.

The Change, a word that I’m not supposed to be afraid of. It’s all about expanding the comfort zone solely…

Saturday, June 13, 2009

A BLESSING WEEK


You can’t count what the God has been giving the all to you, that you have to do is just expressing your gratitude…


The Miracle of Alms

Siang Kamis tanggal 4 Juni 2009. Siang yang begitu terik. Di sela-sela kesibukan untuk mempersiapkan tugas presentasi, aku menyempatkan diri untuk melangkahkan kaki ke gedung pusat, meninggalkan tim yang menyelesaikan tugas masing-masing.
Aku tergesa-gesa, berjalan cepat dan berlari kecil, agar tidak terlalu lama meninggalkan tim.

Sesampai di gedung pusat lantai tiga, tarik-hembus nafasku begitu cepat. Karyawan gedung pusat sudah menunggu bagi para peserta KKN untuk mengambil properti-properti dan dokumen / pencatatan yang harus dilakukan dalam KKN nanti. Aku mengantri di belakang kerumunan mahasiswa jilbaber.

Tiba giliranku. Salah satu karyawan ini membuatku sedikit jengkel dengan dirinya. Sok tahu, sok berkuasa, dan feminim. Aku manggut-manggut saja untuk mempercepat proses ini. Aku pulang, sangat singkat.

Di perjalanan menuju kembali ke kampus fakultas ekonomi, aku melihat seorang nenek dengan dua cucu beliau mungkin. Kedua anak tersebut kembar. Pakaian sama, tinggi sama, dan wajah sama. Mereka bertiga terlihat berpakaian lusuh, namun si kembar yang mungkin berumur 2,5 tahun tersebut saling bercengkrama, mereka senang. Sementara sang Nenek, menenteng plastik besar transparan. Apa yang sedang di bawa sang nenek terlihat olehku, tapi aku tidak tahu apa itu. Pakaian atau apa? Yang pasti juga lusuh.

Tidak sedikit kaum papa yang berseliweran di kampus yang katanya kerakyatan ini. Mengais-ngais barang rongsok, lusuh, dan bekas di sekitaran kampus, yang mungkin di balik barang-barang yang kedinginan dan sendirian itu, ada suatu nilai yang bernama rezeki. Sementara sang ibu duduk melipat-lipat plastic transparan lebar di bawah tangga, sang anak bermain mobil-mobilan di mushala kampus. Sementara sang anak tertawa dan tersenyum senang melihat ikan-ikan yang berwarna dalam kolam-kolam kampus, sang ibu menengadahkan gelas plastik bekas gelas teh kepada para mahasiswa yang berlalu lalang. Mereka tidak mengindahkan jarak duduk mereka dengan lewatnya mobil-mobil dosen dan mahasiwa. Mungkin kehadiran mereka terlihat mengherankan di mata sivitas, dosen tamu, ataupun CCTV kampus. Atau sivitas sudah mulai menyesuaiakan diri dengan hal ini. Mereka tidak perduli.

Melihat dua cucu kembar sang nenek tadi, aku tersenyum miris. Senang dan sedih melihat mereka tertawa. Pikiranku langsung terasosiasi kepada adikku. Bagaimana jika mereka adalah nenek dan adik-adikku. Syukur terpanjat dalam hati dengan kondisi diri ini jika dibandingkan dengan mereka. Aku menghentikan motor, membuka dompet untuk mencari rupiah yang bisa dialirkan kepada mereka. Nenek yang melihatku berhenti langsung berjalan menuju kepadaku. Kejadian ini dilihat setidaknya oleh empat petugas parkir gedung pusat. Aku memberikan nenek tersebut rupiah yang hanya senilai dengan dua kali makan standar di kota ini.

“Terima kasih, Tuhan nanti yang akan membalas semuanya!!” Nenek berucap kecil.

Aku merasa bahagia, sedih, dan perasaan lain yang bercampur. Sekali lagi aku bersyukur dengan kondisi diri sendiri.

Tidak lama aku tiba di kampus untuk melanjutkan tugas presentasi, panggilan masuk handphone yang berbunyi kecil menghentikan konsentrasiku. Ternyata dari ibuku. Beliau menanyakan kabar aktifitas kuliahku. Apakah ada hari senggang sedikit dalam beberapa hari ke depan ini. Aku menjawab, seminggu ke depan aku minggu tenang. Beliau memintaku untuk bertemu di suatu kota karena tak sempat untuk singgah di kota bakpia ini. Artinya aku akan bertemu ibu dan adik-adikku, libur sebelum tempur ujian, dan tentu menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan mereka.

Telepon ini tidak lebih dari lima belas menit setelah aku memberikan sejumlah rupiah kepada nenek dan cucu-cucunya tadi. Jika tadi aku menjadi rindu dengan adik-adikku karena melihat si kembar itu, kini Tuhan justru memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan mereka dan tentunya Ibuku. Aku merasa keraguanku atas pernyataan-pernyataan kerap Ustadzh Yusuf Mansyur kini terjawab. Aku tidak-menyangka cara dan jalannya. Tuhan memberitahuku dengan caranya yang tidak terduga, dengan lebih berlipat nilainya. That’s the miracle of alms.


HUKUM TERBALIK YANG MENGHEMPASKAN


Tidak terasa dua hari bertemu dengan ibu dan adikku, akhirnya kami harus berpisah kembali. Aku harus kembali ke kota bakpia dan beliau kembali ke rumah. Agenda beliau kali ini telah selesai.

Masih teringat di kepalaku bagaimana paniknya ketika diaper adikku yang penuh, yang hanya ada aku di situ.

“Tunggu jika Mama sudah datang, baru ganti”. Begitu yakin aku mengucapkan kalimat itu, adikku masih belum mengerti. Dua jam menjaga seorang balita sama susahnya untuk meminta maaf kepada pasangan. Keduanya sama-sama membutuhkan aku berperilaku melelahkan, untuk membuatnya tidak marah, tidak membosankan, dan mau tersenyum.

Masih teringat betapa kencangnya teriakkan adikku ketika dia berteriak karena sandal yang baru dibelinya itu tidak memuaskan hatinya. Sandal tersebut tidak mengikuti keseluruhan kakinya ketika berjalan. Sebagian sandal berkhianat dari bentuk kakinya. Dia marah, berteriak, dan memukul lantai ubin dengan keras, walhasil dia kecewa sendiri dan menangis kencang. Semua pengunjung tempat perbelanjaan melihat kepadanya dan aku dan ibuku. Ah bikin malu aja.

Masih teringat dengan adikku yang begitu menikmati mobilitas menggunakan lift. Kotak ajaib yang mengantarkan tubuh tanpa lelah. Berjalan dan berlari di lobby yang penuh dengan orang-orang dengan urusan masing-masing. “Sini ah, diam sini, aku capek!!” Yah, dia jalan-jalan lagi.

Kami menuju barisan taksi yang mengantarkan ibu dan adikku ke bandara. Sementara aku akan menggunakan taksi yang lain untuk menuju stasiun kereta api.

Ibuku masuk ke taksi setelah memasukkan adikku terlebih dahulu.

“Mama pulang ya, terima ya Nak!!”

“What??” ibuku mengucapkan terima kasih kepadaku. Sebuah kata yang tidak sepantasnya diucapkan oleh seorang ibu kepada anak-anaknya. Aku merasa seperti tidak merasa. Kenapa ibuku mengucapkan kalimat itu. Mungkin aku merasa durhaka, seharusnya aku lah yang mengucapkan hal itu, selalu, tanpa harus menunggu lebaran dan hari ulang tahun, dan momen-momen berjarak waktu lama yang lain. Aku sudah untuk sepantasnya membuat beliau bahagia. Tiada seorang yang berhasil, tanpa keberhasilan sang ibu dalam mendidik anak-anaknya. Tiada seorang pemimpin berhasil tanpa keberhasilan sang ibu dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anaknya. Tiada kelembutan seorang anak tanpa kelembutan yang dicurahkan oleh sang ibu. Melalu satu kata yang universal dan kekal,yaitu CINTA.

“Saya Ma’ yang seharusnya berterima kasih” aku menjawabnya.

Ibuku menciumku dan aku mencium adikku. Kami berpisah.

Saturday, June 6, 2009

Never Before


Dalam perasaan tenang, untuk beberapa waktu…

Pagi menuju subuh. Aku merasa sedikit leluasa untuk bernafas dan bergerak. Akhir-akhir ini merupakan masa yang sungguh menghimpit dalam ekstase tugas-tugas kampus. At least, kurang dari dua puluh empat jam, aku harus melakukan dua presentasi. I commited to be all out for the both. Keduanya mata kuliah favorit. Mata kuliah yang membelalakkan mataku dan mengarahkan kakiku untuk melangkah pada dunia yang sebelumnya belum ku pijak, menuju dunia yang lebih menantang. A new greater world!! “Hello, ini lo sesuatu yang harus kau lihat!!” mungkin mereka berkata begitu.

Ekspektasiku lebih kurang lima bulan yang lalu pada kedua dosen ini terjawab, meski tidak sempurna. Itu hanya merupakan masalah klasik ekonomi, mengalokasikan sumber daya yang terbatas. Sementara the others merasa hari Kamis itu hari yang menyesakkan, bagiku setiap hari tersebut , lima bulan terakhir, merupakan hari yang benar-benar hebat, I would not miss this day!! Because they challenged me!! Dan aku menerima tantangan itu.

Pagi ini, aku membuka kembali slide powerpoint yang telah kubuat kemarin. Mengorbankan waktu tidur. Berdamai dengan sang fisik. Aku minta dia memberiku excuse untuk hanya sedikit tidur dari biasanya, dan dia memintaku untuk memberikan kompensasi atas kebaikannya tersebut. Aku memberinya dua biji Vitacimin dan konsumsi air yang cukup per hari. “Ok, aku setuju, It’s a great deal, wasn’t it body??” Meski tarik ulur dengan radang tenggorokan tidak terelakkan.

Sudah sifatku untuk membenci slide-slide yang panjang lebar. Aku merasa seolah mereka mengganti PowerPoint dari Microsoft menjadi PowerScript. Maukah Anda diberikan wejangan presentasi seseorang yang mana slide-slide yang dibuatnya seperti koran yang harus Anda baca berjarak setidaknya lima meter?? Apakah Anda tidak bertanya ketika keadaan tersebut menimpa Anda, bukannya aku seharusnya mengikuti presentasi sore ini tapi kenapa aku berada di tempat tes kemampuan mata?? Menjemukan!!

So, aku memaksa tim untuk tidak menggunakan paparan yang panjang lebar. That was how the PowerPoint should work!! Selain itu, aku juga meminta agar tidak membawa catatan kecil ketika memberikan presentasi. Show your capability up!! Dan mereka menerimanya. Thankyou-thankyou my team. Ini demi kebaikanmu. Hehe…

Selain itu, aku berusaha untuk meng-insert gambar-gambar yang relevan dan explaining di tiap-tiap slide. Dalam hal ini aku berterima kasih kepada Larry Page dan Sergey Brin atas Google-nya. Juga, dengan kata-kata touching dan unusual, but it must be relevant of course. I made it. Aku rasa terlalu sempit jika kita merasa kesuksesan hanyalah ketika kita mampu mencapai target nun jauh di sana beberapa tahun lagi itu yang kita sangat idam-idamkan. Change it!! Respect your life!!

This story is not about me. This is about dua dosen hebat yang aku banggakan. Mungkin suatu saat aku harus mendirikan fans club untuk dua dosen hebat ini. Memang titel impor mereka bukan sebuah retorika. Dan untuk pertama kalinya kepada seorang dosen aku mengucapkan “Pak minal aidin wal faidzin ya Pak, LUAR BIASA!!” Aku bukan tipe seperti Pasha atau ‘aktifis’ MLM yang sering mengeluarkan kata LUAR BIASA dalam keseharianku.

My lecturers, thank you so much…

P.S : Ini masalah tendensi dan point of concern, bukan berarti yang lain tidak baik.

Tuesday, May 19, 2009

INSULTING GUEST


9 Mei 2009, Malam Minggu, lima belas menit menuju jam sepuluh…

“Picky!!”

Sebuah suara samar terdengar olehku.

Aku masih asyik dengan jari memetik senar gitar nilon yang berumur tidak kurang dari tiga tahun. Pada waktu yang sama mulutku mencoba menyesuaikan ritme musik yang dihasilkan oleh senar-senar tersebut yang bergetar. Terbius oleh komposisi musik MyFacebook-nya GIGI. Sebuah single yang membuatku jatuh cinta pada pendengaran pertama dengan dirinya. Kini aku memainkannya di kos sendiri. Saudara sekos sedang keluar semua. Menyedihkan aku sendiri seperti orang bodoh di kos malam Minggu. Sendiri!!

“Berawal dari facebook baruku
Kau datang dengan cara tiba-tiba
Bekas kekasih lama yang hilang
Satu dari kekasih yang terbaik”



“Picky!!”

Lagi terdengar suara itu dibalik daun pintu, di sebelah luar kamarku.

Memori otakku bekerja.

Jenis atau bentuk suara manusia yang kudengar saat ini memanggilku dengan “Picky” tidak kutemukan di dalam penyimpanan memoriku. Aku belum pernah sebelumnya dipanggil dengan panggilan Picky oleh suara ini. Aku yakin aku tidak salah dengar. Dia memanggilku “Picky” dan aku tidak mengenal suaranya.

“Oh Bapak” aku membuka pintu dengan tangan kiri masih menenteng gitar. Biasanya dia memanggilku dengan kata “Nak” sebelum namaku.

“Anu, bisa bukakan kartu saya nggak??”

“Oh sebentar Pak!!” Aku meletakkan gitar. Menyenderkannya dibelakang pintu.
Sementara Bapak ini mencoba masuk ke kamarku.

“Tunggu sebentar Pak!!” Bahasa verbal yang tersirat di dalamnya bahwa aku tidak mengizinkan dia untuk masuk.

Sebuah handphone nokia seri yang kulupa, dengan baterai yang telah terlepas, disodorkan kepadaku. Baterai digenggam oleh tangan yang lain oleh sang pemiliknya.

“Oh iya Pak”

Aku menerimanya. Meraba dan mencoba membukanya. Aku menarik salah satu sisi tempat dimana kartu Simpati sedang bersemayam, tidak berhasil. Cara yang salah. Aku menggesernya. Tidak bergerak. Cara yang salah juga. Berpikir cara yang lain. Tunggu!! Tidak ada cara lain yang kutahu. Dua cara ini yang biasanya dilakukan untuk melepaskan kartu dari handphone Nokia.

Aku berpikir mungkin ini sengaja dilem atau cara lain agar tidak bisa terlepas. Entah apa tujuan tamu ini mau melepas kartunya malam ini.

“Ini Pak ya, ada tanda arah panah, kemana seharusnya penutupnya di geser. Tapi tidak bisa, saya tidak tahu juga”

“Oh ya sudah”

Tamu tersebut langsung bergegas pulang ketika handphonenya ku kembalikan. Mungkin dia marah, bisa karena aku tidak bisa berhasil menolongnya, atau karena tidak
kupersilahkan untuk masuk. Aku tidak menyesal.

***


17 bulan sebelumnya malam ini.

“Eh Bintang”

Aku menyapanya. Aku menguasai diriku.

Aku tidak berpikir negatif atas kepindahan kosnya yang secara mendadak bersamaan dengan kehilangan salah satu barang terberhargaku waktu itu. Kepindahannya tidak kuketahui, tidak ada sama sekali kulihat dia mengangkat barang-barangnya 17 bulan yang lalu. Meski hanya dalam satu hari barang itu telah terangkat dan terpindahkan semua. Mungkin sewaktu aku berada di kampus.

Dua minggu kemudian setelah kepindahannya, aku baru mengetahui, ternyata dia sudah pindah kos. Saat ini dia bertamu kembali ke kos, ke kamar saudara sekos sebelah kamarku.

“Picky. Bagaimana kabar Ki??”

“Baik Tang. Kamu kabar gimana?? Aku gak tau kamu pindah kos”

“Baik Ki. Iya aku pindah kos. Tau kan kenapa aku pindah kos??”

“Nggak tau” Aku tersenyum, berlagak tidak tahu, dan memang aku tidak tahu.

“Bapak sebelah kan waktu itu minta bantuanku. Katanya handphone dia error. Dia minta aku ke rumahnya. Aku pun ke situ. Sampai di situ handphone dia nggak apa-apa, baik-baik aja. Tapi aku justru diajak nonton film gituan sama beliau. Parahnya itu sejenis. Laki-laki versus laki-laki.”

Dia menceritakan dengan wajah yang tak enak, begitupun aku yang mendengarnya.

“Waduh. Terus gimana??” Aku curious.

“Ya aku nonton aja. Nggak enak juga. Sebenarnya aku pengen pergi aja. Eh lama kelamaan lagi dia malah colak-colek ibu jari kakiku. Bilang kalimat-kalimat yang nggak seharusnya dibilang. Mau mengajak aku untuk melakukan seperti yang sedang kami tonton”

Aku diam mendengar cerita itu. Aku seperti kalah telak 13-0. Kok bisa ya aku kecolongan selama ini? Tidak kusangka bapak itu begitu. Shit!!

“Aku nggak enak aja, pas kamu kehilangan aku pindah kos. Mungkin kamu berpikiran aku yang melakukannya.”

“Oh nggak kok Tang. Trus kamu melayani dia??” Aku mencandai dia.

“Ya enggak lah, gila aja”

Aku memungut kembali gitarku. Jemariku meliuk-liuk tak jelas di fret gitar mengelurkan nada-nada tak berskala. Skala mayor atau minorpun juga tidak. Jika sebelumnya aku antusias menyanyikan MyFacebook, berteriak-teriak di hampir tengah malam Minggu, kini aku speechless.

Terdiam.

Sosok diriku yang lain seolah keluar dari jasad dan menyaksikan aku yang sedang main gitar duduk di atas kursi kayu. Aku melihat diriku. Dia berhasil bersikap biasa-biasa saja puluhan detik lalu. Berpura tidak tahu akal bulus tamu yang tak diinginkan. Telah bijaksana mengusir secara tersirat. Aku masih terdiam. Aku merasa dilecehkan, dilecehkan seorang dengan jenis kelamin yang sama denganku. Aneh.

Keparat!!

Friday, April 24, 2009

MISTERI TELAH TERUNGKAP (KKN part-1)

Dokter Wanita Muda yang Menarik


Aku terduduk bingung di atas ranjang sederhana tinggi ini. Sepatu sengaja ku lepas agar tidak mengotori bed cover. Kaos kaki yang baru dicuci dua hari yang lalu, tergantung bersama sepasang kaki yang menjuntai. Satu meter di depanku terpampang cermin besar. Aku bisa melihat wajah yang sedang bingung, itu wajahku sendiri. Aku memutar badan empat puluh lima derajat ke kanan, satu meter di depanku berdiri seorang wanita lebih tua dariku. Dia berjalan mendekatiku setelah menanyakan yang menurutku itu hal-hal pribadi.

“Buka baju!!”

“What??”

Dia mengeluarkan perintah yang mengejutkanku. Perintah itu jika tertulis, pasti dengan dua tanda seru di belakangnya. Aku menjadi lebih bingung. Aku reflek berteriak dalam hati. Teriakan bingung jika tertulis, pasti dengan dua tanda tanya di belakangnya.

“Lihat ke cermin, jangan lihat ke lain!!” lagi sebuah perintah.

Kemudian, dia menyentuh telingaku. Trying to find something wrong inside may be.

Dia sepertinya seorang dokter. Dia menanyakan tentang berbagai penyakit atau pengalaman sakit yang (pernah) kumiliki atau pernah ku alami. Jawabannya semua tidak ada. “Alergi?” Sepertinya tidak ada. Dia menyenter mataku. Mengintip ke dalam telingaku. Mendengarkan detak jantungku. Aku tidak tahu dengan semua prosedur itu. Untuk mencari kejanggalan apa sebenarnya yang ada di tubuhku. “Ok, everything is fine and normal”

“Golongan darah kok belum di isi??”

“Aku tidak tahu.”

“Terus selama ini??”

“Ngarang atau menanyakan sama ibu. Beliau mengatakan tulis saja sama seperti golongan darah Ibu??”

“Upps, sejak kapan golongan darah berubah??” dia bertanya dengan tertawa usil.

“Bagiku , semenjak aku mengisi identitas untuk masuk SMP, dari apa yang ku isi di raport SD. Sejak saat itu berubah, bahkan berubah-ubah”

“Wow, hebat!!”

“Mengejek??”

“Eeemm tidak. Tapi kamu harus mengeceknya di laboratorium favorit kamu!!”

“Sejak kapan lab seperti warung makan bagiku??”

“Emm, hanya bercanda”

“Penting??”

“Sangat untukkmu, bukan untukku!!”

“Sudah selesai??”

“Yu hu”

“Ok, thank you. Apakah aku harus kembali ke ruangan ini??”

“Tidak perlu. Listen!! Sebenarnya kamu yang butuh aku, bukan aku yang butuh kamu. So, please ubah intonasi dan mimik kamu ketika mengatakan harus kembali atau tidak!!”

“Ok bu Dokter yang terhormat!!. Dengan segala kerendahan hati, I apologize.”

“See you…”





Lawan Tanding yang Tak Sebanding


Aku masuk. Berdiri di belakang pintu yang baru tertutup otomatis. Ruangan menarik dengan berbagai warna terang dan cerah. Kesan yang begitu urban, juga minimalis. So, where do I have to step or
move?? Oh, pasti ke wanita itu. Senyumnya menyuruhku untuk duduk di kursi di depan mejanya.

“Pagi, bisa saya bantu…”

Sapaan yang hangat di waktu pagi. Persis seperti sapaan para pegawai customer service yang telah terdidik dan berpengalaman. Tapi dia a receptionist.

“Cek golongan darah”

“Baik, silakan isi biodata dulu. Sebelumnya sudah pernah ke sini??’

“Ini yang pertama Mbak”

Aku mengisi data-data yang harus aku isi. Nama, alamat, no hp, dst…

“Ini Mbak”

“Baik. Langsung ikuti saya ya”

Aku mengikuti langkahnya yang men-drive aku ke ruangan transparan. Dapat dilihat dari luar dengan kaca bening bersih sebagai dindingnya.

“Selamat pagi Bapak”

Seorang petugas menyapaku lagi. Bapak?. Terlihat tua kah aku??

“Cek darah ya Pak”

“Iya Mas” untuk meyakinkan aku lebih muda agak banyak beberapa tahun darinya.

Petugas mulai bekerja. Memakai sarung tangan. Membuka kotak kecil. Di dalamnya ada banyak suntikan yang tersusun seperti korek api. Tapi pasti suntikan-suntikan itu bukan untuk orang-orang yang sedang berkepentingan sama seperti aku saat ini. But, he picks it one.

“Sebentar Mas. Apakah kita harus menggunakan alat ini?? Getir…

“Iya”

“Apakah maksudnya aku harus di suntik??” Konfirmasi…

“Iya”

“Yang aku tahu. Ada alat yang lebih mutakhir dibandingkan satu yang tua ini untuk mengeluarkan darah. Jika saya tidak keliru, itu hanya sesuatu yang kecil, even though sebuah jarum. Dengan hanya disentuhkan dengan sedikit tenaga, akan membuat darah mengucur CUKUP di ujung jariku. Aku mendengarnya dari sahabatku ketika dia praktik di laboratorium sekolah” Usaha penolakan…

“Bapak takut disuntik??”

“Pertama dia memanggilku Bapak. Kemudian dia ingin menyuntik aku. Hey come on. Aku ke sini hanya untuk menanyakan golongan darahku apa. Bukan untuk disuntik.” Bicara sendiri dalam hati…

“Bukan tentang ketakutan. Aku sudah mengalaminya beberapa kali sewaktu kecil. Bahkan ketika kewajiban agama itu kujalankan. Aku disuntik lebih dari satu kali. Setelah itu tidak pernah lagi.”

“Apakah ini tentang trauma??”

“Emm. Oke. Menurutku ini hanya sesuatu yang tidak sebanding. Sebuah jarum suntik yang keras dan angkuh melakukan penetrasi pilu ke permukaan kulit, daging, dan nadi. Tiga bagian tubuh dimasuki olehnya dengan kejam. Kemudian, dia ambil beberapa CC darahku. Jumlahnya menjadi empat bagian tubuhku mendapat perlakuan tidak adil, apalagi sebanding.!!”

Tapi petugas ini tidak kalah keras dan angkuhnya dengan jarum suntik. Dengan senyuman keharusan sebuah pekerjaan yang dia coba tawarkan kepadaku. Sementara kedua tangannya menggulungkan balutan kencang di lengan kiriku. Setelah itu, tangan kirinya meraba untuk menemukan spot yang tepat di lenganku yang telah pasrah. Tangan kanannya dengan cekatan langsung. Nyes….Sebuah jarum menusukku.

“Apakah saya terlihat seperti seorang anak kecil atau orang bodoh saat ini Mbak?” aku bertanya pada petugas perempuan yang juga ada dalam ruangan ini sedari tadi.

“Oh tidak. Biasa kok.” Dia sambil tersenyum. Sebuah senyum penghibur untuk seorang calon pelanggan yang tidak potensial.

“Tapi untung telah masuk. Proses itu telah kulewati”

“Sepertinya akan diulang”

“Apa??”

“Ya, tidak tepat pada spot yang seharusnya. Darah tidak keluar.”

“Hei. Apa kalian tidak sadar dengan kepanikanku hanya untuk satu kali penetrasi?? Kemudian harus diulang?? Pantas begitu banyak yang menginginkan fakultas kedokteran. Yang benar dong Mas!!”

“Sudah kok” Petugas perempuan meyakinkanku bahwa untuk kali yang kedua telah berhasil

Aku kemudian berani melihat lengan kiriku yang telah dibalut dengan sejenis plaster untuk luka. Agar kuman tidak masuk.

Cukup lama aku menunggu untuk sebuah hasil di ruangan yang sebenarnya nyaman ini. Tapi sebisa mungkin untuk tidak berhubungan dengannya lagi. Itu petuah para tetua adat. Kemudian sms masuk.

Sender: Hi-lab #00010904150061#
ZulfahruiAu : AB0 AB; RH (+)


Sms yang tidak kumengerti isinya. Teman darimana lagi yang iseng di siang yang terik ini. Pasti dia telah makan siang untuk melakukan hal iseng ini. Terlihat dari seriusnya dia mengetik angka-angka itu.

Resepsionis itu kembali menyapaku dengan mata dan senyuman yang diberikannya untuk memintaku menuju ke tempatnya.

“Ini ya Mas”

“Terima kasih ya Mbak”

Ternyata sms itu hasil cek darahku. Isi surat yang diberikan resepsionis tidak berbeda dengan isi sms. Memang ada banyak cara untuk mencari keunggulan dalam bersaing. But, wait, golongan darahku tidak berbeda dengan kode nomor polisi kendaraan Yogyakarta. Ternyata aku salah tebak selama ini. Golongan darah yang aku tuliskan di raport SD, SMP, SMA, KTP, dst semuanya salah. It’s ok untuk melakukan kesalahan dalam hidup. Meski kesalahan yang relatif besar ini. Misteri selama 21 tahun itu telah terungkap.

Monday, April 13, 2009

Impian Dari Tepi Laut


Keindahan-keindahan yang belum datang itu seakan sirna. Seolah tidak akan pernah datang. Seolah semua telah jelas terlihat di depan sana. Apa yang akan terjadi dan keadaan seperti apa yang akan terjadi. Sepertinya akan menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Banyak orang mengatakan bahwa hidup itu ialah sebuah misteri. Tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Apa dan bagaimana itu akan terjadi, biarlah itu terjadi nantinya, dan dengan sendirinya. Dia akan memberikan sesuatu yang tidak akan pernah kau duga. Sesuatu yang sebelumnya belum kau rasa. Sesuatu yang akan membuatmu menjatuhkan air mata yang hanya sedikit itu. Entah apakah karena engkau bahagia atau memang kau terluka. Bukankah itu sebuah keindahan hidup?

Mungkin itu alasan kenapa Tuhan tidak mengizinkan sang khalifah untuk tidak meramal, memprediksi, dan meyakini sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Karena dengan itu dirimu tidak akan pernah berbahagia, was-was, takut, dan penuh pikiran atas ketakutan-ketakutan yang engkau ciptakan. Artinya, Tuhan menginginkan sang khalifah bertingkah laku yang terbaik saat-saat ini, untuk saat ini dan untuk masa depan. Biarkan Dia yang akan menguji kita dengan berbagai skenario yang Dia yakini terbaik untuk kita.

Mungkin kita boleh melakukan analisis skenario untuk menghadapi masa depan yang misterius itu. Memperhitungkan segala sesuatu yang akan terjadi pada rentang ekstrem. Kemudian memutuskan langkah selanjutnya yang terbaik. Sebuah langkah sistematis dan antisipatif. Untuk sebuah hasil, ketika kita meneteskan air mata, kita menghapusnya, dan kemudian mengatakan dengan tersenyum bahwa ini air mata kebahagiaan. Tapi, sedikit banyak tentu tidak akan sama dengan apa yang kau harapkan. Tuhan itu bijaksana.

Lagi bayangan-bayangan yang akan datang itu sepertinya akan biasa-biasa saja. Sesudah meletakkan variable pada sebuah fungsi masa depan yang akan terjadi. Hasilnya, biasa-biasa saja. Meski itu di situ terdapat kenikmatan yang indah. Analisis scenario pada rentang favorable terekstrem telah dilaksanakan. Hasilnya, ya biasa-biasa saja itu. Hal ini hanya tumbuh dari rekayasa proses pikiran yang sempit dan pendek seorang anak manusia yang menginginkan sesuatu di masa depan. Dia pikir semudah, sesederhana, dan sebiasa-biasa itu. Bodoh…!!!

Berhenti sejenak. Berpikir dan berkontemplasi lagi…


Bukankah sewaktu kecil kita ditanamkan dengan nilai-nilai indah di masa depan yang hopefully akan kita temukan. Kita memimpikannya. Untuk selalu bertingkah laku sejalan dengan impian-impian indah itu...??

Orang-orang besar menjadi besar dengan impian besar yang mereka ciptakan dan kata-kata besar yang membesarkan mereka. Impian-impian dan kata-kata besar itu mampu mengalahkan rintangan dan hambatan yang sering, susah, pelik, dan menantang itu. Meski, terkadang air mata jatuh ketika mereka merasa begitu terjatuh dan hampir menyerah. Namun, tetap bangun kembali. Sekali lagi hidup itu indah…

Impian itu tumbuh dari tepi laut di kehingan malam. Hanya dihibur oleh ombak kecil bergulung. Terkadang diterangi oleh satu bulan yang anggun dan ribuan kerlipan bintang yang jenaka. Impian itu tumbuh di pelataran kayu ulin hitam tua yang dikolongnya merupakan daratan lumpur hitam berkarang, bersampah, dan lunak. Impian itu tumbuh akan lebih jauh dari kapal tanker dan tugboat yang tertidur di tengah laut sana. Impian itu akan lebih dalam dari dalamnya laut pasang bulan desember. Impian itu akan jauh lebih mahal dari speed boat bermesin dua milik perusahaan tambang batubara terkenal yang bertambat di pelataran sebelah. Impian itu akan lebih dingin dan misterius dari angin malam, dari pekatnya laut di malam hari.

“Sudahya Ki, kita berjuang di jalan masing-masing”

Sebuah pesan pendek yang menutup percakapan tertulis jarak jauh di tengah malam. Dari saudara yang telah merubah jalan hidupnya. Dia telah jauh lebih dewasa. Untuk mewujudkan impian-impian yang tumbuh di tepi laut, di pekatnya malam, di atas lumpur hitam, di pelataran tenang kayu ulin yang dingin.

Saturday, February 7, 2009

Dia adalah seorang yang terbuang
Seorang yang tidak digubris
Seorang yang ter-ada oleh sebuah situasi
Situasi dimana dia pun tidak mau hal itu terjadi
Apakah dia mengutuk keberadaannya sendiri??
Entahlah…

Andai dia mampu
Andai dia bisa
Andai dia cukup memiliki kesempatan
Andai dia memiliki
Andai dia tahu
Dia pasti telah sedang menikmati dunia ini…
Jangankan untuk berandai atau bermimpi,
atau untuk juga akan mengalami,
Membayangkan sajapun dia tidak
Karena dia tahu, itu tidak ada dalam kehidupan ini
Pada posisi dia sebagai dirinya
Dia sadar diri, dia tahu diri!!

Aku masih menunggu di luar. Sementara aku duduk santai melihat lalu lintas orang-orang di jalanan dengan kesibukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka masing-masing, sebut saja dia itu “Dia”, juga sedang ingin mewujudkan mimpinya sendiri. Mimpi itu sungguh tinggi baginya, karena menyangkut harga diri, dan keinginan untuk memperlihatkan eksistensinya. Keinginan untuk menunjukkan bahwa dia ada, juga ada. Walaupun aku yang memaksa Dia. Dia tahu diri kok!!

Aku memaksa dia!! Aku memaksa dia untuk mewujudkan mimpinya itu. Dia tidak mengatakan mimpinya itu kepadaku. Aku hanya mampu membaca keinginannya itu dari dalam dirinya. Mungkin aku memiliki sixth sense tersendiri yang terbawa sejak kelahiranku. Kemudian menuntunku untuk berani mengajaknya mewujudkan mimpinya yang tersembunyi itu. Sebuah mimpi yang tersembunyi, terpendam, terkubur dalam mahalnya cangkang kesadaran dirinya.

Aku bosan duduk di kursi tungggu. Sejak tadi yang kulihat hanya orang-orang yang lalu-lalang dengan kendaraan mereka. Aku mau masuk. Melihat sebuah proses seseorang dalam mewujudkan mimpi tingginya. Aku telah memegang gagang pintu. Aku menariknya. Dan aku masuk.

Dia tersenyum melihatku masuk. Ini baru kali pertama dia mengalami hal ini. Berdiri dengan baju berkancing dan berkerah di dalam ruangan kotak dengan cahaya lampu benderang. Perkakas di sekitar dia berdiri asing baginya. Dia hanya tahu salah satu perkakas itu mirip dengan mentudung di meja makan yang sudah tidak pernah dia sentuh lagi selama ini. Dia terlihat rapi, he is trying to be gallant!! Lagi dia tersenyum melihatku. Wanita di depannya yang sedari tadi memberikan komando terlihat sibuk dengan perkakas yang dipegangnya. Wanita ini berjilbab, aku memandang ke wajahnya. Aku melihat sebuah kesabaran yang dipertahankannya. Dia wanita yang baik.

“Kok lama Mbak??’ tanyaku.
“Matanya merem terus” jawabnya.
“Oh gitu…” aku maklum. “Gimana klo nggak usah pake blitz Mbak??” tanyaku lagi.
“Nggak bisa”
Wanita ini kembali bekerja dengan kameranya. Dia masih berdiri canggung di depan background biru, menunggu komando dari wanita tadi. Berkali-kali dicoba, matanya selalu tertutup.
“Coba tahan matamu Di, jangan hiraukan cahaya!!’ aku ikut memberikan komando.
Dia menangguk dengan senyuman.
“Merem aja dulu, nanti klo sudah aku hitung sampai tiga buka mata ya!!” wanita itu memberikan komando lagi”
1…2…3…Jepret!!…Final…Akhirnya dia berhasil mempertahankan matanya tetap terbuka.

Walaupun serangan kilat dari mentudung tadi menusuk bola matanya. Dia telah berhasil membuat foto warna untuk persyaratannya membuat Kartu Tanda Penduduk yang telah menjadi mimpi besarnya selama ini. Seharusnya dia telah memilikinya ketika dia berumur tujuh belas tahun tujuh tahun yang lalu.
Kami duduk. Kulihat senyum yang berbeda di wajahnya. Senyum saat ini benar-benar senyum puas dan bahagia. Dan ternyata senyum di dalam ruangan tadi itu merupakan senyum seseorang supaya tidak dicap sebagai seorang yang udik. Dia mempertahankan keberadaanya…

Foto telah selesai di cetak. 4x6 2 lembar, 2x3 4 lembar, satu keping CD. Jumlahnya Rp 25.000,-. Bill dibayar.


Pagi Jum’at…

Pagi pukul delapan menuju ke sembilan. Aku berputar-putar di salah satu jalan di Kotabaru. Dekat dengan Kodim Kotabaru. Aku lupa nama jalannya. Ingatanku berucap di sinilah Kantor Catatan Sipil berlokasi. Masih putar-putar. Celingak-celinguk. Para panitera sedang senam pagi di depan kantor mereka, Kantor Kejaksaan. Kantor Pengadilan Agama sepi. Para tukang ojek sedang duduk ngobrol. Ibu-ibu berkerumun di depan gerobak dorong sayur. Aku tidak menemukan kantor Capil. Aku bertanya kepada seorang tukang ojek. Dia memberikan alamat yang kemudian kusadari bahwa aku ternyata lupa, aku baru ingat. Aku menuju ke sana. Jalan H. Hasan Basri.

Aku telah berdiri di pintu kantor Capil. Melihat-lihat ke dinding. Mencari tahu bagaimana prosedur pengurusan KTP. Mungkin di seluruh dunia, atau hanya di Indonesia, atau hanya di kabupatenku, ketika memasuki instansi, no one greets me!! Or, may be just trying to show the easygoing bureaucracy. Para pegawai sibuk. Buka sana-sini, membolak-balik berkas, membenarkan kaca mata, stempel sana-sini. Aku menyapa seorang pegawai.

“Ngurus KTP bagaimana ya??”
“Mas, sudah memiliki kartu keluarga??”
“Oh, bukan untuk saya, untuk teman”
“Ada kartu keluarganya??”
Aduh!! Pertanyaan yang susah.
“Kita beruntung lahir dengan esensi-esensi sebuah kelahiran ada di sekitar kita, bapak, ibu, menunggu dengan harapan besar akan kelahiran kita. Bagaimana untuk seseorang yang lahir dengan ketidakinginan orang tuanya, kemudian ditinggal orang tuanya?? Bisakah dia memiliki kartu keluarga untuk dirinya sendiri??” aku bertanya lagi.
“Tetap tidak bisa, kecuali jika dia sudah menikah. Atau masih ada wali lain??”
“Neneknya ada, tapi sudah tua dan pikun, bagaimana??”
“Ya dengan neneknya”
Aku pergi keluar, membawa blanko permohonan pembuatan KTP dan Kartu Keluarga. Kami bergegas ke kelurahan.

“Pak, urusan KTP di mana??”

Pegawai itu menunjuk ruangannya. Di dalamnya ada empat pegawai, tiga perempuan, satu laki-laki.

“Meulah (membuat) KTP Pak” aku menyerahkan Kartu Keluarga paman si Dia.
“Oh ikam (kamu) anaknya Junaidi (nama samaran)??” tanya pegawai laki-laki.
“Lain (bukan) Pak, uluh mengurusakan KTP Dia.”
“Oh, iya-iya” pegawai kelurahan mengerti, dia sudah mengenal Dia.
“Gasan (untuk) apa KTP?? tanya pegawai.

Pegawai ini telah mengenal Dia. Pegawai ini tahu bahwa KTP tidak berfungsi bagi si Dia. Bukan untuk mengurus SIM, bukan untuk mengurus pendidikan, atau urusan lain-lain. Pegawai ini mungkin sadar dia menanyakan pertanyaan yang bodoh. But he is curious…

“Bapak tahu akhir-akhir ini polisi razia premanisme. Siapa yang tidak memiliki KTP dan keluyuran di malam hari, kena periksa, di tangkap.” Jawabku
Pegawai bertugas. Menulis identitas si Dia di blanko. Sekali-kali dia menanyakan identitas Dia.

Jika hanya ditangkap dan di data dirinya, bagi seorang Dia yang bahkan tidak lulus SD ini, akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan baginya untuk berurusan dengan sebuah instansi walau itu kepolisian, dia mungkin akan senang memiliki pengalaman itu. Tapi jika ketika di data Dia dibentak-bentak, dikatakan bodoh, dikatakan melawan petugas. Who wants?? Bahkan, untuk seorang yang tidak bersekolah, dia marah diperlakukan seperti itu. Aku masih ingat ketika dia menceritakan hal itu di pelataran tepi laut malam hari itu. Dia benar-benar emosi, marah, jengkel, sumpah serapah. Aku belum pernah melihat itu sebelumnya dari Dia, sejak kami masih kecil!!

“Tanggal lahir??” pegawai itu menanyakan lagi.

“8 Juli 1986” jawabku. Sebuah tanggal rekayasaku.

Tidak ada data yang kudapat dari Dia ketika kutanya mengenai kelahirannya. Dia tidak tahu. Nenek dia tidak tahu atau mungkin sudah lupa. Sepertinya tidak ada orang-orang yang tahu. Atau hanya tidak peduli. Mau mencari ibu atau bapaknya, tidak tahu di mana keberadaan mereka. Shit!!

Entah kenapa, aku seolah merasa sok pintar dan lebih tua dari bapak dan ibu-ibu pegawai yang ada di ruangan aku berada saat ini. Aku berceramah dengan kemarahan yang tersembunyi di wajah sok pintar dan sok tuaku saat ini.

“Ya, seharusnya ini tugas ketua RT atau petugas dari kelurahan untuk inisiatif, peduli kepada mereka-mereka seperti Dia yang tidak tahu baca tulis dan ekonomi lemah. Untuk mengakui keberadaan mereka. Namun, kita tahu, kita semua diminta pertanggungjawaban kita atas orang-orang seperti mereka, mengenai peran kita.”

Satu ibu pegawai dan bapak pegawai di depanku, menunduk pelit. Wajah mereka berubah. Aku tahu, hati mereka tersadar. Aku tidak peduli dengan persepsi mereka terhadapku. I say what I want, that I think I have to…

Kemudian, hatiku mulai basah ketika ku dengar pegawai itu menanyakan nama orang tua si Dia kepada Dia. It doesn’t seem as a question answered with the exact answer, it is like a bargaining process.

Selesai di kelurahan. Kami menuju ke Kantor Kecamatan. Prosesnya singkat di sini. Blanko di stempel. Kemudian petugas meminta si Dia menandatangani blanko. Dia tidak bisa baca tulis. Namun, Dia dengan berani mengambil pena yang telah disodorkan kepadanya. Dia menandatangani dengan singkat dan tegas, itulah kesan yang muncul!! Hebat. Dia benar-benar ingin mewujudkan mimpinya.

“Ikam (kamu) harus ingat dengan bentuknya!!” instruksiku kepada Dia terkait tanda tangannya.

Di Kantor Catatan Sipil, aku menyerahkan blanko. Kemudian diberikan selembar kertas berstatus sebagai tanda terima dan bukti untuk mengambil KTP yang telah selesai dibuat nantinya. Tidak ada keterangan bahwa ini dapat dipergunakan sebagai KTP sementara, meanwhile kami harus menunggu selama satu setengah bulan untuk KTP itu selesai. Harus berapa kali patroli polisi harus di waspadai oleh Dia. Seolah kucing-kucingan dengan petugas. Sementara itu walau hanya duduk di sekitaran kampung sendiri di malam hari.

“Ibu, tidak ada keterangan di sini bahwa ini dapat dipergunakan sebagai KTP sementara??” tanyaku heran.

Pegawai ini tidak dapat berkata untuk beberapa detik. Tak lama mulutnya mulai bergerak…
“Ya, seperti itulah adanya” jawabnya dengan susah.

Di sini, seharusnya aku bertanya kepada system, bukan kepada Ibu ini…