Saturday, January 24, 2009

ABSTRACT

BACKGROUND:
Hospital pharmacy installation is a part or a facility in the hospital, a place where the all of pharmaceutical work that needed in the hospital is exercised. Beside that, pharmaceutical services in the hospital is a part that can not be separated from the intact hospital service and has the orientation toward the service to the patient and delivering of qualified drugs. Usage process of drugs is a complicated system which is consist of several steps that should be done to attain the optimal therapy, for instance inappropriate drugs usage will cause the preceding activities that has been done well to be useless. Work procedure overwhelms all of activities, begin with the receiving the drug prescription till the delivering the drugs to nurse in ward or the patient’s family. Hence, all of the officials at the both Rawat Inap and Rawat Jalan section in the RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta have to know and implement the work procedures that had been established by the hospital management. This research aimed to knowing the correlation between the officials’ knowledge about the work procedure with the work performance at both Rawat Inap and Rawat Jalan section on pharmacy installation in RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

METHOD:
The type of this research was quantitative descriptive that executed with the cross sectional approach. The involved variabel in this research were the level of the officials’ knowledge about work procedures as the independent variabel and the official’s work performance as the dependent variabel. This research was exercised on January 2009, which the magnitude of the sample was 28 officials. The data collecting used the quizionaire. The result of the research was analyzed in univariat and bivariat manner with the Kendall Tau test.

RESULT:
The result of the analysis showed that coeficient corelation of Kendal Tau was 0.335 with level of significance was 0.015 (p<0.05) which showed that higher the level of officials’ knowledge toward the work procedure, higher the official’s work performance.

CONCLUSION:
There was significant positive correlation between the level of officials’ knowledge toward work procedure with the officials’ work performance at both Rawat Inap and Rawat Jalan section on pharmacy installation in the RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

KEYWORDS:
Hospital pharmaceutical installation, the level of knowledge, work procedure, and work performance.

Thursday, January 22, 2009

Edisi Pulang Kampung #2

Dalam keadaan sulit, terdesak, genting, rumit, biasanya manusia akan spontaneously mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya dia yakini tidak mampu untuk melakukannya. Tanya hal itu pada psychologists, you will find the theories abundantly. Tanyakan hal itu pada seorang ibu yang baru saja menyelamatkan anaknya dari dalam rumah yang sedang terbakar, you will find the real experience. You will find an epic theory which is there are so much loves inside.Dunia maya mampu menjadi medium yang handal dalam membuat the users menjadi narsis di luar batas yang tidak dia kira sebelumnya. Berpuluh foto yang di-upload ( I didn’t think that I could), saying or typing the rhetoric words, or pretending to be another person.


DUnia maya juga mampu menjadi medium dalam hal ini sebagai mak comblang pertemanan antar banyak users. Juga, menjadi mak comblang dalam arti yang sering dipakai people dalam hal pencarian, untuk menemukan jawaban, who thy soulmate is.
Kembali peran dia sebagai sebagai situs pertemanan. Masuk ke dalam duniaku. Dalam keadaan terjepit, kondisi warnet ramai bak SPBU di tengah hari, atau Capitol Hill pada waktu pelantikan Obama kemarin (hyperbolic). Aku mencoba menuliskan hal yang lucu bagiku. Hal yang membuat aku tertawa sendiri. Baca dan dengarkan!!
Pulang kampung dalam keadaan tugas kuliah yang belum rampung. Kemudian ada keperluan yang diperintahkan oleh mom, so I have to access the internet. Checking the friendster, seeing my account. Answering the testimonials. Dalam keadaan bingung,while waiting the loading, throwing my eyes to outside, to the door, trying for getting the freshness. Then I saw the girl who I met on the internet, on the friendster. Hey tu orangnya. We could not say any thing. Just seeing each others. Speechless. 
Lihat itu manusia, dan itu situs pertemanan. Situs pertemanan benar-benar mampu membuat users narsis dan bertindak di luar batas yang mampu dia lakukan pada dunia nyata. Dan tahukah kamu, lady itu sudah ada duduk dan mengakses computer di sebelahku. Hello we just gave the sweet smiles 


Edisi Liburan-Pulkam #1

12.45 waktu Indonesia bagian tengah. Hujan mulai turun lebat, berhenti, kemudian lebat lagi. Kencang deru hujan terhadap atap. Pasti biji-biji air hujan saat ini besar. Kondisi akomodatif untuk tidur. Sebelah timur merupakan perumahan warga yang bertetangga dengan pohon-pohon, lebih tepatnya hutan yang ditumbuhi perumahan warga. Di sebelah timur, merupakan hutan mangrove yang telah membuka diri mereka untuk dikapling-kapling sebagai lahan perumahan warga, atau untuk menjadi empang-empang. Sementara aku mencoba ikut meramaikan riuhnya pesta air hujan di luar dengan bunyi keyboard yang diketik dan dengan backsound album religi Ungu.

"Alhamdulillah ku syukuri semua

Terima kasihku ya Allah atas Indahnya hidup

Alhamdulillah ku syukuri semua

Terima kasihku ya Rabbi atas rahmat dalam hidupku"

Senang rasanya bisa kembali di suatu tempat yang dimana disebut rumah. Bisa kembali ke kampung halaman. Lebih kurang seratus hari yang lalu, aku juga kembali. Though, perjalanan darat dari Banjarmasin ke kabupaten cukup membuat adrenalin bergerak menanjak dalam kurva pergerakannya. Bukan karena menakutkan, menyedihkan, atau begitu gembira, akan tetapi, ada satu hal lagi yang menyebabkan adrenalin itu menanjak. Marah? Sedikit berlebihan jika marah. Mungkin lebih tepatnya, emosi. Dari dulu sampai sekarang infrastruktur darat tetap pada kondisi stag. Jalan di sini diperbaiki, jalan di sana berkerikil, berlobak, bahkan menjadi kolam. We have to be shaken inside. Bayangkan, metaforakan, seperti biji-biji jagung yang sedang dalam proses menjadi pop corn. Terpelanting, terpental, dan limbung. Walaupun, tidak sampai menyebabkan tertukarnya nomor kursi antar penumpang. Itu berlebihan…

Islam menyuruh nabi untuk berhijrah. Jauh jika menyamakan, tapi, simpelnya, mari berbicara dalam konteks perpindahan tubuh fisik secara geografis. Pepatah menganjurkan, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Tidak sejauh sampai ke Cina bagiku saat ini. Based on self interpretation and experiences, bagitu banyak hikmah dari dua perintah itu. Saat-saat ketika merindukan kampung halaman ketika berada di kampung lain, begitu indahnya, yang kemudian tidak lama tercium bau asap terbakarnya hati karena kerinduan itu. Saat-saat dalam perjalanan pulang, melemparkan pandangan di sepanjang jalan, missing, contemplating, thinking about this life, about this role, about love (not about bojo lho), and about the thankfulness to the God. Mungkin inilah sedikit hikmah yang terbaca dari seabrek hikmah yang tidak dan belum terbaca dari dua perintah itu.

Tunduk pada hukum dunia, tidak ada sesuatu yang sempurna. Tidak ada sesuatu yang tetap dalam kehidupan, kecuali ketidaktetapan itu sendiri. As an emerging regency, pulauku terus tumbuh. Pulauku terlihat berbenah. To be exist lah pokoknya!! Sebuah hal yang alami dalam hidup, untuk tumbuh dan berkembang, sampai tiba saat masa hidup berakhir. How ever, seperti banyak kasus lain di Indonesia, pertumbuhan tanpa disertai dengan blue print yang cukup. Eksekusi tanpa planning yang matang. Visi yang kurang bersifat long term. Pulaku semakin semrawut. Jalan semakin sempit. Sampah semakin banyak di tempat yang tidak seharusnya. Sesuatu hijau yang bernama pohon semakin berkurang, digantikan dengan bibit-bibit rumah yang dengan subur tumbuh. Oksigen digantikan dengan bala polutan dan karbondioksida dalam jumlah masif. 

Bagaimanakah dengan nasibmu untuk waktu yang akan datang? Aku tidak akan menunggu untuk jangka waktu misal lima atau sepuluh tahun. Aku hanya akan kembali melihat pada kesempatan sekembalinyaku lagi nanti. Yah sekembalinya aku lagi nanti. 


Friday, December 26, 2008

HARI IBU


Tanggal 22 Desember 2008…Di dalam bus, dalam perjalanan Ngawi-Jogja…


“Letih terlihat di wajah yang tua itu
Tertidur pulas dalam alunan gelap malam
Di balik senyummu, teduhkanku…”



Aku berjalan ke kursi paling belakang. Untuk menemukan posisi wenak jawabannya ialah pada kursi paling belakang, dengan catatan: sekitarku aman!


Sementara itu, Mp3 player masih dengan indah bertengger di kedua telinga.


“Terbayang potret kala engkau masih muda
Ajarkan sebuah kata cinta dalam hidup
Kekuatan kasihmu nyata pulihkan jiwaku
yang kadang goyah…”



“Brakkk” kujatuhkan badan dikursi.


Hmm…Pikiran sudah stabil sekarang. Waktu luang minggu tenang ku alokasikan satu hari untuk menyambangi adikku di salah satu ponpes yang terletak di kabupaten Ngawi Jawa Timur. Seolah berkilo-kilo beban studi jatuh berceceran di sepanjang jalan. Rinduku terlepas kepada adikku. Bagaikan temali kapal nelayan yang terlepas dari ikatannya di salah satu tiang dermaga. Welcome to the calm ocean…


Aku memejamkan mata. AC di atas kepalaku terus meniupiku dengan lembut. Tenang rasanya. Di sebelahku duduk satu keluarga, sepasang suami-istri dengan dua anaknya yang masih kecil.


Masih kupejamkan mata. Lagu ini mengingatkanku kepada seseorang yang memberiku kehidupan. Maksudku bukan Tuhan, tapi seseorang, yaitu ibu. Siang tadi aku mengirimkan sms selamat hari ibu kepadanya. Ketika kita mengucapkan kata “ibu” di situ ketenangan hadir di kalbu, itu yang dikatakan Pak Mario Teguh…Benar sekali ya Pak…


Tiba-tiba indera penciumanku merasakan hal yang aneh. Aku mencium bau tidak sedap. Tidak mungkin bus ber-AC dengan jendela tertutup bisa diserang bau yang tidak sedap dari luar. Apakah hanya perasaanku saja? Masih kupejamkan mata. Semakin lama bau itu tidak menghilang. Aku memutuskan membuka mata. Ku melihat ke depan, keadaan normal. Aku melihat ke sebelah kiriku, ke luar, tidak ada sesuatu yang bisa menyebabkan bau itu, apalagi untuk masuk ke dalam bus. Aku melihat ke kanan. Ouh…muntah seorang anak kecil sudah meluber ke paha sang ayah.


Seolah anak ini tahu jika hari ini merupakan hari ibu. Seolah sengaja tidak ingin membuat ibunya repot. Sehingga, seolah sengaja muntahnya itu “dititipkan” kepada ayahnya. Walhasil, sang ayah repot harus membersihkan “”titipan” muntah anaknya.


Di sinilah peran ibu. Segala urusan anak jadi urusan ibu, tapi belum tentu urusan ibu diurus oleh anak, bahkan walau hanya untuk menjadi pikiran sang anak. Maka, “tidak usah kiranya kita berbagi masalah kepada Ibu kita, karena walaupun masalah itu telah usai, sang Ibu pasti masih memikirkan masalah kita” itu kata Pak Mario juga.
Ibulah yang membersihkan sang anak. Sang ayah juga mendapat perlakuan yang sama dari istrinya.


Selamat hari ibu untuk ibuku, dan seluruh ibu di muka bumi…


Reff:

“Pesonamu…
Masih jelas kurasa hingga kini
Menemani, hingga ku dewasa…
Derai air mata dan pengorbananmu
Takkan tergantikan
Terima kasih ibu…”


Theme song : Pesona Potretmu – Ada Band (album Harmonious)…

Sunday, December 21, 2008

AYAT-AYAT CINTA #2

Jika Anda terkejut membaca judul saya, itu artinya saya berhasil membuat judul yang eye catching, yang bertujuan untuk memaksa Anda membaca keseluruhan posting saya kali ini. Sedikit jahil mungkin…

“Teman-teman, saya mohon do’a untuk menulis novel Ayat-ayat Cinta 2. Dimana Fahri nantinya akan hidup di eropa-tidak di Mesir lagi. Jika selama ini eropa seolah-olah sesuatu yang membuat orang Indonesia kagum, maka tidak dengan Fahri. Bahkan mungkin, Fahri akan mengajar di salah satu perguruan tinggi di sana, mengajar para experts di sana. Indonesia selalu kalah dengan negara-negara eropa secara faktual, nah, sekali-kali, di fiksi, Indonesia harus menang…hehe…”

Anda pasti dengan mudah mengetahui siapa yang mengeluarkan kata-kata itu. Yang menjadi pertanyaan, benarkah yang saya tuliskan itu? Secara inti itu benar, tetapi sedikit mustahil bagi saya untuk mengingat ketepatan kata-kata yang diucapkan oleh Kang Abik, dan menuliskannya kembali.

Diskusi publik tertanggal 20 Desember 2008 yang merupakan salah satu dari serangkaian acara Festival Budaya Islam yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Budaya menghadirkan pembicara: Kang Abik, Deddy Mizwar, dan M. Sulhan (dosen Jurusan Ilmu Komunikasi UGM). Tema yang diangkat ialah “Nggak Cuma Nonton : Mencari Inspirasi di Balik Film”.

  • “Film itu “sihir”, mempunyai daya pukau luar biasa. Dia merupakan komoditi mengandung budaya. Film membentuk mindset kita.”
  • “Realitas kehidupan Indonesia banyak, tetapi hanya sedikit yang tercover dalam film-film Indonesia.”
  • “Di Indonesia, pemerintah tidak meng-intervensi terhadap film. Sangat berbeda dengan di AS yang merupakan komoditi penting. Istimewa, karena kemudian membawa komoditi-komoditi lain”. Ini kata-kata dari Deddy Mizwar.

  • “Realitas diangkat dalam frame, membutuhkan perjuangan, dalam kata lain itu hal susah.”
  • “Ayat-ayat Cinta menjadi wajah Indonesia pada dunia, it’s just one sample.”
  • “Cinema = bicara teknis, perhatian detail.”
  • “Pembantu ber-make up hanya terjadi di Indonesia.” Ini kata-kata dosen.

Banyak wawasan baru yang menghinggapi pengetahuan saya dari mereka. Kata-kata di atas hanya sebagian yang saya catat di kertas. Saya mohon maaf jika ada kekeliruan, atau ada kata-kata yang missed. Diskusi kemarin mengasyikkan. Jika pembicaranya Kang Abik dan Kang Deddy (itu panggilan Deddy Mizwar yang saya dengar kemarin-nggak salah tuh?) sudah bisa dipastikan tidak kurang dari 60 persen partisipannya kaum hawa, berjilbab! karena memang dalam rangkaian Festival Budaya Islam. Bagaimana jika di situ juga hadir Fahri, apa yang terjadi ya? Hehe…

Sepertinya dua bulan terakhir ini benar-benar merupakan bulan film bagi saya. Dua posting terakhir saya berbicara film. Kini saya mengetahui bahwa stress yang saya alami dalam keterlibatan dalam penggarapan film suatu hal yang wajar, walau hanya film pendek berdurasi 15 menit. Kini saya juga tahu bahwa film itu sangat penting dalam dunia modern saat ini. Dia bisa menjadi penghibur, pemberi inspirasi, pembentuk opini publik, juru dakwah yang efektif, sampai sebagai juru kampanye partai politik mungkin.

Deddy Mizwar juga berujar yang dikutip dari perkataan Quraish Shihab, bahwa film yang islami itu merupakan film yang berbicara mengenai fitrah hidup manusia. Menyadarkan untuk kembali kepada-Nya. Juga, ketika dia berbicara keindahan, menyadarkan kita siapa sebenarnya pencipta semesta ini. Beliau mencontohkan film Laskar Pelangi yang memvisualisasikan keindahan alam Belitong juga bisa diklasifikasikan sebagai film islami.

Thursday, December 18, 2008

I am tired...


Realisasi tidak semudah rencana…
Tidak semua do’a dijawab seratus persen oleh Allah…

Lebih kurang satu bulan otak dan pikiranku sengaja diperas, atau secara tidak sengaja dia memeras dirinya sendiri. Selama satu bulan yang terpikir scene by scene, adegan demi adegan, film, film, dan film….Hupphh…Aku lelah…

Aku seolah melompat dan berdiri pada satu daratan pijakan baru. Di sebuah daratan yang dimana bukan di situ aku berada sebelumnya. Mungkin aku memang dinasibkan dan tentunya sudah tercatat di salah satu lembaran lauhul mahfudzh hidupku. Aku berada pada satu dimensi kehidupan lain. Aku menikmati satu kesenangan baru. Yah, aku membuat ide cerita, aku menulis naskah, dan aku sebagai pemeran utama di film yang aku ciptakan sendiri. Tentu, ada masukkan dan sumbang saran dari member lain, teman-temanku…

Hari ini film itu ditayangkan dalam presentasi kami. Besar ekspektasi yang terbangun, bagi kelompok kami sendiri, dan mungkin bagi teman-teman di kelas, tidak ketinggalan dosen. Realisasi tidak semudah rencana. Tidak semua do’a dijawab seratus persen oleh-Nya. Dia memiliki rencana lain yang pasti terbaik bagi kami. Dia ingin menunjukkan hikmah yang masih tersembunyi. Dia mengatakan sesuatu yang belum kumengerti.

At least, kami sudah bekerja keras. Bukan hanya tenaga, materi, juga emosi tercurah di film ini, satu bulan ini. Aku lelah, aku mau melompat ke daratanku sebelumnya. Tapi kini ku punya daratan pijakan baru. Aku akan berpetualang di atasnya. Dibawah awannya. Di antara padang sabananya yang luas dan indah. Melompat-lompat di taman-tamannya. Bermain riak-riak air di aliran sungainya yang jernih. I find a new world of me…

Saturday, December 13, 2008

FILM

Tidak mudah untuk menyatukan isi kepala…
Tidak mudah untuk meramu isi kepala untuk menghasilkan ramuan pikiran cerdas dan berseni
Dan, tidak mudah untuk saling menghargai…

“Saya kira ini menjadi standard presentasi kita”

Kalimat itu merupakan sebuah apresiasi seni dari dosen, seni drama yang ditampilkan oleh kelompok penyaji. Itu juga merupakan jawaban pertanyaan dalam kepala kami, apa sebenarnya yang dimaksud dosen dengan “kejutkan saya atas presentasi kalian!”. Dalam mindset kami, presentasi ya presentasi, commonly menggunakan bantuan powerpoint atau software-sofware tertentu yang mempunyai fungsi terkait dengan presentasi.

“Debb!!”

Bola imajinasi yang memantul-mantul di kepala tiba-tiba terdiam dengan sendiri. Hung!, no idea. Dengan cara apa bisa perform ‘the shocking/surprising presentation”. Haruskah drama lagi? Jawabannya: pengekor, tidak kreatif, dan tradisional.

Dua hari aku pikirkan, rencana membuat film menemukan titik terang. Akhirnya-selama empat jam-aku berhasil menuliskan script film yang akan menjadi proyek besar kami nantinya. “Love and the Cost Accounting: A Couple of Curse” itu judulnya.

Awalnya, menjengkelkan ketika terciptanya sebuah standar dalam tugas presentasi yang harus kami lakukan. Kami harus bekerja keras. Harus berfikir keras dan kreatif. At the end, ternyata sebuah standar memacu kita untuk bertindak at least commensurate with the standard, or you can do more…

Katakan padaku, apa atau adakah sebenarnya yang membuat sebuah film bernilai seni tinggi? Pertanyaan itu mencuat dariku setelah mengetahui bahwa membuat film itu susah, complicated. Tidak hanya untuk film itu sendiri, tetapi juga untuk para involved human capital. Menyesuaikan waktu luang, saling menghargai isi kepala, bersama-sama meramu resep-resep imajinatif untuk diterapkan di film, saling tenggang rasa, saling pengertian, dan saling seterusnya, respectively, jikalau mau lihat list “saling’ itu, lihatlah pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dari kelas 4 s.d. kelas 6 sekolah dasar.

Mudah-mudahan film kami diapresiasi, dihargai, atau mudah-mudahan it will beyond the standard….