Tuesday, March 8, 2011

Rencana Besar Itu





Jauh-jauh hari sebelum seorang anak kecil mengganti bola lampu kamarnya untuk penerangan yang lebih baik untuk belajar pada senja kemarin, telah ada seseorang yang bertungkus lumus yang mempercayai dan mengerjakan gambaran mental penciptaan lampu pijar di kepalanya. Seseorang tersebut melakukannya bahkan di saat orang lain sama sekali bukan hanya tidak mampu melihat gambaran mental itu, mengira bahwa ternyata ada kebutuhan seperti itu dalam kehidupan saja tidak. Itu kenapa orang-orang seperti dia disebut pemimpin. 

7 Maret, Senin pagi, aku sudah terbangun dengan tidur yang hanya berdurasi sekitar mungkin tidak lebih dari empat jam. Empat jam sebelumnya aku mengantar one of my best friend or alter ego ke Stasiun Tugu Jogjakarta untuk kepergiannya ke Surabaya, yang akan dilanjutkan pukul tiga sore-nya ke Thailand. Di satu sisi dia my alter ego, tetapi di sisi lain juga marketer pribadi tidak langsung, dan secara sukarela. Melaluinya, aku sangat memercayai mouth-to-mouth marketing itu sangat powerful

Kemampuannya ‘menjual’ diriku kepada orang lain telah memosisikanku untuk mendekati kepada wanita-wanita hebat—yang walaupun akhirnya tidak berhasil, dan menjadikanku salah satu anggota organisasi super di Jogjakarta. Dia memaksaku keluar dari zona nyamanku selama ini dan harus mempelajari banyak hal kembali, bahkan untuk hal-hal yang di masa lalu tidak ku sukai. Mau tahu apakah itu? Aku harus menyukai Biologi, Fisika, Sejarah, dan mata pelajaran lainnya di organisasi super itu untuk membimbing adik-adik SMA di Jogjakarta. I’m not thinking I’m not capable of, but I never involve myself in this kind of competition. I don’t know the real realm of it and having no soul of it. I’m afraid to misguide you my younger brothers or sisters. But, I am willing to help you by doing my best. J

Sementara untuk memposisikanku untuk mendekati kepada wanita-wanita hebat…, Oh, I don’t want to discuss about it. Hahaha. Seolah dia melihat bahwa prinsipku bahwa jomblo-itu-life-style seperti sebuah penderitaan batin yang berkepanjangan. Paragraf ini murni bercanda. Hahaha.

Well, hari ini aku ada janji konsultasi dengan dosen pembimbing Pak Mulyadi. Beliau ialah seorang pembimbing yang perfeksionis. Pesannya, jangan pernah menulis sesuatu tanpa tahu artinya. Jangan pernah mengetik jika tidak dibaca kembali, berulang-ulang! Jangan pernah ngasal dalam segala hal dalam melakukan skripsi! He is the best. Kalau ada cerita seorang dosen pembimbing menanyakan progres tulisanmu melalui email dan mengucapkan selamat tahun baru beserta doanya melalusi sms berbahasa Inggris, beliaulah orangnya, dan itu dilakukan kepadaku. Hebatkan? Yah, kita berdua memang punya life style keren seperti itu dalam menjalani kehidupan. Lho? Hahaha, kidding readers. Tapi, email dan sms itu betul. Sombong ah…Hahaha.

Setelah di pagi hari membuka akun Facebook-ku dan berpikir apa rencana hari ini dan sedikit membersihkan kamar dan menyibukkan diri untuk kebersihan badan (mandi maksudnya J), aku tiba di parkiran kampus. It is full. Tapi aku mencoba masuk, dan masih ada beberapa space kosong.

Back to campus again. Seeing many new faces and you haven’t graduated yet. Again, this is life style. Lho? J

Aku mengetuk pintu dua kali dengan masing-masing tiga ketukan. Suara beliau mempersilakan membuka. Namun ketika ku buka pintu, beliau sedang melayani seorang tamu. So, aku menunggu dulu. Lesehan di depan ruangan beliau sambil memperhatikan orang-orang lewat  dan beberapa dosen yang tak ku kenal. Mungkin mereka berkata dalam hati kepadaku, “skripsi itu bukan hanya tentang membaca literature dan menulis Dude, tapi juga menunggu manis.”

Tidak berapa lama, tamu tersebut keluar, dan aku masuk. Beliau mempersilakanku duduk di kursi di depan beliau. Kami dipisahkan oleh meja besar beliau. And evaluation starts to work. Begitu banyak kesalahan penulisan yang aku lakukan. Dengarkan ini.

“Ini apa ini kata ‘dari’ dimasukkan di sini. Kalau saya katakan begini betul tidak?: Ini baju daripada saya. Saya teman daripada anda.”

Aku tertawa kecut kecil dan menjawab, “salah Pak.”

“Nah , itu dia!”

Kesalahan-kesalahan lain dengan tipe sama lain bergerombol menyusul.

Namun di tengah proses ini, tiba-tiba seorang tamu lain masuk--setelah tamu ini menelpon telpon kantor beliau beberapa menit lalu. Mereka sepertinya membicarakan mengenai pajak penghasilan yang akan dibayar oleh Pak Mulyadi. Namun setelah hampir selesai dalam bincang singkat mereka, Pak Mulyadi mengatakan kalimat bahwa beliau akan pensiun tahun depan kepada tamu ini.

What?! Jreeng…

Tamu tersebut pergi meninggalkan ruangan, aku mengkonfirmasi beliau.

“Bapak mau pensiun?”

“Iya, saya ingin menggunakan hak satu tahun cuti saya untuk menulis buku. Ketika mengajar saja saya menulis buku, apalagi nanti, saya mau fokus.”

Aku yang curious dan agak khawatir ini bertanya kembali.

“Tapi bagaimana jika ada mahasiswa Bapak yang belum lulus?”

“Oh tidak apa-apa. Saya akan masih tetap mengajar.”

“Oh begitu Pak.” Senyum lega dengan nafas keluar deras.

Meskipun cukup lama proses ini berlangsung, namun akhirnya bimbinganku hari ini berakhir juga. Selalu, kami tidak hanya mendiskusikan mengenai skripsiku, tetapi juga topik atau tema lain yang beliau ceritakan atau yang aku tanyakan. Dari mulai mengenai Ahmadiyah, politikus, buku-buku, dst. Itu juga sudah selesai. Aku menyisipkan pemberitahuan dan pertanyaan terakhir kepada beliau.

“Pak, saya ini punya rencana …(censored)…Jadi tujuannya untuk merubah mindset mereka, dan mungkin Bapak memiliki nasihat atau masukan kepada saya  tentang hal ini.”

Aku mengatakannya dengan lirih. Sebelum mengatakannya, aku berpikir cepat apakah akan mengatakannya atau tidak. Aku khawatir ini akan menjadi tombol yang salah yang aku tekan di siang ini. Beliau mungkin saja kecewa atau marah karena aku seolah menduakan tugas mengerjakan skripsi dengan hal lain. Tapi, decision has been made with calculated risk. Paling-paling beliau akan memarahiku.

Namun beliau menjawab.

“Fakhri itu mulia sekali. Mereka perlu untuk melihat perspektif lain.”

Suasana kemudian menjadi haru. Suara beliau terdengar berubah, serak seperti ketika kita meneteskan air mata, meskipun beliau tidak meneteskan air mata. Sepertinya beliau tersentuh hatinya. Keserakan suara dan bahasa wajah haru ini sebelumnya juga pernah aku lihat pada wajah Pak Mario Teguh ketika mendapati perkataan dari salah satu bapak muda yang menargetkan menghabiskan waktunya bersama teman-teman lain tujuh tahun di Jakarta untuk belajar apapun, dan setelahnya akan kembali ke Papua untuk membangun daerah. Aku mendengarnya dengan disusul oleh keheningan batin sesaat. Wow, this is great God. Aku melanjutkan.

“Ya, jadi dalam bulan-bulan akhir ini, dua hal ini yang akan saya lakukan Pak, skripsi dan rencana ini.”

“Nggak papa, bagus itu. Bagus”

Aku merubah nada ruangan dengan bertanya kembali.

“Pak, memangnya apa sih sebenarnya pendidikan itu?”

“Pendidikan ialah pengajaran ilmu untuk merubah kehidupan melalui penggunaannya. Di barat sana, pendidikan begitu penting dan mereka serius menggunakannya di kehidupan, makanya bagus.”

Aku mengganguk. Melanjutkan kalimat-kalimat untuk menutup kesempatan ini. Aku menjabat tangan beliau dengan style-ku, mengucapkan doa untuk kesehatan beliau, dan  mengucapkan terima kasih. Beliau berdiri untuk menyambut tamu berikutnya sembari seolah seperti mengantarkan ku untuk keluar. Aku meninggalkan ruangan beliau dan menutup pintu.

Setelah pintu kututup, aku melompat girang dan haru dengan  wajah menatap langit-langit lorong antar ruangan dosen ini. Semangatku terpompa. Pengertianku terperbaiki. Aku lebih siap untuk rencana itu. Hatiku mengatakan, “Tuhan rasa ini  belum pernah kurasakan sebelumnya.” Aku kembali melompat girang dan haru. Aku sangat bersyukur dengan kehidupan dan Pemiliknya.


Monday, January 31, 2011

My Self-Preaching Note on Facebook (21-30)





A million of good theory will have no impact at all 
in a heart of which the compassion and humility are absent within.


Melihat dari ketinggian ke bawah ialah lebih indah 
daripada melihat ke ketinggian dari bawah. 
That's the way you understand your surrounding wisely. 
Akan tetapi, 
ketinggian itu hanya di dapat dari pengertian-pengertian baik yang dimengerti...


There is a point of time you think that your contributions is not that significant..
It isn't that you are incompetent, 
but merely about the ideal ones. 
It must be the right person in the right time, in right position...


Once the decision made, life is changing then, just the way it is...


We, as a whole nation, do not go far enough 
because too much listening and considering the doubting words from others. 
We, one day, may fail. But the next day, 
we can learn mistakes and carry on the journey to the envisioned ones. 
It is just a matter of willingness to try...


Untuk segala kepelikan hidup di kemudian hari, 
ialah segala sesuatu yang awalnya mudah namun tidak dilakukan. 
Sementara itu, untuk segala kecemerlangan hidup di kemudian hari,
ialah segala sesuatu yang awalnya sulit namun terus dilakukan. 
Keduanya sama, 
hanya perihal keputusan yang sifatnya bijaksana dan ikhlas untuk melakukan. 
Untuk mendekatkan, seharusnya anda melakukan. 
(self-preaching note #21)


He who is the true leader will never talk about how heavy his burden 
as a leader is to his people--not even about his salary. 
Mungkin kita terlalu banyak berceloteh dalam keseharian, 
sehingga melupakan mana yang prinsipil dan kritis...
(self-preaching note #22)


Anything happens, even when you lose or fail,
if you do the virtue and the right, you win.
This is called "sportive living"; another term of integrity.
(self-preaching note #23)



One that more powerful than connection to open the "door"
is the combination of strong willingness, the courage to try, and the efforts 

to present your best attitudes.
To actualize your dreams, you are required to manifest your best attitudes.
(self-preaching note #24)



Those who get respect from the people younger than them
are those who are humble and understand others.
The older you are, the more you should understand
what really counts and matters for the sake of effectiveness and glory of life.
(self-preaching note #25)



Tidak berbeda dengan dalam kemenangan, momentum juga berada dalam kekalahan. 
Negara ini terhanyut dalam momentum kekalahan perilaku koruptif 
dari anak-anak bangsanya sendiri.
Satu-satunya cara untuk memecahkan momentum ini 

ialah aksi kejutan yang powerful dari pemilik autoritas tertinggi negara. 
Be bold and have the incredibly strong breakthrough actions
--the strong leadership example.


Rasa malu ini sudah tidak membuat malu lagi di antara kita sesama bangsa 
yang tinggal dalam lingkungan negatif yang membiasa dan melenakan ini.
Tapi, rasa malu kepada bangsa lain tidak akan pernah hilang...
Inilah pegangan terakhir...
(self-preaching note#26)



Yang ditunggu dari pemimpin itu ialah keputusan dan aksi strategik 
untuk peningkatan kualitas hidup orang-orang yang dipimpinnya.
Para ahli agama, orang yang lebih tua, dan orang bijaksana ada di samping pemimpin 

untuk memberikan petuah, nilai, dan kebijaksanaan 
untuk terjaminnya kualitas kepemimpinan pemimpin. 
Pemimpin lah yang mendekat kepada mereka.
Karena, keanggunan pemimpin itu terpancar hanya jika dirinya merendahkan hati.
Seharusnya, pemimpin lebih banyak mendengar...

(self-preaching note#27)


Victory loves preparation. #Mechanic


To pursue your dreams and ideals, you need to master an art: 
the art how to make sure your self of when to discuss (instead of bargaining) 
your dreams and vision to other people and when to think deeply alone. 
Indeed, it is that "holy".
(self-preaching note #28)


We potentially become happy when 
we have excitement at specific area, domain, or thing in life. 
You find it may be in your job, service, relationship, and so forth. 
Excitement is powerfully potent to change and to transform you; 
make sure it is for the sake of your greatness. 
(self-preaching note #29).


Everytime you feel both inferior and negative,
go to work and study hard of your core competence.
Everyone has it...
Come into your own!!
(self-preaching note #30)

My Self-Preaching Note on Facebook (11-20)







This life is a universal campus for us 
to garner unlimited knowledges, insights, and wisdoms. 
The opportunity is widely open, every day...
The hardest thing to keep is the enthusiasm,
the awareness that reminds us
that we have to always move, learn, and share...
(self-preaching note #11)



You are what matters to you.
(self-preaching note #12)


I have been going that far, but I haven't been going far enough.
(self-preaching note #13)



For that high, it must be that much and high enough too.
Higher obsession requires higher devotion and emotion.
That's an undeniable law...
(self-preaching note #14)



Remember this preach?: "Despite you win in a race of rats, you are still a rat!"
You are what and who surrounds you.
This is merely about decision making and determination.
(self-preaching note #15)



The unwillingness to move out of your comfort zone
is the reflection of your unbelief of
that you can be a new one, yet better of course.
Indeed...
the repetition and the routine really shape us,
and,
make us believe that this is us, the best us, and nothing else important..
But, why are you envying other's superiority?
Please rethink and redefine yourself...
You deserve for that too.
(self-preaching note #16)



You don't know many things, but you can learn everything, right?
(self-preaching note #17)



Setiap pribadi memiliki potensi yang sama untuk sampai ke sana,
hanya spesifikasinya yang berbeda.
Tugas anda sang pemimpin
ialah untuk memperlihatkan dan mendefinisikan kenyataan,
kemudian mengarahkan dan memungkinkan pribadi-pribadi
yang anda pimpin untuk mampu mencapai potensi mereka.
Siapapun anda bagi mereka, anda hanya melakukannya.
Itulah maksud kepemimpinan tanpa titel itu...
(self-preaching note #18)



At the end of your journey,
it is the failures that makes you smile and graceful...
(self-preaching note #19)



Please show me the most successful person ever,
and I will show a person who has failures above all people...
If you have known that it is the failure that makes miracle,
and you keep carrying on,
why you are still sad?
(self-preaching note #20)


Wednesday, January 26, 2011

Doing the Interview at Metro TV




One that more powerful than connection to open the "door" is the combination of strong willingness, the courage to try, and the effort to present your best attitudes.



“Kepada siapa ya Pak saya tujukan proposalnya, ke bagian accounting?”
“Sebaiknya ke bagian perencanaan.”
“Oh,ada ya Pak bagian perencanaan.”
“Lho, saya kira kamu punya koneksi di sana?”
“Tidak ada Pak, tapi saya akan coba.”
“Bagus klo begitu.”



Well, here I am. Di tengah pagi buta yang sebentar lagi subuh untuk waktu Jakarta, bagian selatan tepatnya. Setelah mencoba tidur kembali satu jam lebih terakhir ini, masih tidak dapat tertidur. Neither in Jogja nor in Jakarta, insomnia comes. No exception.

Sebenarnya aku tadi telah tertidur di kasur yang disediakan oleh pemilik kos di mana Furqon tinggal di Jakarta. Namun, setelah dia pulang kerja pukul 2 pagi dan aku membukakan pintu kosnya yang kemudian kami lanjutkan dengan berbincang-bincang, aku tak dapat tidur kembali. Sekian puluh menit mencoba memjamkan mata, tetap tidak bisa. I just decided to write thereafter.

Jam 2 pagi baru pulang kerja yang kemudian akan pergi bekerja kembali 4 jam kemudian bukan ide bagus untuk masa depan. This is what Furqon do at least this last one month. It might be financially promising, but not such a perfect one if you plan to start your own family, right? Having wife and children without having togetherness in plenty time sama dengan mimpi dan kenyataan buruk kehidupan. Aku dan Furqon setuju untuk hal ini. Benar-benar tidak mudah untuk bekerja sebagai auditor dengan siklus harian pekerjaan yang tidak ramah dengan kedamaian ini. Mungkin bagi sebagian orang, kedamaian itu ialah ketika telah bekerja dalam waktu yang sangat berlebihan dalam sehari. But, once again, neither Furqon nor I agree that. But, why not as you are a single person? Work hard, right? J

Aku berada di Jakarta untuk memenuhi hasrat hatiku untuk melakukan penelitian skripsi di Metro TV. I just really wanted it deeply, beside having thesis theme newly and differently. I have been so excited. I just adore this company a lot. Berbeda!

This research is the qualitative one. Why not just a quantitative one? I don’t know. I just think the quantitative research is too common and uninteresting for me. Nothing different. I think that easy compared to the qualitative one. It is not easy, but is meaningful and worthy. I have more spaces to write, seems a bit free.

Kemarin, aku telah melakukan wawancara yang sudah kutunggu tepat sebulan ketika proposal kumasukkan. Dan beliau adalah marketing manager Metro TV: Pak Agus, yang bersedia untuk kuwawancarai. It was an enjoyable situation. Wawancara di kantin perusahaan dengan card pengenal yang bertuliskan “visitor” menjepit dasi yang kukenakan. Fun, I come through the room where I just see it on the TV; sitting among the broadcasting people in a uniquely new place.

Mewawancara? Ternyata sebuah pengalaman yang mengesankan. I did it. I felt like Desi Anwar, interviewing Dalai Lama or Richard Branson. It is interesting to be interested in people. Dengan mengenakan  things yang jarang sekali kukenakan seperti tidak hanya dasi, tapi juga celana kain dan sepatu pantofel seperti yang direkomendasikan oleh buku teks komunikasi busines dan yang di-warn oleh my honorable smart teacher, Mr. Imam. Tapi, kakiku lecet meskipun mengenakan kaos kaki. Tambah fun! Let me laugh first….Ha. Everything as I could do had been prepared well, but not for the blister. Laugh again. Just feel it.

Setelah lebih kurang 90 menit, wawancara selesai. As his secretary  (Ibu Yani) said, usually it needed twice or 3 times to do the interview for thesis writing, but it didn’t. Bersyukur beliau tidak sesibuk itu, atau telah bersedia dengan baik hati mengalokasikan waktu yang 90 menit itu bukan hal biasa dalam dunia busines untuk aktifitas yang bagi mereka tidak menilai tambah, tapi means a lot to me. Thanks God. Thanks Sir.

Hari ini, pukul 3 sore, aku hanya harus sekali lagi ke Metro TV untuk mengambil file company profile dan surat keterangan skripsi. Then go back to Jogja at 9 pm. Then, I can continue my writing at speed next rest days before planned graduation day. Hopefully. Untuk segera menjadi sarjana dan memasuki dunia baru yang tentunya berbeda.



Every time after I talk or laugh too much, I feel too many things have to be refined and revised. Life is all about learning…J

Monday, January 3, 2011

Motivasi Dahsyat








Ialah kekurangan, kemiskinan, kegagalan, dan kegetiran hidup sebagai pendorong dahsyat itu. Anne Ahira



Lampu baru saja menyala…

Sore ini, seperti biasa, ada jadwal untuk bermain futsal anak kos dengan stim lawan. Kali ini dengan lawan yang sama dengan minggu lalu, jam yang sama, dan lapangan yang sama. Namun, ketika tiba di lapangan, setelah melepas mantel hujan dikarenakan hujan lebat di Yogyakarta hari ini, keadaan lapangan tidak seperti biasanya. Sebuah anakronisma terjadi. Lapangan futsal indoor yang seharusnya terlindung dari hujan, 40% bagiannya tergenang air.

Hampir 45 menit memaksakan untuk menggunakan lapangan. Pemanasan, kemudian dribbling, passing, dan shooting, juga tidak ketinggalan heading, pada akhirnya aku  juga keluar lapangan menyusul teman-teman yang sudah lebih dulu keluar. Tim lawan yang datang terlambat, tak satupun dari mereka yang memasuki lapangan.

Keringat menetes kecil sambil menyaksikan tim lain yang sedang latihan di lapangan sebelah. Lapangan ini dalam kondisi seperti biasa, tidak ada air hujan yang menggenang. Tim yang sedang latihan ialah tim sama yang ku lihat pada minggu lalu. Sepertinya, tim ini rutin di Senin sore untuk latihan di lapangan ini. Seorang bapak yang berumur lebih kurang 50 tahun melatih tim ini. By the way, sangat jarang para mahasiswa yang berada di lapangan menyia-nyiakan untuk tidak bermain secepatnya. Namun mereka sungguh berniat untuk latihan. Passing, shooting, dribbling, dan lain-lain. They are not that young anymore, buat apa latihan begitu seriusnya, toh sejauh-jauhnya pencapaian di umur seperti ini paling-paling hanya menjuarai turnamen futsal se-propinsi. Toh, skill mereka juga tidak hebat-hebat amat.

Setelah mengajukan permohonan beberapa saat yang lalu, akhirnya kami bermain ( bertanding) dengan mereka, tim yang sedari tadi berlatih ini. Sang pelatih mendekati kami untuk mengajak berbincang sebentar, mengarahkan bagaimana permainan ini seharusnya dilakukan: compliance to the rule. Memang seharusnya seperti itu Pak. Saya setuju. Kami setuju.

Permainan pun dimulai. Latihan yang rutin mereka lakukan sangat membantu mereka untuk membingungkan kami. Kami yang unorganized dalam bermain harus menerima perlakuan permainan mereka yang lebih unggul. Aku pribadi tidak begitu merasa mereka seunggul itu, karena pengalaman bermain dengan dua atau tiga tim yang sebelumnnya di waktu lampau, jauh membuat kami kocar-kacir dan pontang-panting dibandingkan saat ini. Anyway, kami tetap kalah.

Permainan hanya berlangsung lima belas menit, kemudian usai. Untuk sepuluh orang, kami hanya bermain masing-masing 7 menit. Sangat singkat. Jangankan emosi, keringat pun enggan untuk keluar. Sang pelatih mereka mendekati kami untuk berbincang-bincang kembali. Beliau memperkenalkan diri sebagai pemain sepak bola di masa lampau. Salah satu dari pemain PSSI yang pernah TC di Brazil di masa lampau. Beliau banyak bercerita mengenai sepak bola masa lampau. Juga tentang Beni Dolo, Alfred Riedl, Okto, dan seterusnya. Aku mendengarkan. Sesekali bertanya. Mendengarkan kembali.

Setelah sang pelatih meninggalkan kami, tidak beberapa lama kami pun melangkahkan kaki pulang. Lagi, hujan yang berhenti sesaat, kembali lebat. Oh Tuhan, malam ini sempurna kegagalan dan kekalahan yang menyapa. Gagal untuk bermain karena lapangan tergenang hujan. Kalah dalam bermain dalam waktu singkat 15 menit tanpa gol yang kami sarangkan. Kemudian pulang dengan harus menggunakan mantel hujan kembali, mendapati kos dan seluruh tetangga dalam keadaan gelap gulita: listrik mati. Sistem wifi yang belum beroperasi yang telah beberapa minggu ini juga membuat dalam kekalahan dan kegagalan ini. Oh, malam ini sempurna untuk menggencet perasaan. Kegagalan dan kekalahan, lagi…

Namun, salah satu sisi hatiku berbicara: tidakkah indah pelajaran yang diberikan oleh kegagalan dan kekalahan? (1) dia mengingatkan bahwa engkau harus lebih banyak berlatih, dan (2) apakah ini benar-benar sesuatu yang menjadi fokus mu? Cling!!

Aku tidak mau berleha-leha duduk di ruang tamu kos di kegelapan ini. Aku putuskan untuk membeli lilin dan menggunakannya untuk mandi secepatnya, kemudian mengerjakan kewajiban harian, kemudian ku ambil buku favoritku untuk membaca diterangi oleh lilin. Oh indahnya!! Kamar kos terasa romantik dengan penerangan hanya lilin. Membaca nasihat dari sang penulis terasa syahdu sekali. Sepertinya nanti asyik juga untuk mematikan lampu kemudian menyalakan lilin untuk membaca. Meskipun penglihatan kurang terang, namun penglihatan dan pikiran lebih fokus ke konten buku. Indah sekali. Ini yang disebut dengan keterbatasan itu indah bagi hati yang berkeinginan namun tegar dan tangguh. Aku kembali merasakan bahwa motivasi yang paling hebat itu ialah kekurangan dan keterbatasan. Karena, seorang anak yang miskin akan lebih termotivasi daripada seorang anak dari keluarga yang kaya bukan? Pernyataan bahwa ini kemiskinan, kekurangan, kegagalan, dan kegetiran hidup sebagai pendorong dahsyat untuk mencapai impian ialah ketika aku membaca blognya Anne Ahira. Dan ketika itu aku berkata: “Iya juga ya!! Fabulous!!”

Sementara mudahnya mengeluhkan berbagai kekurangan dan kegetiran hidup, namun ternyata itulah pendorong yang dahsyat itu...Apa jadinya jikalau semuanya mudah? Lihatlah, hidup itu indah bukan. Firman Tuhan yang mengatakan bisa jadi ini buruk menurutmu padahal sebenarnya ia baik bagimu, benar-benar teryakini. Kita memang manusia, yang tidak semengerti itu dalam mengerti cara Tuhan berkomunikasi untuk menjadikan kita besar.

Lampu kemudian menyala. Aku mengaktifkan ‘mesin ketik elektronik’ ini untuk menulis tulisan ini. Pelajaran indah di awal tahun untuk lebih meresapi, untuk belajar lebih bersyukur, positif, berprasangka baik, menerima kekalahan dan kegagalan, dan berfokus dan berkonsentrasi pada kekuatan dalam mencapai impian. I wish this is going to be super, as I hate the mediocrity…

Life is beautiful. It is all about learning…

Thursday, December 23, 2010

Hari Untuk Sang Ibu



"Kau tak kan pernah tahu nak sampai kau telah mencobanya..." Mama.



Ibu,
Pemberian-Nya yang teramat mulia itu
Penuh cinta dan kasih sayang…
Yang melingkupimu
Menggenapimu
Dan membuatmu meyakini,
Bahwa hidup itu indah dan menyenangkan


Ibu,
Pelita kebesaran kehidupan itu
Mengerti dan memberi…
Yang membesarkan hatimu
Mensejajarkanmu
Dan memberikan nasihat dan pengertian,
Bahwa engkau layak berdiri


Ibu,
Sang kokoh dalam kelembutan itu
Penasihat dan pembentuk kebaikanmu…
Untukmu berlaku benar
Santun dan halus
Dan mengingatkan,
Bahwa engkau adalah pemimpin kehidupan




Untukmu Ibu, kasih hatimu seluas samudera
Untukmu Ibu, teduh wajahmu seperti senyuman senja
Untukmu Ibu, kekuatan cintamu laksana kerasnya baja
Untukmu Ibu, kelembutanmu itu melebihi sutera dan permata



Engkau tak ternilai Ibu
Engkaulah kemegahan dan kemuliaan itu

Kami anak Ibu, Ibu
Kami adalah bentuk dari ketulusan ibu

Ibu, Selamat Hari Ibu…


Posted in ibukota, bersama ibu, di hari ibu...



Friday, December 17, 2010

Tentang Hati



Anything happens, be kind and be right, always…



Beruntung sekali bagi mereka yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab perbaikan dan pemenuhan diri sendiri ke arah yang lebih baik. Pikiran dan hati mereka diisi oleh pengertian baik. Statemen yang menyatakan “you are the owner or the boss of yourself” begitu berlaku dalam benak mereka. Hati mereka telah disentuh kelembutan baik yang bersumber dari lingkungan, khususnya orang tua, dan terkhusus lagi sang Ibu.

A mother not only gives you the direction, but also gives the power to get there, doesn’t she? Beliau tidak hanya membuat kita mengerti, namun juga memberi bahan bakar untuk kita menuju ke sana. Juga, tak terlupa doa yang sungguh teramat indah itu, yang beliau panjatkan dalam interaksi syahdu dan haru dengan Sang Pemilik kehidupan.

Sehingga, jika terasa olehmu sesuatu yang membuatmu merasa lebih dibandingkan mereka, dan seolah dibenarkan untuk menjadi sombong, bersyukurlah karena telah memiliki kekasih Tuhan itu.

Karena, bagi sebagian mereka yang mungkin engkau merasa sangat jauh di bawahmu, dan tidak lain hanya para penelantar dan penyia-nyia menurutmu, cobalah mengerti dan berpikir lebih besar dan bijaksana, mungkin saja mereka tidak seberuntung kita, memiliki Ibu dengan apa yang dilakukannya seiring hela nafas tak hentinya itu, untuk menjadikanmu seindah-indahnya seseorang di masa depan. Ibu, ialah setinggi-tingginya anugerah itu.

Manusia cenderung kepada kebaikan dan pada akhirnya akan menuju ke sana. Karena, manusia itu dirajai oleh hati yang potensial dengan kekhususannya untuk kebaikan dan kebenaran. Hati itu dari Tuhan, Namun, terkadang dan seringnya keaktifannya sangat bergantung dengan lingkungan.  This is the milieu that determines ialah sebuah hukum kehidupan yang sangat sulit untuk disangkal kebenaranya secara empiris. Pun bagi seseorang yang telah mampu keluar dan menjauh dari kubangan lingkungan kenegatifan yang luas dan mencengkeram itu, tetap masih memiliki lingkungan yang positif, walaupun mungkin tidak luas, namun daya dobraknya luar biasa. Lingkungan positif tersebut secara emosional menyentuh dan menginspirasi dirinya untuk memutuskan menjadi lebih baik. Lingkungan positif itu menyeka dengan lembut penatnya kekeliruan diri. Ini tentang hati, tentang kebaikan, dan tentang kebenaran.

Mereka yang muda, mereka yang mencari. Mereka yang sibuk, mereka yang ke sana ke mari, mereka yang pergi. Namun, mereka juga yang bingung dan tersasar sendiri. Mereka juga yang kadang sakit hati. dan yang membela diri.

Namun, memang itu bukan hukumnya?

Yah, bukankah mereka juga yang akhirnya mengerti dan memahami. Mereka juga yang akan bijaksana nantinya. Kutipan dari Kahlil Gibran: “aku lebih memilih menjadi seorang pemimpi di antara mereka yang rendah hati, dengan visi yang harus direalisasikan, dibandingkan raja di antara mereka yang tanpa mimpi dan hasrat” ialah sebuah nasihat yang mengangguk dan menyetujui kepada mereka yang muda, yang memiliki cita-cita, hasrat, impian, dan visi di masa depan. So, why not then? What else we can do right? Welcome into the journey…

Kesibukan pencarian itu membawa konsekuensi tentunya. Konsekuensi tidak lain ialah sesuatu yang 100% mengikuti setelah sesuatu dilakukan atau diputuskan; tidak seperti risiko yang hanya 50% itu kemungkinan terjadinya. Itu kenapa mereka yang muda-yang mencari juga sering bingung dan kadang tersasar sendiri ialah tidak lain lain salah satu hukum konsekuensi yang berlaku dalam kehidupan.

Kebingungan dan tersasar itu merupakan konsekuensi, hanya masalah waktunya yang berbeda antar tiap pribadi. Mereka ialah para pengumpul impian yang diberitahukan oleh hidup untuk mengumpulkan hal lain dengan pemberian kebingungan dan ketersasaran itu sebelum mencapai impian-impian mereka. Hidup hanya ingin mengatakan bahwa ini ialah proses belajar. Karena pembelajaran dan pertumbuhan itu ialah salah satu komponen kesuksesan--nomor dua bahkan--menurut definisi seorang tokoh hebat tentang kepemimpinan dari Amerika itu.

Pembelajaran dan pertumbuhan ialah definisi kata sukses setelah ‘mengetahui tujuan hidup’ sebagai definisi sebelumnya. Bahkan, saking pentingya, pembelajaran dan pertumbuhan menjadi salah satu dari empat perspektif yang dipetuahkan oleh Balanced Scorecard untuk keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang, dalam lingkungan busines yang turbulen dan dinamis seperti sekarang. Omong-omong, kata ‘busines’ ialah salah satu penggunaan dari Ejaan Suwardjono, untuk meninggalkan penggunaan kata ‘bisnis’ dalam bahasa Indonesia. Cantik sekali!

So, bagaimana kemudian setelah kebingungan itu datang, setelah tersasar pada keadaan yang belum dimengerti sebelumnya bagi mereka yang muda?

Tuhan memerintahkan untuk membaca ialah untuk terperbaikinya pengertian, di samping mendengarkan mereka yang lebih “tua” yang lebih mengerti dan lebih ahli, yang membuat Sang Nabi untuk menasihatkan bahwa pekerjaan harus diserahkan kepada ahlinya, bukan?

Hukum Kepantasan. Ya itulah maksudnya. Omong-omong lagi, kata ‘tua’ sengaja diberikan tanda petik yang mengartikan ‘kepantasan’, karena ternyata dunia dengan perilakunya semakin memaksa untuk memperluas makna kata itu. Kalau aku  tidak keliru, dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas dua SLTP, ini disebut amelioratif, iya?

Kembali ke hati yang keefektifan kinerjanya hanya sebesar keefektifan kinerja tubuh untuk peduli kepadanya dalam menemukan sifat bawaannya. Hati hanya akan aktif secara efektif jika tia ditundukkan, direndahkan, dan dibuka dengan pengertian dan pergaulan baik dengan membaca dari sumber baik dengan niat baik, dan meminta nasihat dari orang yang baik. Pengertian dari buku dan nasihat itulah yang menjadikan pikiran yang sebagai wakil dari hati itu bekerjanya logis; selaras dengan sifat bawaan hati, yaitu untuk baik dan benar.

Bukankah hati selalu memanggil dengan suaranya yang meskipun kadang jelas, kadang samar itu?

Tuhan, dalam kesadaran diri yang terlalu sering membelakangi Engkau dan tidak sepenuhnya taat ini, terima kasih Engkau telah memberikan pengertian dan nasihat baik ini. Tuhan, nikmatmu yang mana lagikah yang aku dustakan. Tuhan, logiskanlah pikiran dan yakinkanlah hati ini bahwa apapun yang terjadi, menjadi tetap baik dan benar itulah yang lebih penting.

Karena,  kedamaian dan kepuasan hati itu hanya merupakan akibat dari pikiran dan hati yang baik. Pengertian kata ‘logis’ sebagai  proxy dari baik dan benar ialah salah satu kecerdasan yang sesungguhnya!


Anda hanya pantas mendapatkan apa yang telah anda lakukan, give back that envelope until you have worked!


P.S.:
"Tia" ialah pronomina untuk nomina dalam Ejaan Suwardjono. Dalam bahasa Inggris, kita mengenalnya dengan kata "it". Sedangkan untuk bentuk jamaknya ialah "meretia".